Jumat, 21 Oktober 2016

GUNUNG SLAMET via BAMBANGAN - CATATAN PERJALANAN SARMILI MOUNTAIN MADNESS

MT SLAMET 3428 mdpl



LONG WEEKEND 5 – 8 Mei 2016, menjadi hari yang kami tunggu selama hampir 3 bulan sejak pendakian terakhir kami, SARMILI, ke Gunung Merbabu. Sejak kembali dari Merbabu memang kami sudah punya rencana untuk menghabiskan waktu libur yang panjang untuk kembali mendaki gunung yang belum pernah kami daki. Pada waktu itu, Gunung Semeru, Gunung Lawu dan Gunung Slamet yang menjadi opsi bagi kami. Sempat terpikirkan untuk mencoba ke Semeru walaupun mungkin tidak sampai ke puncak, tetapi pada waktu itu yang menjadi bayangan kami adalah cukup bila kami bisa ngecamp di Ranu Kumbolo. Saya sendiri karena terlalu bersemangat, bahkan sudah sempat coba untuk booking via Online di situs resminya TNBTS. Dan sialnya meski saat itu kuota pendaki tanggal 5 – 8 Mei masih kosong, tapi syarat yang rumit termasuk materai dan surat keterangan sehat dari dokter atau puskesmas sudah cukup bikin saya ngeper?!?Ditambah  waktu libur yang hanya 4 hari dan Senin kami harus kembali bekerja, akhirnya impian ke Semeru pun kami tunda.
Lawu dan Slamet yang akhirnya menjadi pertimbangan kami, dan setelah beberapa kali telfon temen-temen Jogja dan mereka yang pernah naik ke sana akhirnya kami putuskan, kami akan ke Mt Slamet.
Pertimbangan utamanya adalah 4 hari waktu kami, terlalu sayang kalau kami hanya ke Lawu, yang mungkin hanya perlu 2 hari.

Tidak banyak persiapan yang kami lakukan karena kesibukan kerja kami.. Pada awalnya, rencana kami berangkat maik Bus via Purwokerto, dengan pemikiran karena jarak yang lumayan jauh ( sekitar 200 km dari ungaran ), akan tetapi dengan saran dari teman-teman yang pernah ke Slamet, akan lebih mudah semuanya kalau kami bawa mobil sendiri.
Dan benar, Saya akhirnya berangkat hanya berdua dengan Anggi Mitun, yang memang dari awal ngebet pengen ke Slamet. Teman kami Akhjad tidak bisa ikut karena anaknya datang dari Purworejo, sedangkan Kelik lebih menikmati bisnis barunya Jualan Fried Chicken. Saat itu teman saya Adi dari Mijen juga sebenarnya berangkat hari itu juga, pernah saya tawarkan ke Anggi untuk bisa berangkat bareng, tapi karena saya malah ngerasa tidak nyaman akhirnya kami berangkat masing-masing, saya dan Anggi,  Adi dan teamnya berangkat sendiri.

Setelah semalaman packing dan bingung nyari Carrier sewaan, yang kebetulan semua rental di ungaran, 7 tempat  kosong semua, akhirnya Anggi dapat Carrier di daerah Tembalang, sementara saya belanja logistik.

Hari itu Rabu 4 Mei 2016, saya masih di rutinitas kerja seperti biasa. Semalam kami sepakati kalau hari itu saya yang masih harus kerja , akan ngambil cuti setengah hari, akan tetapi karena tugas saya masih banyak maka saya sampaikan ke Anggi untuk nunggu saya pulang kerja seperti biasa.
Sekitar jam 5 Sore kami siap berangkat, dan karena Ibu mertua Anggi sakit maka Ajeng dan Alisha sekalian di pulangkan ke Magelang. Kami berangkat dengan kondisi jalan lumayan macet, dan sampai di Magelang sekitar jam 8 malam. Setelah nganter keluarga, pamit ibu, kami berangkat jam 9.30 malam via Secang - Womosobo - Purbalingga. Sekitar jam 10.30 malam kami sampai di Alun-alun Temanggung, istirahat sebentar sambil beli rokok dan minuman yang masih kurang untuk bekal. Kami juga beli nasi + ayam goreng yang rencananya kami makan besok pagi start pendakian. Kami lanjut jalan lagi, dan berkat W*ZE  aplikasi GPS kami bisa sampai di Dusun Bambangan, kecamatan Kutabuwana, kabupaten Purbalingga sekitar jam 1  malam. Setelah proses simaksi dengan biaya 15 ribu per orang kami beli mie rebus dan kopi di depan Basecamp sambil nanya-nanya ke bapak penjualnya tentang Gunung Slamet. Setelah selesai makan dan simaksi, dan karena Basecamp saat itu penuh maka kami putuskan untuk tidur di mobil.

tiket pendakian

Pagi hari 5 Mei 2016, jam 7.30, kami sudah bangun,  siap untuk sarapan dan packing. Sekitar jam 8 kami sudah siap meluncur ke Gerbang Pendakian, sebelumnya kami check in lagi di Basecamp Pos Pemuda untuk ninggal KTP dan minta peta jalur pendakian. 

Jalur Pendakian, *Sumber : Google

Karena informasi dari petugas Basarnas di pos V ada mata air, maka kami putuskan 2 botol air mineral kami buang isinya untuk nanti diisi di pos V, sekalian biar lebih enteng tas kami.

Gerbang Pendakian Bambangan

Jam 8 kami start melewati Gerbang pendakian belok ke kanan menyusuri ladang sayuran penduduk..saat itu masih agak sepi di Pos Pemuda ( 1500 mdpl ), kata orang jalur dari Pondok Pemuda ke Pos I adalah jalur paling panjang, bahkan katanya setelah lewat Pos I 60% perjalanan ke puncak sudah terlewati. Sepanjang jalur ini didominasi oleh tanaman sayur penduduk, kentang dan sawi. Setelah sekitar satu jam perjalanan kami mulai masuk ke hutan cemara, pinus dan damar. Kondisi jalan masih berupa tanjakan ringan dan banyak bonus meski tipis-tipis. Akan tetapi jalur ini tidak terlindung dari matahari, beruntung saat itu matahari tidak terlalu terik.  Setelah melewati hutan pinus, kami beristirahat sejenak di sebuah lapangan yang cukup luas di sebelah kiri jalur pendakian. Karena beban Carrier masih full jadi saya harus melepas celana panjang yang udah basah keringat, Setelah beberapa tanjakan kami lalui sekitar jam 12 kami sampai di Pos I Gemirung ( 1937 mdpl ).

