Rabu, 16 Mei 2018

PENDAKIAN PUNCAK JAWA GUNUNG SEMERU 3676 mdpl Via BASECAMP RANU PANI



M A H A M E R U..Gunung tertinggi di Pulau Jawa dan gunung berapi tertinggi ke tiga di Indonesia. Meski selama ini hanya baca catatan perjalanan orang lain, tapi sudah cukup untuk membawa pikiran saya berempati merasakan suasana pendakian disana. Total, kali ini kami berangkat 48 orang dari Basecamp Cantigi Adventure. Ada yang dari Jakarta, Pekalongan dan Semarang.

Rabu, 9 Mei 2018
Pulang kerja saya langsung prepare packing barang-barang yang sudah saya siapkan. Rencana, kereta kami berangkat jam 22.07, start dari Stasiun Semarang Tawang. Dari ungaran kami berangkat 9 orang. Adi, Arif, Wahyu, Tami, Ester, Rizky, Gerry, Fendi dan Saya. Ardian Ceplok bergabung kemudian di Tawang. Kami sampai di Stasiun Semarang Tawang (+ 2 mdpl) sekitar jam 20.30 dan langsung print out tiket. Sambil nunggu kereta, kami ngobrol dan makan malam.

 Stasiun Semarang Tawang

Jam 22.07 tepat, Kereta Matarmaja berangkat merambat dengan tujuan akhir Stasiun Malang baru. Paling males naik kereta ternyata, ndak bisa rokokan. 

Kamis, 10 Mei 2018

Jam 8.00 kami sampai di Stasiun Malang Baru dan langsung dianter angkot ke homestay Javaland 3676 Camp jl. Arjuna 16, lokasinya di sekitaran depan pasar Tumpang. Jam 9.00 kami sampai di homestay kami. Setelah cek alat dan logistik yang masih kurang, kami belanja di Pasar Tumpang sambil sekalian cari sarapan. Dan setelah semua mandi dan Jeep sudah siap, kami berangkat langsung menuju Basecamp Ranu Pani. Beriringan, 4 Jeep perkasa mengantar kami ke Ranu Pani. Jam 14.00 kami sampai di Basecamp Ranu Pani. Terletak di ketinggian 2100 mdpl, menjadikan suhu di sana dingin sejuk. 



 On The Way Ranu Pani

Setelah sampai, ketua rombongan kami Pak Agus mengarahkan kami untuk mengikuti Briefing, yang memang diwajibkan untuk diikuti semua pendaki Gunung Semeru. Setengah jam kami ditatar dengan peraturan-peraturan pendakian. Penting juga untuk keselamatan kita sendiri. Terlebih banyak dari pendaki yang memaksakan diri mendaki sampai puncak tanpa mengetahui bahaya yang kemungkinan dihadapi

 Cantigi Adventure Team

Setelah briefing,  para ketua regu mengurus Simaksi dan mendaftarkan anggota mereka. Kuota pendakian Semeru tiap hari adalah 600 orang. Syarat dan kewajiban apa saja yang harus dilengkapi bisa dicek di situs resmi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru www.bromotenggersemeru.org


Basecamp Ranu Pani

Gerbang Pendakian Gunung Semeru Ranu Pani - Lumajang

Setelah semua beres, jam 16.00, kami start berangkat menuju Pos 1. 
Jalan di awal berupa cor semen hingga sampai di Gapura Selamat Datang, kami dicek kesesuaian pendaki dan tiket simaksi. Langsung mengarah ke Pos 1, Landengan Dowo 2300 mdpl. Jarak dari Ranu Pani ke Landengan dowo adalah 3 km berupa jalan menanjak ringan dengan trek berdebu dan sudah di paving sampai pertengahan sebelum Pos 1. Jam 17.30 kami sampai di Pos 1. Ada bangunan warung warga yang kami manfaatkan untuk beristirahat. Ternyata memang ada warga yang berjualan di Pos-Pos Pendakian sepanjang jalan. Bahkan sampai di atas Kalimati.

Sekitar 10 menit kami istirahat, dan setelah itu kami lanjut mengarah ke Pos 2. Dengan trek yang masih sama. Beberapa kali kami melihat Puncak Abadi Para Dewa, Mahameru dikejauhan. Kalau beruntung kita juga bisa melihat kawah Jonggring Saloka meletup-letup. 
Sekitar satu jam kemudian, 3 km dari pos 1 Landengan Dowo, kami sampai di Pos Watu Rejeng 2350 mdpl, dan beberapa saat kemudian kami sampai di Pos 2. Dengan ditandai bangunan permanen untuk WC. 

Gelap mulai memekat. Tanpa istirahat, hanya persiapan headlight, kami langsung lanjut ke Pos 3. Jalur masih berupa jalan tanah lumayan datar. Dua kali kami melewati Jembatan Cinta yang baru saja diperbarui. 
Karena baru sebulan dibuka kembali per 4 April 2018, pasca 3 bulan penuh ditutup demi perbaikan ekosistem, sepanjang jalur masih relatif bersih dari sampah dan pohon tumbang. Milkyway terlihat sangat jelas karena langit dan cuaca sangat cerah bebas polusi cahaya. Sekitar jam 19.45 kami sudah melewati Pos 3 mengarah Ke Ranu Kumbolo. 