Di pos I ini penuh sesak dengan pendaki ( yang pada akhirnya kami tau saat turun ke basecamp,  ternyata kata petugas Basarnas di Pondok Pemuda, jumlah pendaki di long weekend kali ini lebih dari 3000 orang..wohhhhhh!! ).

Selain penuh sesak dengan pendaki, di Pos I ( dan sampai pos VII, kecuali pos IV ada penjual makanan di tiap pos pendakian ), saya masih ada uang 20 ribu, maka kami beli buah semangka dan jeruk @ 3000 rupiah. Di pos ini kami juga ketemu dengan 2 orang pendaki dari solo, kalau tidak salah namanya Rahmat dan Nur.  Setelah ngobrol kami coba menawarkan untuk besok pulang bisa bareng sama-sama kami, karena mobil juga cuma kami berdua. Mereka setuju dengan catatan kalau kita ketemu di Basecamp.
Sekitar jam 1.30, dengan cuaca sedikit mendung, ditambah dengan hutan yang cukup lebat..perjalanan dari pos I sampai pos VII menjadi lebih dingiin..
Sekitar satu jam kami berjalan, kami istirahat sambil menghabiskan sebatang rokok di sebuah area bonusan yang ternyata jarak dari situ ke pos II hanya tinggal 10 menit..

kami sampai di Pos 2, PONDOK WALANG ( 2256 mdpl ) yang tidak kalah ramainya dengan Pos I. Kami istirahat sekitar 15 menit, sementara kami istirahat, pendaki yang juga mau naik tidak ada putusnya.
Sekitar jam 1:30 siang kami start lagi ke Pos III. Jalan dari Pos II ke Pos III didominasi oleh tumbuhan Arbei Hutan yang cukup lebat, bahkan sampai menutupi beberapa spot jalur pendakian. Selain Arbei Hutan ada tumbuhan yang kalau orang Ungaran menyebutnya Lateng ( jelatang ). Tumbuhan ini daunnya berbulu lembut, dan kalau terkena kulit maka akan terasa panas dan gatal. Parahnya Lateng ini tumbuh hampir di sepanjang jalur menuju pos III, alhasil karena saya pakai celana pendek maka seluruh kaki saya terasa gatal pedihh.. alamakkkk!!! Ditambah dengan ramainya pendakian hari itu yang memaksa kami antre untuk naik. Macet pemirsaah..
Sementara kami nunggu macet nya reda, kami putuskan untuk makan siang dulu karena waktu juga udah lumayan sore, jam 2. Sementara kami makan, dua orang dari solo, Rahmat dan Nur menyusul kami dan sekalian mereka istirahat. Setelah kami selesai makan, kami langsung lanjut jalan lagi, kali ini Rahmat dan Nur berangkat duluan ke pos III. Dan bukannya tambah tenaga, habis makan malah perut yang melilit.

Break Makan

Pelan pelan sambil perut mulai terasa enakan, dan  setelah sekitar satu jam berjalan, jam 3 kami sampai di pos III, PONDOK CEMARA ( 2510 mdpl ). Kami tidak berhenti di Pos ini tapi langsung lanjut ke Pos IV. Pos III sendiri areanya cukup luas ditambah dengan adanya penjual makanan dan minuman. Meski tidak seramai pos II tetapi cukup banyak juga pendaki yang istirahat bahkan ngecamp di Pos ini.

Sekitar jam 4 sore kami sampai di Pos IV, Pos SAMARANTU ( 2688 mdpl ), yang adalah Pos legendaris, terkenal horor. bahkan di Peta yang kami dapat, tertulis peringatan untuk tidak mendirikan tenda disini.  Tapi ternyata saat kami sampai, Pos IV cukup ramai dengan beberapa tenda berdiri. Mungkin, mereka yang ngecamp disini sudah tau kondisi di Pos V sampai Pos VIII tidak ada cukup space buat ngecamp.
Setelah sekitar 10 menit kami istirahat, kami lanjut lagi jalan ke Pos V, dan jalan juga masih terus nanjak tanpa bonus..:)

Pos IV Samarantu

Tertolong dengan cuaca yang mendukung maka sekitar jam 5 sore kami sampai di POS V, SAMYANG RANGKAH ( 2795 mdpl ). Di Pos V ini ada sebuah bedeng dari seng untuk istirahat para pendaki, tapi karena long weekend dan peak season pendakian maka banyak warga setempat yang berjualan di masing masing Pos Pendakian, memanfaatkan Shelter dan bedeng yang ada. Disini juga menurut info ada mata air. Dari Pos ini kami ambil jalur yang kekiri kearah bawah, sekitar 10 menit kami sampai di mata air, meski harus pelan-pelan masukin air ke botol karena debit yang kecil.
Kami istirahat sekitar 20 menit sambil isi air dan juga bakar beberapa batang rokok.

Setengah jam kami berjalan, sekitar jam 6 sore kami sampai di POS VI SAMYANG KATEBONAN  ( 2909 mdpl ), disini ternyata sudah penuh dengan tenda pendaki, tanpa istirahat kami langsung ke Pos VII sesuai rencana di awal. Kami akan ngecamp minimal di Pos VII, karena kalau di bawah pos VII kata orang, banyak celeng yang sembarangan menghancurkan tenda dan logistik pendaki. Dengan semangat yang masih ada, kami bergerak ke POS VII, sempet kami bertemu dengan pendaki yang kebetulan juga nyari lokasi ngecamp. Dia sudah ngecek lokasi di Pos VIII, POS VII dan semuanya positip PENUH...
Karena hari juga sudah mulai gelap, kami putuskan untuk mencari area terdekat selama itu cukup untuk tenda kami. Akhirnya setelah sekitar 5 menit berjalan mendekati POS VII kami dapat satu area yang cukup untuk Dome 2P kami..Deal, kami segera bersihkan area dan bersiap bangun tenda. ANJRIIIIITTTTT…ternyata dipojokan area itu ada (maaf) bekas orang b*ker..keinjek lagi!!!hihihi..

Akhirnya kami timbun sambil meratakan area itu…sambil nunggu tenda berdiri Anggi masak mie rebus. Tenda pun siap dan mie rebus juga siap, jadilah kami makan. Oh iya kami dari rumah dibuatin Lontong dalam plastik, dan ini cukup membantu saat kami makan. Setelah makan, ganti pakaian, bongkar SB dan lain-lain, sekitar jam 7 malam, kami sudah bisa mulai istirahat,  saya bahkan bisa dengan pulas tidur sampai sekitar jam 2 dini hari. Sayangnya Anggi malam itu tidak bisa tidur karena ternyata posisi tenda kami agak kurang pas, dan dia kebetulan dapat posisi yang miring.

Jam 2 saya bangun, dan benerrrr banget kata orang.. MULES MENGALAHKAN MALES..saya pun harus nyari lokasi yang sekiranya aman dari mata pendaki yang summit, dan aman dari Celeng. Setelah itu saya masak air dan bikin kopi, sambil ngopi Anggi bangun dan langsung kami packing untuk Summit Attack. Barang-barang yang sekiranya bisa, kami tinggal. Selebihnya kami hanya bawa satu botol air 1,5 liter, 2 carrier kosong, dan senter. Carrier kami bawa karena takutnya kalau ditinggal akan lebih mudah buat mereka yang mau maling barang2 kami, seandainya pun ada.

Jam 3.20 kami start mulai jalan, dengan badan yang lumayan segar dan beban yang ringan, kami butuh setengah jam untuk sampai di POS VII  SAMYANG KENDHIT  ( 3040 mdpl ), di Pos ini penuh tenda pendaki, bahkan sampai jalan pendakian ada sebagian yang tertutup tenda.  Mulai pos VII jalur pendakian sudah lumayan terbuka dan rawan badai, tetapi tetep nanjak manis tanpa putus, tanpa bonus…

Sekitar setengah jam kemudian kami sudah sampai di POS VIII SAMYANG JAMPANG ( 3092 mdpl ), di pos ini tetap saja masih penuh tenda pendaki, dengan area yang lebih terbuka. Banyak Edelweis dan semak tumbuh disini.

Kami lanjut lagi menuju ke POS IX PLAWANGAN ( 3172 mdpl ). Pos ini sekalian sebagai batas vegetasi, karena mulai dari sini ke puncak kita akan melewati medan bebatuan khas gunung berapi. Dan benar saja, sepintas ratusan senter terlihat saling bersautan menuju ke Puncak Slamet. Dengan ratusan pendaki Summit bersama sama, sebenarnya akan sangat berbahaya ketika terjadi badai, akan tetapi walaupun malam itu kami harus antre naik ke Puncak tetapi Gunung Slamet sungguh ramah kepada kami. Beberapa kali sempat ada batu yang longsor akan tetapi tidak sampai terjadi hal buruk pada kami semua.

Summit Attack 

Setelah sekitar satu jam kami jalan melewati medan berbatu dan berpasir, Jam 4.55 tepat kami akhirnya sampai di patok dengan Bendera Merah Putih, Puncak Gunung Slamet, Titik Tertinggi di Jawa Tengah ( 3428 mdpl ).

Summiter

Karena di puncak begitu penuh dengan pendaki, maka kami hanya cari spot untuk sekedar berfoto sambil nunggu sunrise. Sebenarnya area puncak cukup luas, selain itu kalau kita mau lebih jauh jalan, masih ada puncak Patok Beton. Mungkin itu yang orang bilang puncak Surono. Memang ada beberapa pendaki yang rela turun mengarah ke kawah trus lanjut naik lagi di bukit sebelah untuk sampai kesana. Bagi kami, cukup untuk sampai di salah satu spot puncak Slamet, sudah sangat assoy..

Top of Central Java 3428 Masl

Hampir mungkin satu jam setengah kami habiskan di Puncak Slamet, kebetulan Rahmat dan Nur juga sudah sampai di puncak. Akhirnya kami putuskan untuk turun sambil masih tetap nyari spot cantik buat foto.

Garis pantai laut Utara Jawa

Sekitar jam 6.30 kami mulai jalan turun, dan dipunggungan bukit terakhir ke puncak kami bertemu dengan Team nya Adi yang ternyata baru attacking the summit. Ternyata mereka semalam ngecamp di pos 7, dan ternyata mereka kemalingan. Katanya kompor, termos dan sandal jepit mereka ilang.. apes dahhh..