 Camp Area I Ranu Kumbolo

  Camp Area II Ranu Kumbolo

Sekitar jam 20.15, setelah 4,5 km kami tempuh, kami sampai di Ranu Kumbolo, Sebuah danau maar, di ketinggian 2400 mdpl. Sampai di Camp Area I Ranu Kumbolo, kami putuskan untuk langsung mendirikan tenda di belakang batas tenda 10 meter dari bibir danau. Sangat gelap dan dingin suhu malam itu. Karena tangan dan badan gemeter kedinginan, hal yang seharusnya mudah malah jadi sangat susah. Setelah bertarung melawan dingin sampai tenda berdiri, sebenarnya kami sepakat masih mau masak. Tapi karena "sangat dingin" maka kami putuskan untuk langsung tidur. 3 lapis pakaian, kaos kaki ditambah sleeping bag  tidak mampu menahan dinginnya suhu. Tembus dinginya broo... 

Jumat, 11 Mei 2018

Sekitar jam 4 saya bangun untuk buang air besar. Butuh kemauan yang besar karena diluar udara sangat dingin. Beberapa orang di tenda sebelah juga sudah bangun. Ternyata benar, malam itu sangat dingin karena di tenda, rumput dan barang-barang kami diluar tertutup kristal es. Sangat cantik melihat kristal-kristal es berkilau terkena sinar senter. Disisi lain sangat tidak mengenakkan karena suhu yang membekukan kaki dan jari kami.


 Down To Earth

 Morning Freeze

 Es Kepal Mil*
 

Verbena Brasiliensis Vell


Setelah semburat matahari terlihat, Ranu Kumbolo pun mulai terlihat tertutup kabut beku. Kami yang sudah bangun mencoba menikmati butiran es yang memutih di rumput di Camp area 1. Karena di Camp area 1 tidak bisa menikmati sunrise, maka kami langsung masak dan dilanjut prepare packing. Jam 10.00 kami sudah harus start berangkat mengarah ke Cemoro Kandang.

 Tanjakan Cintahh

 View Ranu Kumbolo Camp Area II dan Tanjakan Cintahh


 View Ranu Kumbolo dari Tanjakan Cintaahh


That smile..tells everything!!


Ranu Kumbolo @ 2400 mdpl


 View Ranu Kumbolo dari atas bukit

10 Menit kami berjalan, kami sampai di camp area II Ranu Kumbolo dan Tanjakan Cinta. Kami foto-foto hanya sebentar dan langsung mengarah ke Oro-Oro Ombo menanjak melalui Tanjakan Cinta.

Setengah jam kemudian kami sampai di Oro-oro Ombo 2640 mdpl. Tepat 1 km dari Ranu Kumbolo. Sebuah area savana datar seluas 20 ha yang dipenuhi bunga Verbena Brasiliensis vell. Banyak yang mengira bunga itu adalah bunga Lavender. Bunga ini tumbuh setinggi orang dewasa. Meskipun cantik, bunga berwarna ungu ini ternyata adalah tanaman invasif, tanaman hama bagi tanaman lokal Oro-Oro Ombo. Oleh karena itu saat briefing ditegaskan baik Edelweis dan Verbena TERLARANG untuk dipetik.

 Verbena Brasiliensis Vell

 View Oro-Oro Ombo

Rimba Oro-Oro Ombo

 View Oro-Oro Ombo

Dengan view puncak Mahameru di balik Gunung Kepolo kami menyusuri Oro-Oro Ombo. Berkebalikan dengan semalam, siang ini sangat panas. Setelah 1,5 km kami tempuh, 45 menit dari Oro-Oro Ombo, kami sampai di Pos Cemoro Kandang 2500 mdpl. Karena sangat terik dan pas tengah hari, kami istirahat agak lama disini. Di Pos ini juga banyak warga yang berjualan semangka, pisang, gorengan dan air mineral. 

 View Oro Oro Ombo dari Cemoro Kandang

Sekitar jam 12.15 kami lanjut jalan masuk hutan lagi mengarah ke Pos Jambangan. Trek sepanjang 3 km kembali menanjak tipis dengan vegetasi semak dan pohon-pohon cemara besar bertaburan berry hutan. Setengah jam menyusuri trek ini, diakhiri dengan tanjakan yang cukup lumayan mengantar kami ke Pos Jambangan 2600 mdpl.

 Pos Jambangan

 Otewe KALIMATI

On the way home..

Vegetasi Jambangan berupa pohon cemara, cantigi, edelweis dan semak sabana. Beberapa diantara pohon cemara besar dibebat dengan kain putih, hal ini menurut adat Hindu Tengger - Semeru karena diyakini pohon-pohon tersebut memiliki penunggu sehingga dikeramatkan.

2 km kami tempuh selama setengah jam menyusuri jalur datar dan turunan, kami sampai di Kalimati 2700 mdpl, sesuai target perjalanan kami hari ini. 
Kalimati adalah area datar, sabana dan camp area terakhir vegetasi sebelum Puncak.

Batas aman pendakian Semeru adalah di Kalimati, segala aktivitas pendakian di atas kawasan Kalimati adalah diluar asuransi dan tanggung jawab dari Taman Nasional. 
Karena anggota kami banyak, ketua regu mengarahkan kami mendirikan tenda di belakang bangunan shelter. Dekat dengan jalur ke puncak.

 Plang Pos KALIMATI

 Shelter Kalimati


Sebuah pesan untuk SARMILI..

Dan karena saya sampai duluan, saya bertanggung jawab untuk ngambil air di Sumber Mani. Fendi, Ester dan saya meluncur ke Sumber Mani di arah kanan ke bawah dari jalur utama. 20 Menit, 1 km bolak-balik kami baru sampai di Sumber Mani, dan langsung antri air. 

Saat briefing disampaikan bahwa di Sumber Mani adalah satu-satunya mata air di area itu, sehingga kita harus berbagi. Termasuk dengan binatang dan hal yang tidak kelihatan. Yang digarisbawahi adalah; jangan mengambil air di Sumber Mani dan berjalan sendirian di area Jambangan pada saat malam karena area tersebut adalah jalur perlintasan Macan tutul ( Panthera Pardus ). 

Saat saya sampai di tenda, yang lain sudah mulai masak. Kami makan bersama untuk kemudian tidur, istirahat sampai jam 22.30.
Rencana kami bangun lebih awal untuk prepare summit.   
Sampai saatnya kami bangun, ternyata hanya bertiga dari Ungaran yang summit. Arief, Gerry dan saya. Sesaat sebelum berangkat, kami semua dibangunkan dan dikumpulkan untuk mendoakan kami bertiga summit team.  


Summit Attack

Kami start jam 23.00, mengarah ke Batas Vegetasi. Jalur yang kami lewati adalah jalur baru tepat di belakang shelter Kalimati, sepanjang 1,3 km. Jalur lama, lewat Arcopodo sudah tidak bisa dilalui karena longsor parah. Jalur menuju batas vegetasi berupa tanjakan-tanjakan tanah dan semakin ke atas akan semakin berpasir, berkerikil halus tepatnya. Vegetasi berupa hutan pinus.
Dua jam berikutnya, jam 1.00 tepat, kami sampai di pohon terakhir. Dari sini, jalur ke atas berupa tanjakan khas gunung berapi penuh dengan kerikil kecil dan batuan labil. Berbeda dengan Gunung Merapi, di Gunung Merapi trek berupa pasir. Masuk ke boot  pun tidak akan melukai kaki. Di Semeru, karena kerikil, maka akan sangat menyakiti kaki bila sampai masuk ke boot. Tidak berlebihan kalau diwajibkan menggunakan sepatu boot dan Gaiter saat summit.

Jalur sudah menanjak TANPA BONUS. Tanpa perlindungan dari pohon dan sangat riskan batu longsor. 

Daan benar, malam itu Semeru meminta korban. Dari atas posisi saya saat itu, kira-kira 3 jam sebelum puncak, ada batu diameter sekitar 30 - 40 cm meluncur bebas dari atas di jalur sebelah kiri. Entah karena terinjak pendaki diatas atau karena hal lain. Dan karena sangat ramai pendaki yang summit malam itu, satu orang terkena luncuran batu dengan luka parah di kepala. 

Kabar yang saya dengar; korban langsung dievakuasi ke Basecamp Ranu Pani. Segala aktivitas pendakian di jalur evakuasi Ranu Pani - Kalimati ditutup sampai jam 13,00 siang.



Morning Shilouete..

Satu kelengahan pendaki alay, yang sembrono dan tanpa pertimbangan dalam melangkah berakibat fatal. Padahal saat briefing satu hal yang selalu diulang-ulang oleh Cak Yo, Relawan SAVER Sahabat Volunteer Semeru adalah "JANGAN MENGINJAK, JANGAN MENDUDUKI BATU". Papan peringatan pun sudah sangat jelas ditancap permanen sebelum jalur summit.

Melewati Watu Gede.. setelah total 19.5 km kami tempuh dan berjuang hampir 8 jam summit atack, akhirnya kami sampai di Puncak Mahameru 3676 mdpl, tepat jam 6.30 pagi.

 
 Puncak Mahameru 3676 mdpl

The Top Of Java



 Letupan Jonggring Saloka
 

Suasana Puncak Tertinggi Pulau Jawa sangat ramai. Kami berencana menikmati waktu sebentar saja di Puncak. Foto di Patok Puncak dan foto dengan backround letupan Jonggring Saloka. Kami bertiga akan segera kembali turun ke Kalimati.

Dengan trek krikil pasir, turun ke bawah sangat menyenangkan. Berseluncur di kerikil Semeru. Satu hal yang penting, HATI-HATI BATU. Jangan sampai kesenangan kita berbuah kelalaian yang bisa berakibat fatal bagi orang lain.

 Pesan cinta untuk keluarga

 Breathe the Oxygen!!

Jam 7.15 kami start turun, hanya 2 jam berikutnya kami sudah sampai di Kalimati dengan sambutan dan 'confetti' dari kawan-kawan kami. Dan setelah istirahat dan packing, jam 10.45 kami start turun dari Kalimati. Ketua regu mendahului kami untuk segera mengambil KTP di Basecamp sebelum jam 6 sore. Kami menyusul dibelakangnya, jam 17.15 kami baru sampai di Basecamp Ranu Pani. Malam ini kami semua nginep di Pendopo Basecamp Ranu Pani, sebelum besok hunting sunrise dan trekking ke Bromo.