Setelah basabasi, kami lanjut turun ke bawah. Dengan kondisi kaki yang masih kuat, seger dan bawaan yang ringan, tidak lama kami sampai di Pos IX, POS VII dan Pos VII. Sekitar 40 menit kami jalan, kami sudah sampai ditempat kami ngecamp.. dan langsung kami cek barang2 kami yang, Puji Tuhan lengkap, tidak ada yang hilang.
Setelah kami packing dan sarapan pagi, sekitar jam 7 kami langsung lanjut ke bawah dengan kaki yang masih kuat tanpa gemeteran. Pos VI, POS V kami lalui dengan keadaan full pendaki. Ramai setengah mati. Bahkan dibeberapa spot kami harus rela antre untuk gantian pakai jalan dengan pendaki yang baru naik.
Sekitar jam 9 kami sampai di Pos IV, kami sempatkan istirahat dan sekedar foto foto, ngerokok dan ngecek air kami yang hanya tinggal 1,5 botol.
9.30 kami start lagi jalan, dan sepanjang jalan turun hanya beberapa orang pendaki yang mendahului kami..kami pikir kamilah grup yang paling duluan turun. Dan kami membayangkan dengan banyaknya orang yang naik semalam dan saat itu masih belum turun, ditambah degan pendaki yang baru naik hari itu.. akan sangat penuh keadaan pos V ke atas. 
POS III masih ramai saat kami turun, kami memang sengaja untuk segera secepatnya sampai ke basecamp dan istirahat disana..dan setelah sekitar 40 menit kami jalan, kami sampai di POS II yang penuhnya keterlaluan..!! Makin keheranan saja kami, karena selama kami mendaki gunung, baru kali ini kami temui keramaian seperti ini. Di POS II kami, saya masih belum terlalu payah..kaki saya masih kuat meski terasa panas di telapak kaki..
Karena di POS II terlalu penuh maka kami istirahat sedikit dibawah POS II..disitu saya ngomong ke Anggi kalau kaki saya masih kuat tanpa gemetar atau apapun, kaki saya kuat.
Baru kira kira 20 meter saya jalan, di area bonus datar..saya ngerasa kaki saya tiba tiba gemeteran, dengkul saya serasa mau lepas..saya pikir mungkin karena terlalu lama istirahat. 

Dan benar saja, dari lepas pos II sampai POS I menjadi siksaan bagi saya. Anggi terpaksa saya suruh untuk jalan duluan ke pos I. Saya dengan sangat payah, ditambah kaki gatal-gatal kena Jelatang, beban juga masih lumayan berat..hanya bisa sekedar jalan tidak tau kapan sampai Pos I. Itu masih ditambah kami harus antri bergantian dengan pendaki yang naik, yang sekali lagi tanpa putus. Sekitar jam 11 saya baru sampai di POS I yang juga penuh!! Sambil nyari Anggi yang ternyata istirahat 5 menit jalan di bawah Pos I. Kami pun beristirahat disana sambil nunggu Rahmat dan Nur dibelakang.
Setelah semua kumpul, 20 menit kami istirahat, kami lanjut lagi ke bawah dengan kaki yang semakin payah..masih saja kami temui pendaki yang naik di sepanjang jalan Pos I ke Basecamp. Bahkan saat kami sampai Basecamp, disana masih banyak rombongan pendaki yang baru start registrasi..
Dari Pos I kami melewati hutan pinus, kawasan kebun penduduk dan baru mendekat ke pemukiman warga. Beberapa kali kami berpapasan dengan pendaki dan kami ceritakan keadaan diatas sampai ke Puncak, kebanyakan dari mereka seakan tidak percaya dengan banyaknya pendaki yang naik weekend itu. Kami hanya berpesan untuk segera cari pos untuk mendirikan tenda.
Jam 1 siang tepat, kami sampai di Pondok Pemuda dan langsung buang sampah kami, ambil KTP dan kembali ke Basecamp untuk istirahat.
10 menit kemudian, bresss.. HUJAN TURUN. sungguh Slamet begitu ramah kepada kami, Tuhan begitu baik kepada kami. Kami hanya bisa mendoakan untuk pendaki yang masih di atas agar mendapat perlindungan.
Sampai di Basecamp Anggi dan Nur langsung makan, sementara Rahmat mencoba untuk bisa tidur. Saya sendiri menghabiskan waktu itu untuk transfer foto dari HP Anggi. Setelah makan, Anggi pun menyusul kami untuk tidur. Rencana kami tidur sampai jam 5 sore baru kami akan pulang. Tapi karena suasana yang terlalu ramai, Anggi ngajak kami untuk sekalian pulang saja, kalaupun ngantuk, nanti bisa istirahat dijalan.

Jam 2 siang kami start dari Bambangan via  Purbalingga Kota, Banjarnegara, Wonosobo, Temanggung, Parakan dan Secang. Sepanjang jalan kami ngobrol tidak jauh dari pendakian..Hujan mengiringi kami melewati perbatasan Wonosobo - Banjarnegara.
Sekitar jam 6 kami sampai di Wonosobo, kami berhenti di sebuah warung Mie Ongklok Khas Wonosobo  dan membeli beberapa bungkus untuk oleh-oleh ibu dan Ajeng.
Dengan hari mulai gelap, perjalanan ke Secang pun tidak mudah karena banyak truk besar konvoi sepanjang jalan yang mau tidak mau karena masih long weekend jalanan macet, lambat merayap, tiarappp...
Karena itu pula rencana kami mampir Basecamp Sumbing Garung untuk cari emblem Pendakian Gunung Sumbing pun kami batalkan. Dan setelah sekitar 1 jam kami di jalan sambil ngobrol warawiri jam 7.30 kami sampai di Secang.


Sesuai kesepakatan awal saya dari secang ke Ungaran lanjut via Bis Umum, maka kami sama-sama nyari bis ke Ungaran. Rencananya kalau memungkinkan maka Rahmat dan Nur juga akan ikut via Bawen lanjut ke Solo. Akan tetapi Cuma ada satu bis yang antri, itupun penuh. Setelah nego, katanya bis berikutnya baru ada jam stengah 12 malam. Mau tidak mau saya terpaksa ikut itu bis, dan Puji Tuhan saya tidak harus lama berdiri karena orang yang paling deket dengan sayalah yang pertama kali turun..hahahaha…
Kebetulan saya bareng dengan pendaki lain yang dari besarnya tas yang dibawa, saya pikir dia naik ke Sumbing atau bahkan ke Slamet juga. Pada akhirnya karena kami turun ditempat yang sama, saya baru tau dia ternyata baru pulang dari Gunung Prau.