 Batas Vegetasi

view Bromo dari Mahameru

We're sleepy

Note:

Itinerary Mahameru

Rabu, 9 Mei 2018
20.00 - 08.00 : Stasiun Semarang Tawang - Stasiun Malang Baru

Kamis, 10 Mei 2018
08.00 - 09.30 : Stasiun Malang Baru - Basecamp Tumpang
09.30 - 10.30 : Sarapan dan prepare logistik
10.30 - 12.30 : Start  Pasar Tumpang - Basecamp Ranu Pani
13.00 - 16.00 : Administrasi Pendakian + Briefing
16.00 - 20.00 : Start trekking Ranu Pani - Ranu Kumbolo
20.00 - 05.30 : Camp I di Ranu Kumbolo

Jumat, 11 Mei 2018 
05.30 - 08.00 : Sunrise di Ranu Kumbolo
08.00 - 10.00 : prepare sarapan dan packing
10.00 - 16.00 : Trekking  Rabu Kumbolo - Oro Oro Ombo - Cemoro Kandang
                - Jambangan - Kalimati
16.00 - 23.00 : Camp I di Kalimati

Sabtu, 12 Mei 2018
00.00 - 06.00 : Summit attack

06.00 - 07.00 : Summit time
07.00 - 09.00 : Trekking turun ke Kalimati
09.00 - 10.00 : Sarapan dan Packing
10.00 - 18.00 : Treking Kalimati - Ranu Pani
 
Minggu, 13 Mei

Trekking Bromo - Ungaran

uuuyyyeeaaaaahhhhhhhhhh!!!\m/






 

Senin, 16 April 2018

PUNCAK GUNUNG MERBABU Via Basecamp SUWANTING ( The second Ascent )


Sabtu, 14 April 2016

Perjalanan kali ini adalah buah pencerahan dari Akhjad dan bapak-bapak Sarmili. Sebenernya saya sudah males dari awal, karena sudah merasakan sendiri sengaknya trek Suwanting. Total, untuk saya ini sudah 7 kali naik turun Gunung Merbabu. Saya lebih milih ke Selo, jalur yang belum pernah kami jamah. Tapi okelah yang penting ada pemanasan kaki untuk jadwal pendakian akbar bulan depan.

Setelah seminggu planning, akhirnya kami berangkat 6 orang, Ajeng, Anggi, Akhjad, mas Hari, saya dan Banu. Temen baru dari Magelang. Seperti kebiasaan, jadwal molor jauh dari fix. Rencana jam 9.00 berangkat, ini kita baru jam 11.30 start dari Sarmili Basecamp. Belum lagi beberapa barang belum kebeli dan yang lain gak ada dicari direntalan. Untung Banu sudah siap nutup kekurangan.

Kita sampai Basecamp Suwanting jam 15.30 langsung nyari simaksi. Ber-enam plus parkir kita harus bayar Rp. 131.000. Ndak tau bener apa ndak yang jaga ngitungnya. Bayaaaarrr....jangan kaya orang susah!!! 
Cuaca dan suasana aman, cerah tapi sedikit berkabut. Dan setelah cari rumah untuk Basecamp kami sekalian parkir mobil, kita baru start jalan jam 16.15.

Sekitar jam 16.45 kita sampai di ketinggian 1520 mdpl, tepat di Warung Kopi Pojok dan Pos Ojeg, batas hutan pinus dengan kebun penduduk yang ditandai oleh Gapura Taman Nasional Gunung Merbabu. 
Jadi teringat, hampir setaun kemarin saya, Uchok dan Akhjad sukses summit Kenteng Songo via jalur ini. Sebentar kemudian kami sampai di Pos I Lembah Lempong. Perjalanan dari pos I Lembah Lempong sampai Pos II Shelter Bendera kami tempuh selama 2 jam 45 menit. Pas sampai di Pos II pas Adzan Isyak samar terdengar berkumandang bersautan di pemukiman bawah. 

Dari pos I sampai pos II, kita harus melewati beberapa check point; Lembah Gosong, Lembah Cemoro, Lembah Ngrijan, Lembah Mitoh. Vegetasi berupa hutan pinus dan hutan semak dengan trek yang masih malu-malu dan sedikit galak. Selain di Pos Air, di sekitar Lembah Cemoro dan diatas pos II masih ada Saluran Air yang cukup bersih seandainya logistik kita terbatas. 

Setelah sekitar setengah jam kami istirahat di pos II, kami lanjut jalan menuju pos III Ndampo Awang. Sesuai rencana, kami akan ngecamp di Pos III. Target kami jam 22.00 sudah sampai di Pos III. Kebetulan malam itu cerah meski sedikit berkabut. Bintang samar-samar kelihatan utuh. 


View Sebelum Puncak

Pos II ke Pos III, bagian terberat dari trek Suwanting ini, kami tempuh sekitar 3 setengah jam. Trek horor menanjak memaksa kami melawan ngantuk dan berat carrier. Sepanjang jalur ke Pos III, kita juga harus melewati beberapa check point; Lembah Manding, Uluk Salam dan Pos Air ( batas vegetasi hutan dengan Sabana ). Kami sampai di Pos III sekitar jam 22.30. Langsung cari area dan pasang tenda. Kami buru-buru langsung makan malam dengan menu nasi lele goreng made by Ajeng's mom. Dan langsung kami bobok.

Minggu 15 April 2018

Serendipity

Jam 5.30 kami baru bangun. Saya seperti biasa dapat panggilan alam. Sekembali dari Open Air Toilet, temen-temen sudah prepare siap Summit. Dan tepat jam 6.15 kami start mengarah ke Puncak.
Dari Pos III sampai Puncak, melewati jalur membelah Sabana kami tempuh sekitar 2 jam. Sebelum sampai Puncak, kita terlebih dulu harus melewati Sabana I, Sabana II, Sabana III, Puncak Suwanting, Simpangan Jalur Grendens. Disepanjang trek ini kecantikan Merbabu dan Merapi seolah jadi bonus dan obat capek semalam.