Jam 21.10 saya sampai dengan selamat hanya kurang PB saya yang ilang, Sehat dengan bonus keram dan pegal yang amat sangat, akhirnya sampai rumah..Agatha, istri saya dan Aro anak saya sudah tidur. Saya langsung masak air, sambil nunggu air mateng saya masak mie rebus, sesuatu yang sangat saya inginkan sejak di basecamp pagi tadi.. karena ternyata seharian tadi perut saya belum ada isi.  Sekitar jam 10 malam setelah saya mandi, saya cium istri saya dan kami tidur bertiga..dan sebagai catatan, selama beberapa kali saya mendaki baru kali ini saya disambut dengan manis oleh istri saya. HAHAHAHA…

GUNUNG MERBABU via WEKAS Part 2 - CATATAN PERJALANAN SARMILI MOUNTAIN MADNESS

Puncak Syarief 3119 mdpl


 ..tanggal 5 Maret 2016, empat bulan setelah pendakian gunung Sumbing,  kami sepakat untuk mencoba menaklukkan kembali Merbabu jalur Wekas ( 3142 Mdpl ). Kali ini Ajeng tetap menjadi bagian pendakian Merbabu 2.
Kebetulan saat itu tiga minggu sebelumnya, Bapak saya terkasih dipanggil menghadap Tuhan, ada perasaan berat karena takut jadi bahan omongan orang, tapi karena saya punya niat seandainya bapak kemudian menghadap Tuhan paling tidak ada bagian tubuhnya entah itu rambut ataupun kumis jenggot bapak yang akan saya sebar di puncak gunung. Dan bahkan pada saat temen2 datang melayat, tidak ada topik bahasan yang mereka bicarakan selain naik gunung..
Selama seminggu kami persiapkan apa apa saja logistik yang akan kami bawa.. Saat itu saya tidak banyak ikut persiapan. Seperti biasa selain satu Carrier , Tenda, Sleeping Bag, dan Beberapa matras yang memang kami sudah punya, kami sewa beberapa peralatan yang masih kurang, bersyukur ada rental Mountaineering Gear di dekat perumahan.
Setelah packing selesai kami berangkat dengan mobil Anggi ke arah Kopeng, kami berangkat ber empat ; saya, Anggi, Akhjad, dan Ajeng sekitar jam 17.00 WIB.  Berbeda dengan keberangkatan kami ke gunung Merbabu kemarin, kali ini cuaca dari pagi hari sebelumnya hujan deras, dan bahkan halaman rumah Anggi dan Akhjad jebol longsor tergerus banjir kiriman dari Gunung Ungaran. Kami berangkat via Bawen Salatiga, yang kali ini tidak ada kendala apapun tidak seperti sebelumnya yang mengharuskan kami muter lewat Banyubiru. Setelah sampai di persimpangan Kopeng, kami teringat bahwa kami masih butuh sarung tangan dan masker tambahan, akhirnya terpaksa kami muter dulu ke Salatiga sekalian nyari nasi untuk Sarapan di Puncak. Yaa..kali ini kami menargetkan bisa Summit sebelum Sunrise.
Setelah semua kebutuhan diperoleh kami mampir di warung rica-rica entok. Setelah itu, dalam keadaan masih hujan kami langsung ke Basecamp Didik di Wekas.
Sekitar jam 19.00 malam kami sampai di Basecamp, Didik masih dengan hangat menyambut kami..Sambil nunggu hujan reda kami re packing, makan dan istirahat sebentar. Disana sejak pagi sudah ada dua orang Pendaki dari Jakarta yang masih bingung menentukan waktu pendakian. Gabung ngobrol akhirnya mereka putuskan akan berangkat bersama dengan kami. Mereka rencana akan ngecamp di Pos 2 Pipa Pecah..Sambil nunggu hujan juga saya sempatkan beli emblem TNGM dan kemudian saya jahit langsung di  Jaket.
Mukjijat itu nyata..Jam 21.00 tepat, hujan sudah mulai reda dan bintang juga sudah mulai terlihat. Akhirnya kami packing dan pamit ke Pengelola Basecamp mohon doa restu. Cussss…..

Jam 9.30 malam kami mulai berangkat, melalui jalan beton kampung dan astaga..beraaattnya karung Carrier di punggung!!!
Temen-temen setelah selesai doa, ndak tau kenapa temen-temen langsung ngegas, jujur saya sempat ketinggalan agak jauh di belakang.. kaki saya terasa berat..Setengah jam berlalu kami sampai di makam, di sana kami istirahat kira-kira 10 menit sambil ngatur nafas lagi..tapi terasa lebih ringan karena mungkin otot kaki saya sudah panas..Kami lanjut masuk hutan dengan jalan tanah..dan mengingat baru saja hujan saya mengira bakalan becek sepanjang jalur..tetapi yang ada udara malah terasa lebih segar dan jalan tidak licin sama sekali, tidak berdebu..bener-bener Tuhan ngasih kesempatan kami malam itu dengan cuaca yang sempurna.
Ditengah jalan menuju Pos I salah satu dari Pendaki Jakarta yang barengan kita, mulai muntah-muntah ndak karuan..dan akhirnya saya lagi yang jadi korban hajaran karung carrier berat..dan sampai nanti di POS 2 saya jalan paling belakang bareng anak-anak Jakarta.
Sampai di POS I Telaga Arum kami istirahat sebentar, dimana disana kami bertemu dengan pasangan yang lagi sama-sama mau naik dan super jaim, tanpa sapa atau apalah..asuudahlah….ora urus!!!Setelah cukup istirahat minum, kami lanjut ke Pos 2