Macaca fascicularis; Paterfamilias..


Setengah jam dari Simpang Grenden, kami sampai di Puncak Triangulasi 3142 mdpl. Hanya 5 menit ke depan kami sampai di Puncak Kenteng Songo, tepat jam 08.15, yang penuh dengan pendaki. Camp area Selo pun seperti biasanya terlihat sangat meriah dengan ramainya warna-warni tenda pendaki. Cari lokasi untuk sarapan, dengan menu masih sama mantapnya: sambal lele dan teh panas + red Marlb*ro.


seeking a great perhaps!!

Satu jam kami santai nikmatin suasana puncak ditemani beberapa Monyet, Sang Tuan Rumah Puncak. Perut kenyang, istirahat sambil nunggu kesempatan foto-foto. Sampai sekitar jam 9, kami turun ke Pos III. Dengan sepanjang jalur turun masing-masing kami sibuk nyari spot foto, yang memang sangat istimewa. Sampai sekitar jam 10.45 kami baru sampai di Pos III dan langsung bongkar tenda, packing dan segera turun.


Camp Area nDampo Awang 

Selama kami packing,  hujan gerimis sudah mulai turun. Takut semakin deras, kami bergegas turun. Dari Pos III sampai Pos I kami tempuh selama hampir 4 jam. Sempet mandi hujan juga di Pos I - Pos Ojeg. Kami berteduh di Pos Ojeg, sambil nunggu hujan reda. Setelah sekitar 15 menit, hujan mulai reda. Kami putuskan untuk naik ojeg ke Basecamp. Biaya per kepala Rp. 10.000 sampai Basecamp.

Di Basecamp kami bersih-bersih, pesen makan siang, kopi dan teh manis. Setelah kabut reda dan cek perlengkapan aman, kami langsung kembali ke Ungaran via Magelang. Bonus hari itu, macet total jalur Magelang - Semarang karena arus balik long weekend dan kebetulan hari itu PSIS tanding. Bersyukur PSIS Semarang menang 4-1 vs PSMS Medan. Sipp lah, meski kami harus muter via Kopeng. Sampai jam 19.45 kami baru sampai kembali di Basecamp Sarmili.

Photo Gallery:






















@dhanursubuyar



* Masih loading foto kiriman !!!

Rabu, 21 Maret 2018

CAMP AREA KEBUN TEH PROMASAN - GUNUNG UNGARAN VIA BASECAMP MAWAR


Promasan Tea Garden 

Baru minggu kemarin saya naik ke Gunung Ungaran via basecamp Mawar Jimbaran. Memang sebenarnya rencana dari awal hanya pengin survey camp area Promasan, Sambil jaga tenda seandainya temen-temen ingin summit. 
Dan iya..!! Untuk kalian di sekitaran Jawa Tengah yang kecanduan udara segar dan pengen nyari suasana alam, Kebun Teh Promasan bisa jadi satu pilihan area kemping yang cukup sempurna untuk sejenak menghilang dari sumpeknya rutinitas hari-hari. Dijamin bebas polusi udara dan polusi pulsa. Buat saya boleh lah tempat ini, Recommended banget..
Camp Area Kebun Teh Promasan ini sebenernya sudah dari dulu dibuka dan mungkin sudah banyak dikenal di sekitar Semarang, karena area ini berada di jalur pendakian reguler Gunung Ungaran via basecamp Mawar. Setiap pendaki pasti lewat sini, bahkan dulu, kalau saya sudah ngap dan males lanjut ke puncak, biasanya ngecamp di area kebun teh sambil nungguin temen-temen lain summit. Masak-masak dan bikin green tea langsung petik pohon..

Setau saya selain via basecamp  Mawar, ada jalur lain untuk sampai ke sini; via Nglimut, Boja. Ada juga jalur khusus untuk distribusi hasil teh  dan kopi via Gebugan, Bergas. Bahkan untuk jalur Boja dan Gebugan ini bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor sampai kebun teh. Kebetulan juga kemarin kami berpapasan dengan rombongan trabas trail yang ambil jalur naik dari Boja dan turun via Gebugan.

Saat ini, saya juga baru tau kapan kemarin, ada retribusi untuk masuk area Promasan. Untuk Pendaki yang menuju ke puncak Ungaran via Promasan otomatis juga akan dikenakan retribusi sebesar @ 2500 di Pos Gerbang Promasan. Dan kemungkinan nanti kita akan ditanya mau ngecamp atau tidak? Kalau ngecamp kita harus bayar lagi @15000 per tenda per malam. 
Untuk informasi saja, di basecamp Mawar kita juga harus bayar @ 5000, khusus untuk masuk basecamp dan camp area MawarKebetulan kemarin saya naik ke Mawar sekitar jam 11 malem jadi bebas biaya masuk gerbang Umbul Sidomukti dan Pondok Kopi. hihihi..!!

Dengan tiket itu, kita dapetin fasilitas unlimited Kolam Renang, main-main di tree house. Kalau mau lebih jauh jalannya, kita bisa nikmatin trekking dan kemping ke Goa Jepang, Desa Promasan, Candi Promasan dan area kebun teh. Mungkin yang menjadi daya tarik utama adalah suasana kebun teh, dan trekking ke Goa Jepang, karena kolam renang dan fasilitas lain masih terkesan terbatas seadanya. 
Selain tiket standar, ada juga kok paket Hill Walking dan Jungle Trekking, dengan Guide. Porter juga selalu siap kalau dibutuhkan. Jadi tenang aja, buat kalian yang cuma mau tau beres. Dan untuk pedagang, memang ada beberapa warung yang kadang buka. Itupun dengan stok yang seadanya. Sebaiknya kita persiapkan logistik dengan baik.







enggak mau pulang, maunya di.....

Untuk akses ke camp area Promasan, dari basecamp Mawar kita bisa mengikuti jalur pendakian Gunung Ungaran melewati hutan pinus dan Pos 1. Sampai di Pos 2, ada persimpangan, yang lurus keatas mengarah ke Puncak. Kita ambil jalur yang ke kanan. Sekitar 30 - 40 menit jalan normal kita sudah sampai di Pos Registrasi Promasan - Sikendil. Total waktu dari basecamp Mawar sekitar 1,5 jam - 2 jam.




Sampai di loket registrasi kita disambut dengan Kolam renang di sebelah kanan dibelakang pos registrasi. Ada beberapa bangunan rumah di area ini. Mushola, warung dan beberapa tree house. Sedikit naik ke atas, di depan tree house ada bangunan yang dipakai sebagai basecamp Promasan. Cukup adem suasana di sini, dengan rimbun pepohonan dan tanaman Kopi. Naik lagi kita sampai di simpangan, ditandai dengan papan penunjuk arah; ke kanan turun ke arah jalur Gebugan dan ke kiri naik mengarah ke kebun teh, Desa Promasan dan Puncak Ungaran.























                   I came, i saw and i loved..


Lanjut jalan naik, kita akan melewati jalan berbatu selebar mobil. Tidak begitu ngetrek kok, sambil melewati kebun kopi. Sekitar 30 menit kita akan sampai di area Kebun Teh. Udara seger adem udah pasti..karena kebun teh ini berada di ketinggian sekitar 1500 mdpl...Hijau seger terhampar, menyegarkan mata yang ngilu. Banyak spot dengan view yang menawan. Terlebih kabut yang sering turun justru menambah osemm pemandangan. Buat yang lagi patah hati, dijamin pasti lupa kalau punya hati..
Di kebun teh ini ada camp area yang cukup luas. Jangan lupa registrasi jhon, soalnya pasti ada nanti dicek sama petugas jaganya. Dan setau saya pasti ada denda untuk tenda ilegal.



Puncak ungaran di kejauhan...

Kalau kita lanjut trekking di kebun teh ini juga nantinya kita ketemu simpangan, yang ke kiri naik mengarah ke Puncak Ungaran dan yang turun ke bawah mengarah ke Desa Promasan, Goa Jepang dan jalur Medini Boja. Kalau mau summit, tinggal ngikutin jalur ke atas mengarah ke Pos 4. Ndak bakal nyasar kok, karena jalan cuma satu jalur tanpa simpangan, dan lagi petunjuk jalan sudah banyak terpasang.

Kebetulan seminggu kemarin saya cuma sekedar lewat disana, jadi untuk review,  harga sewa peralatan dan catatan perjalanan ke Goa Jepang, Desa Promasan dan Candi Promasan pasti akan di update kok, kapan kalau ada kesempatan kemah disana. Aaamminn..



k r e m b i z z z . .


Catetan pribadi biar besok kapan lancar:

Gerbang Sidomukti   : 5000 / motor
Gerbang pondok kopi : 4000 / Motor -- Nebeng temen + malem aja sih biar gratis

Basecamp Mawar      : 5000 / kepala
Parkir motor        : 2000 / motor
Gerbang Promasan    : 2500 / kepala


Artikel ini dapat juga dibaca di detik.com dengan judul Selamat Pagi Dari Kebun Teh Ungaran.

Senin, 19 Maret 2018

GUNUNG UNGARAN - JALUR BARU PENDAKIAN VIA BASECAMP MAWAR



Majestic view from the summit!!

Tiga bulan setelah Badai Mesra Sindoro, saya dan Akhjad, berencana naik gunung lagi. Apalagi Akhjad, terakhir dia naik kemarin pas November. Penantian akan cuaca yang bersahabat membuat kami sangat merindukan suasana hutan, dan bukannya hujan.. 
Sebenernya saya pribadi hanya pengin jalan-jalan ke Promasan. Survei biaya masuk dan sewa lokasi untuk kemah, karena besok kapan saat cuaca mendukung, saya berencana mengajak istri saya ngecamp di Promasan - Sikendil. 

Rencana awal selain dengan Akhjad yang ngajakin Tirta dan Dewi temennya, saya juga ngajakin mas Hari, Anggi dan Ester. Mas Hari kayaknya pengin tapi karena istrinya sakit jadi terpaksa batal. Apalagi awalnya mas Hari rencananya mau ngajakin anaknya, Kevin. Anggi,  as always,  ngeles takut basah kehujanan. Dan Ester, karena hal yang "sangat teknikal" harus batal di waktu terakhir sebelum otewe.

Sabtu, 17 Maret 2018

Pagi-pagi, kami; saya dan Akhjad sudah siap hunting logistik dan sewa perlengkapan. Karena memang hari itu hari libur nasional, SAKA NEW YEAR, NYEPI DAY!!
Tapi baru jam 12an kami mulai belanja. Di jalan kami kehujanan, tanpa sempet bawa mantol. Telat makan siang, dan lemes. Kami baru sampai di rumah sekitar jam 15.30 dan itupun ndak dapet yang kami cari, semua rental outdoor kosong. Basah, lapar, lemes..kami langsung packing logistik. Sambil ngobrol dan sharing sampai akhirnya kami mandi dan siap berangkat. Rencananya, kami berangkat jam 19.00, apalagi kebetulan hujan dari siang juga belum reda.. Jam 20.30 Ester tiba merapat dan Dewi dateng ke Basecamp Sarmili. 