Sepanjang jalur ke POS 2 tidak ada yang istimewa selain kami harus menghadapi Tanjakan pipa ganda yang legendaris nan mesra..yang jelas kenangan paling melekat di pikiran saya untuk jalur wekas adalah tanjakan sebelum Pos 2 Merbabu. Juga tidak ada lagi pendaki yang bakar Hio Menyan..semuanya lancar sampai kami sampai di POS 2 Mata Air, yang kemudian disana anak anak Jakarta ngecamp dan mendirikan tenda, beruntung bagi kami yang akan Summit..hahahaha…
Kami kemudian menitipkan barang-barang yang sekiranya berat, sehingga beban kami ke puncak jauh lebih ringan.
Setelah kami bantu-bantu bangun tenda dan sekalian packing kebutuhan ke Puncak, kira-kira jam 2 pagi kami lanjut menuju Pos III Simpangan Helipad. Jalan yang sangat familier bagi saya karena dengan kali ini saya sudah 3 kali naik turun jalur ini..Sepanjang jalur ini terakhir kami lalui dengan keadaan hangus bekas kebakaran, tapi sekarang semua sudah berubah hijau kembali..dan karena beban kami sudah berkurang kami pun bisa ngejar untuk lebih cepat, dan sekitar 1 jam nanjak, kami sudah sampai di simpang Helipad..Simpang Helipad ini adalah titik ( patok beton ) persimpangan dua jalur; ke kiri mengarah ke Puncak Pemancar dan bisa juga mengarah turun ke jalur pendakian via Kopeng, sedangkan Jalur ke kanan adalah jalur menuju Puncak Syarief ( 3119 mdpl ).
10 menit kami istirahat  sambil bakar rokok.. kami lanjut ke arah kawah dan Jembatan Legendaris ‘Jembatan Setan’. Jalur ini kalau dilihat dari simpang Helipad saat siang bikin jatuh mental..karena terlihat tanjakan yang curam dan jalur yang sepertinya tidak ada ujungnya. Seperti yang kami alami terakhir kali kami naik ke Merbabu. Setengah jam berselang kami sudah sampai di POS III Helipad, dari sini terlihat pemandangan terindah yang pernah saya lihat ‘ view kota salatiga dari atas awan tanpa polusi cahaya’.. EMEJING warbyasahh, sumpahhhh..
Tidak bisa berlama lama kami lanjut, dan hampir nyasar di area prasati entah saya lupa siapa Nama yang diukir di atas lempengan logam itu.

Kami balik kanan kembali ke jalan yang benar, dan tanjakan lagiiiii yang menyambut kami sebelum akhirnya kami sampai di Jembatan Setan, Jembatan yang tidak seseram namanya akan tetapi malah begitu cantik dengan jurang terbuka di sisi kanan kirinya..
Sekitar 40 menit berselang, kami sampai di persimpangan Puncak Syarief dan Kenteng Songo..
Saya dan Ajeng sebenarnya sangat ingin dan merasa mampu untuk sampai di Puncak Kenteng Songo..bahkan saya sempet ngeyel ke Anggi dan Akhjad untuk membagi air minum agar saya dan Ajeng bisa lanjut ke Kenteng Songo..setelah bebrapa waktu kami baru tau kalau saat itu  sudah hampir jam 5 pagi..dan dengan pertimbangan Puncak Kenteng Songo masih berjarak sekitar 1 jam perjalanan maka kami putuskan bareng-bareng kami ke Puncak Syarief..Sekitar 20 menit kami berjalan ke Puncak Syarief dan sekitar 5.15 kami sampai di Puncak Syarief ( 3119 mdpl ). Di Puncak Syarief hanya ada team kami, so kami bisa bebas foto-foto sepuasnya..
SUNRISE CANTIK..Bebas kabut dan kami pun siap menyambutnya dengan berbagai gaya khas alay bersaudara..



Dan karena keburu ndak enak karna kami nitip barang di Pos 2, maka kami buru buru sarapan dengan rica-rica bebek yang kami beli di Salatiga malam sebelumnya..sambil ngopi dengan background Puncak tercantik.. surgaduniaahhh…
Tidak lupa saya sempatkan berdoa mendoakan Bapak, dan sisa potongan rambut bapak saya taburkan di dekat pohon Cantigi di Puncak Syarief…RIP Boss!!!




Setelah semua puas nongkrong di Puncak Syarief, jam 7.30 kami start turun ke Pos 2.. saya jauh leading di depan dan mereka bertiga nyantai di belakang..di Jembatan setan kami berhenti dan foto-foto sana sini sekedar buat kenangan.

Kembali kami menyusuri jalan ke Pos 2 sekali lagi yang berbeda hanyalah kiri kanan sepanjang jalur sudah kembali hijau tidak seperti sebelumnya sewaktu kebakaran..Dan kali ini pertama kalinya kami bisa sampai di Puncak Syarief, setelah 3 kali kesempatan hanya mentok sampai Puncak Pemancar, jalur dari simpang Pos Helipad sampai Puncak Syarief baru kali ini saya lalui.



Setelah kami sampai di Pos 2, teman kami dari Jakarta sudah bangun dan masak. Sambil ‘bantuin’ mereka masak..kami segera packing barang kami yang sebelumnya kami titipkan..setelah packing selesai, kami foto bersama sebagai kenangan dan langsung kami turun ke Basecamp..1,5 jam kemudian tepat jam 11 siang kami sampai di Basecamp. Setelah istirahat dan bersih-bersih kami langsung pamit ke pengelola basecamp untuk langsung kembali pulang ke Ungaran.


Dan benar saja, beberapa menit setelah kami sampai di basecamp, hujan turun dan seolah seperti ditumpahkan dari atas..kami cuma bisa membayangkan keadaan temen temen yang masih di atas atau yang ngecamp di Pos 2..Hari itu, Malam itu, saat itu kami benar benar diberkati, diijinkan dari start pendakian sampai fisnish tidak satupun titik hujan menyentuh kami.



Kami sampai di Ungaran sekitar jam 3 Sore, dan setelah kami kumpulkan barang di tempat Akhjad saya kemudian kembali pulang kerumah dengan oleh oleh capek yang membuat ketagihan lagi dan lagi…
Sampai saat ini kami masih sering bertukar pikiran dan berdiskusi mengenai rencana pendakian, dan paling dekat kami berencana tanggal 5 – 8 Mei kami akan mencoba mencumbu Gunung Slamet di Purbalingga..
Hope Sooooo….

GUNUNG MERBABU via WEKAS part I - CATATAN PERJALANAN SARMILI MOUNTAIN MADNESS


Dan benar saja, karena setiap kumpul hanya ada satu obrolan – NAIKIN GUNUNG ☺ – maka akhirnya tanggal 13 September 2015, sebulan setelah pendakian pertama, ( gunung ungaran ) kami sepakat untuk mencoba menaklukkan Merbabu jalur Wekas (3142 Mdpl). Lebih tinggi, lebih jauh dan lebih berat memang dari Gunung Ungaran.. Kami koordinasikan dengan beberapa teman diluar Sarmili untuk mencari partner yang sama-sama ingin naik ke Merbabu. Ada dua teman lama kami sewaktu kuliah dari Magelang yang siap ikut nanjak bareng, kebetulan mereka suami istri..Mondol Andi dan Agit Agnes, yang rencananya kita ketemu di Basecamp Wekas.
Selama seminggu kami persiapkan apa apa saja logistik yang akan kami bawa.. Selain satu Carrier , Tenda, Sleeping Bag, dan beberapa matras yang memang kami sudah punya, untuk kebutuhan peralatan pendakian yang lain kami masih harus sewa.
Setelah packing selesai kami berangkat dengan motor ke Kopeng, kami berangkat ber empat; saya, Anggi, Akhjad dan Kelik. Kami berangkat sekitar jam 16.00 WIB mundur 1 jam dari jadwal semula. Sampai di Bawen semua kendaraan yang akan ke Salatiga macet total, yang ternyata karena jembatan Tuntang ditutup sebelah untuk perbaikan, dan akhirnya kami putuskan untuk  memutar lewat Banyubiru tembus ke Ringroad  Salatiga.. Dijalan kami sempatkan untuk membeli nasi untuk stok di POS 2 saat ngecamp nanti..
Sekitar jam 19.00 WIB kami sudah sampai di Basecamp Didik di desa Wekas, disana Mondol dan Agit sudah menunggu sejak sore.. Basecamp owner Didik sudah sangat mengenal kami karena sejak masih kuliah dulu setiap ada kegiatan pendakian Gunung Merbabu kami selalu ngecamp disini. Sedikit tentang Didik, dia anggota GRABUPAL ( grup koordinator pendakian via Wekas ) dia juga sering jadi Guide dan Porter bagi mereka yang ingin mendaki ke Merbabu Via Wekas, selain itu dia juga sering terlibat ketika ada kegiatan evakuasi saat ada korban di gunung.
Setelah ngobrol banyak dengan Didik tentang keadaan Merbabu, yang ternyata saat itu baru saja terbakar, kami akhirnya berangkat mulai pendakian dari titik poin basecamp 1600 Mdpl sekitar jam 21.00 WIB setelah berdoa bersama. Keadaan cuaca saat itu cerah dan berdebu, karena masih musim kemarau panjang..
Perjalanan dari Basecamp sampai POS I kami lalui sekitar kurang lebih 1,5 jam..kebetulan saat itu saya sebagai sweeper paling belakang, sambil nemenin Mondol yang mulai kelelahan..Kebetulan temen ini punya kelebihan bisa merasakan hal-hal  ‘halus’… waktu itu saya hanya pesen kalau natinya dijalan ketemu atau ada apapun tolong jangan kasih tau saya, it will freak me out..
Sepanjang jalur ke POS I kami tertinggal jauh dari kelompok temen kami yang lain, dan sempat Mondol muntah bebrapa kali, mungkin karena Mountain Sickness. Karena hanya kami berdua dibelakang kami akhirnya saling tukar Carrier kami, saya bawa yang lebih berat..Untunglah beberapa saat kemudian sampailah kami di POS I, temen-temen yang lain sudah sempat istirahat, Di POS I ini ada sumber air yang berasal dari pipa air penduduk. Setelah sekitar 10 menit kami istirahat dan melepas jaket karena sudah mulai keringetan. Kami lanjut jalan ke POS 2, dari POS I ke POS 2 rata-rata ditempuh sekitar 2 jam pendakian santai..
Seperti sebelumnya, Agit, Anggi, Akhjad dan Kelik berangkat lebih dulu, saya dan Mondol menyusul di belakang dan di jalur legendaris nan sadis Tanjakan Pipa sebelum Pos 2 Mondol akhirnya menyerah dan terpaksa Carrier saya yang bawa depan belakang..akan tetapi dengan tanpa beban Mondol malah terlihat limbung, mungkin karena dari bawah terbebani berat dan akhirnya tanpa beban maka badan akan terasa terlalu ringan. Akhirnya saya bawa tas yang lebih berat.. setelah sekitar 45 menit berjalan akhirnya ada beberapa spot Bonus Trek dan kami bertemu beberapa tenda di sepanjang jalur ke Pos 2. Selepas tanjakan tercium bau Hio bakar, mulai sudah pikiran kemana-mana. Positif aja sih..setelah beberapa waktu kami berjalan ternyata ada salah satu tenda tepat dipinggir jalur ke Pos 2, yang orangnya bakar Hio Menyan didepan tenda. Oalahhh, neng kene rusake:D

Dan  akhirnya kami sampai di POS 2, Pipa Pecah, Kandang Pitik..disana kami buat dua tenda besar dan kecil, kami ber-empat di tenda yang besar dan Agit – Mondol di tenda yang kecil..Cuaca malam itu cukup cerah berbintang, dan tidak tau kenapa malam itu begitu dingin, selama saya naik gunung baru kali ini ngerasain dingin yang keterlaluan. Saking dinginnya, ujung jari kaki terasa seperti ditusuk ratusan jarum. Seluruh kaki seperti terasa parah kesemutan.
Setelah masak air, bikin kopi dan Mie Instan, dengan sangat kepayahan menahan dingin kami istirahat sukur-sukur bisa tidur, setelah pake celana panjang, kaos kaki, hoodie, sarung tangan dan Sleeping Bag kami cari posisi masing masing, dalam satu tenda tapi… asli sumpah, dingiiin banget waktu itu, tembus ke Sleeping Bag...
Seperti belum lengkap kepayahan malam itu, salah satu teman kami Kelik, tidur dengan ngorok kenceng banget..Alamak!!!Sampai sekitar jam 5 pagi saya berjuang melawan dingin dan mencoba untuk tidur..Jam 5 pagi tepat saya bangun dari tidur yang gagal, karena rencana kami mau lanjut ke POS 3, Puncak Pemancar…

Awalnya temen-temen enggan untuk bangun, mungkin juga karena cuaca malam itu yang sangat dingin, tapi akhirnya kami ber empat, Anggi, Akhjad dan Kelik sepakat naik ke Pos 3. Jam 5.30 setelah re-packing, kami berangkat hanya dengan 2 botol air 1500 ml dan makanan secukupnya, barang-barang kami tinggal dengan Mondol – Agit yang jaga.