Ngobrol dan packing lagi,  ndak terasa waktu sudah jam 21.30, hujan juga sudah mulai reda. Sekitar jam 22.00 kami berangkat. Saya, Akhjad dan Dewi, bertiga. Ester suddenly canceled for a technical reason. Kebetulan Dewi dari Purworejo sendirian bawa mobil. W.O.W. bangeedh..
Setengah jam kemudian kami sudah sampai di Jimbaran. Kami mampir beli nasi dan lauk untuk sarapan pagi besok. Cussss.. kami sampai di Basecamp Mawar yang ternyata penuh dengan adek-adek PMMI yang lagi kemah disana. Kami langsung ke loket dengan biaya Simaksi @ 5000. Basecamp penuh, jadi kita cuma packing sebentar di luar basecamp dan langsung berangkat.

Puji Tuhan,  langit perlahan mulai cerah, kabut dan awan mulai membuka jalan. Jam 00.05 tepat, kami Start. Trek menuju Pos 1 Masih sangat bersahabat meski agak becek. Dengan view emejing gemerlap lampu kota dibawah. Kami berangkat bareng satu rombongan, jadinya agak pelan karena harus berbagi jalan. Sekitar 40 menit kami sudah sampai di Pos 1. Lokasinya persis di area instalasi air bersih warga. Sudah ada juga pondokan gubug untuk berteduh. Kami istirahat sekitar 5 menit sambil lepas jaket.

Kami lanjut jalan dengan cuaca bersih, sebentar jalan dari Pos 1 kita akan melewati jalan tepat ditepian jurang. Hati-hati broo, karena agak becek bekas hujan. Lumayan jauh, sekitar 30 menit kita menyusuri punggungan jurang ini dengan trek datar. Terus berjalan sampai ketemu belokan tepat di sungai yang biasanya banjir saat hujan dan kering saat kemarau. Trek mulai menanjak sampai sekitar satu jam kemudian kami sampai di Pos 2. Kami sempet bingung karena papan penunjuk terbagi 2 arah; Mengarah ke kanan agak datar ke Promasan dan lurus menanjak ke atas ke Pos 4 dan Puncak tanpa melewati Pos tiga ( kebun teh ). 
Sepakat..kami bertiga sepakat ngekor rombongan depan nyobain jalur baru ini. Sambil jalan kami menyadari ternyata mungkin jalur ini dibuat karena jalur via Promasan muter terlalu jauh. Jadi yang dari basecamp Mawar - Puncak bisa melewati jalur baru ini, nge-trek langsung tanpa lewat Promasan. Sementara yang mau ngecamp di Promasan atau kebun teh bisa ambil jalur ke kanan.

Kami jalan pelan sambil menikmati cuaca malam yang sangat segar. Beberapa kali kami break  karena kondisi jalur baru ini. Jalan yang belum sempurna "halus" karena relatif masih baru, dengan halangan akar pohon yang mungkin akan nyangkut apabila kita sembarangan begajulan. Tanjakan yang lumayan curam juga beberapa kali kami lalui. Dewi, dengan carrier 65 liter masih bisa mengimbangi. Tapi karena kami berangkat terlalu malam dan Dewi malah harus berangkat dari Purworejo, beberapa kali kami harus break. Bukan break karena kelelahan tapi lebih karena kantuk. Bahkan kita sempet tidur di pinggir jalan sekitar 10 menit. Beruntung kita sudah leading agak jauh, kami baru terbangun karena memang ada rombongan belakang yang nyusul. 
Jalur ini tidak melewati Pos 3 dan kebun teh Promasan, jadi ujung jalur baru ini nantinya akan ketemu jalur lama tepat di Pos 4. Jam 3.15 kami sampai di Pos 4. Sama dengan pos sebelumnya, sudah ada pondokan gubug yang bisa untuk berteduh. Tanpa istirahat lagi, karena memang juga penuh di Pos 4, kami langsung mengarah summit.


Sunrise silhouette..

Tanjakan yang kami temui lebih sadis dan menantang mental. Terlebih jalan yang masih licin seakan jadi masalah lain bagi kami dari awal pendakian. Badan sudah mulai terasa lemes, sakit dan pegel. Tapi kami tetep jalan pelan. Kami percaya, Every summit is within reach if we keep walking..!!
Berusaha tetep jalan dan positive thinking, yakin kuat, tapi tenaga semakin habis terkuras. Akhirnya Akhjad lanjut duluan ke atas untuk cari lokasi ngecamp. Saya dibelakang nemenin Dewi(*Dewi yang nemenin saya ding...hihihi!!). Sekitar jam 4 saya dan Dewi baru sampai di Camp Area di punggungan bukit terakhir sebelum puncak. Tapi karena disitu sudah penuh dan Akhjad sudah terlanjur naik lebih ke atas, akhirnya saya dan Dewi turun kembali. Kebetulan tadi pas break  saya sempet lihat ada lokasi sempit tapi cukup bagus view nya dan yang penting cukup untuk tenda kami.

Minggu, 18 Maret 2018


في انتظار أن ترتفع الشمس


 Et Hoc Modo Frui Vita


Langit sudah mulai merona, memerah, tanda matahari sudah bersiap menyembuhkan segala luka hati..
Tenda pun sudah siap, tapi zonkkk...!! Ternyata botol gas ada di carrier saya tapi kompor ada di Akhjad. Terpaksa saya naik mengarah ke Akhjad. Dan setelah 10 menit jalan, saya ketemu Akhjad yang memang sudah nungguin. Akhirnya kami turun ke Dewi dan sama-sama masak untuk sarapan disana. Sunrise menemani sarapan dan pagi kami. 


Fulltime Vacationers!!

..Novum Diem Novam Spem..


Kebetulan area kami mendirikan tenda "sempurna" dengan background bukit-bukit dan puncak lain di Gunung Ungaran. Jauh lebih instagenic dari pada area puncak.
Karena itu juga, kami jadi males untuk summit meski hanya berjarak sekitar 10 - 15 menit jalan. Saya dan Dewi sepakat tidak lanjut ke puncak, cukup biar diwakili Akhjad yang summit sendiri..hihihi..

Setelah sarapan dan foto-foto puas, Akhjad kembali ke tendanya untuk packing dan summit. Sementara saya dan Dewi, karena memang ngantuk sejak semalem akibat berangkat kemaleman, lebih memilih untuk tidur. Dewi di dalam tenda dan saya tiduran di matras sambil ngerasain hangatnya pelukan matahari pagi..


VENI, VIDI, AMAVI!!!

Sampai.. mules tiba-tiba datang langsung mau erupsi. Tidak seperti biasanya. Pannic Attack!! Ya iyalah, karena sebagian besar area di sekitar berupa sabana tanpa pohon pelindung. Langsung bergegas cari tempat, dan Puji Tuhan ada saja tempatnya..meskipun bertaruh nyawa di tebing dan mengharuskan untuk menggunakan tiga titik tumpu..!!Masih ketawa sendiri kalau saya ingat posisinya!!



our smile tells everything..

Sekitar jam 8.00 kami packing dan bergegas turun karena kabut dan awan gelap sudah mulai bergerak membual menelan puncak. Bayangan turun bisa lebih cepat dari naik semalam akhirnya kandas karena kondisi trek yang licin. Beberapa kali Akhjad terpeleset. Kami rencana turun lewat jalur lama via Promasan. 

Setelah sekitar satu setengah jam, melewati Pos 4, kami baru sampai di Pos 3 Kebun Teh Promasan. Cukup ramai dengan adanya rombongan war-wer trabas. Kami istirahat sekitar setengah jam sambil ngemil dan foto-foto. Setelah puas foto-foto, kami lanjut jalan karena rokok kami terlanjur habis. Feeling, di Kolam Renang Sikendil ada yang jualan. Setengah jam kami menyusuri kebun kopi Sikendil dengan jalan selebar mobil dan trek rata berbatu. 

Sampai di gerbang Promasan, ternyata benar, ada warung yang buka!! Meski tidak lengkap tapi yang penting: kami dapet rokok!!. Ngobrol-ngobrol sambil nanya-nanya kami dapet info; Untuk masuk ke Promasan (dari basecamp Mawar atau Via Jalur Gebugan), pengunjung harus membayar @2500 untuk bisa menikmati fasilitas kolam renang, foto-foto di Tree House, keliling kebun kopi dan kebun teh. Dan khusus kalau pengujung mau ngecamp maka pengunjung akan ditarik biaya sebesar 15.000 per tenda per malam. Jadi untuk pendaki yang turun lewat Promasan, cukup hanya membayar di loket basecamp Mawar. CMIIW..!!


 Promasan Tea Gardens..


Place where i feel most alive..

Mendung semakin dekat, puncak Ungaran pun tertutup kabut awan tebal. Kami bergegas turun ke Pos 2, beberapa kali alam becanda dengan sebentar hujan sebentar reda. Tapi karena pohon-pohon besar yang cukup rapat, kami masih terlindung dari hujan. Hingga akhirnya kami sampai di Pos 2 Sekitar jam 11.00 tepat bersamaan dengan datangnya hujan deras. Karena sangat deras, sekitar 20 menit kami terpaksa nunggu reda. Tapi akhirnya kami putuskan untuk lanjut jalan turun pakai ponco untuk sesegera mungkin sampai Mawar.


The mountains are in me..

Dari Pos 2 kami start dengan hujan mulai sedikit reda, pelan-pelan karena jalan sangat licin dan bhecheck kami segera sampai di Pos 1 yang saat itu juga penuh orang berteduh. Terpaksa lanjut jalan dengan kondisi hujan ringan, sekitar jam 12an kami sampai di Basecamp Mawar. Langsung kami mengarah ke Toilet, bersih-bersih dan langsung pulang. Sepanjang jalan dari Mawar sampai Bergas hujan masih mengiring kami di jalan. 

Karena nyari warung makan ndak ada yang cocok, akhirnya kami langsung pulang ke Basecamp Sarmili. Jam 12.45 kami sampai di rumah Basecamp Sarmili yang ternyata kering, ndak ada hujan sama sekali sampai sore..

Langsung Akhjad masak dan kami makan bersama sebelum Dewi kembali ke Purworejo. Rencana bulan April depan kami, Keluarga Besar Perumahan Sarmili, akan mengadakan Pendakian Massal ke Merbabu..HA HA HA!!!