Antara Pos 2 - Helipad

Terasa berat langkah kami ke POS 3 meski tanpa beban carrier, pelan-pelan kami berjalan akhirnya 2 jam setelahnya kami baru sampai di persimpangan Helipad.. Istirahat sebentar sambil foto-foto seputaran. 

Menuju Puncak Menara

Setelah cukup foto-foto kami lanjut ke Puncak Pemancar POS 3, dan karena matahari sudah tinggi maka kami boleh menikmati view sempurna 360 derajat.

View dari Pos Pemancar

Gak ada sebelumnya view sebagus POS 3 Puncak Pemancar, dimana kami bisa melihat Puncak Syarif, jalur pendakian ke sana, dan area di kaki gunung..dengan barisan awan, serasa udah gak mau turun.

View dari Pos Pemancar

Sekitar 1 Jam kami muter-muter foto di area ke POS 3, dan akhirnya kami putuskan untuk tidak lanjut ke Puncak karena dengkul kami sudah gemetaran. Apalagi jalur ke Puncak terlihat sangat mengerikan..:D ditambah dengan logistik yang terbatas karena sebagian kami tinggal di POS 2, kami turun kembali ke POS 2. Sepanjang jalur Pos 3 ke Pos 2 baru kelihatan bekas kebakaran yang hanya terpisah oleh jalur pendakian, sebelah kanan jalur turun masih utuh dengan hanya beberapa titik yang hangus terbakar, akan tetapi di sebelah kiri jalur habis gosong terbakar tanpa sisa, termasuk line pipa penduduk..Coba melihat sisi baiknya ajah,  ternyata di beberapa lokasi bekas kebakaran tersebut menjadi spot yang menarik untuk dijadikan background foto..Sekitar 1 jam kami berjalan turun ke Pos 2.

Sampai di POS 2 kami akhirnya masak nasi dkk, sesuai rencana awal beberapa waktu sebelumnya kami akan masak soto ayam, goreng mendoan dan ayam krispy di POS 2 Merbabu. Baru kali ini kami, saya benar-benar kenyang di Gunung..Saat itu di Pos 2 Merbabu Wekas sedang ada kegiatan Bersih Gunung dari kawan-kawan Mahasiswa, lumayan penuh dengan puluhan tenda berdiri di Pos 2.

Sarmili Cupu

Setelah berbagi cerita sambil makan, bahkan sempat juga saya tertidur sebentar, akhirnya kami packing untuk segera turun ke basecamp.
Sekitar jam 12.00 WIB kami berangkat turun jalan santai, karena lutut Mondol mulai sering kram..Sepanjang jalan turun kami terpisah jadi 2 grup. Saya, Anggi, Akhjad dan Kelik di depan, dan Mondol - Agnes sekitar 15 menit di belakang. 
Ditemani penampakan monyet-monyet pribumi Gunung Merbabu sekitar jam 15.30 , kami sampai di Basecamp Didik.. dan setelah kami cuci muka,  istirahat, sekedar meluruskan punggung dan makan siang..jam 16.30 kami pulang ke Ungaran, sementara Mondol – Agit ke Magelang.
Berangkat kita boncengan 2 motor, tapi karena Mondol sekalian nganter Vespa-nya Anggi maka pulangnya kami 3 motor, Anggi dan Kelik sendiri, saya dan Akhjad boncengan berdua..
Sialnya di selepas Salatiga, ban depan Kelik bocor..sementara Anggi sudah jauh didepan dengan Vespanya. Setelah koordinasi dengan Kelik akhirnya kami putuskan untuk lanjut sambil coba ngejar Anggi dan kemudian nunggu Kelik nyari tambal ban di sekitar Terminal Bawen. Kemacetan panjang pun masih  tidak bisa kami hindari, serupa saat kami berangkat..
Sekitar 40 menit kami nunggu, akhirnya Kelik sampai Bawen dan kami langsung lanjut ke Sarmili.
Akhirnya kami sampai di Ungaran sekitar jam 6 sore..bersiap untuk bermimpi tentang pendakian selanjutnya.







Kamis, 20 Oktober 2016

GUNUNG UNGARAN - CATATAN PERJALANAN SARMILI MOUNTAIN MADNESS

*test..test..mencoba nulis aja daripada lupa!!
for ARO my boy, some day when he read this..


Sebenarnya saya tidak tau kenapa saya begitu addicted tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan   G U N U N G.   Dan semua berawal ketika saya di XTM dan berlanjut hingga saat ini. Saya, Suami dengan seorang istri dan seorang anak yang kegantengannya keterlaluan, masih saja belum bisa bertobat dari berusaha menyempatkan waktu untuk mencumbu puncak-puncak gunung.
Sampai saat ini setidaknya Gunung Merbabu ( 1999 ,2015, 2016 ) Gunung Ungaran (2000, 2003, 2015 ) Gunung Merapi ( 2010 ), Gunung sindoro ( 2007 ), Gunung Sumbing ( 2016 ) Gunung Slamet dan terakhir kemarin Gunung Lawu (2016 ) pernah saya daki dengan setidaknya tiga kali pendakian ke  Gunung Ungaran dan Gunung Merbabu. Sempat break dari kegiatan ‘muncak’ selama beberapa tahun karena pekerjaan yang mengharuskan saya merantau ke Borneo selama 5 tahun. Selama itu pula mungkin keinginan muncak seolah terkalahkan dengan kesibukan kerja. Dan setelah kembali ke Ungaran di tahun 2014, rasa rindu gunung kembali terbakar menyala.

Kebetulan di komplek saya, Perumahan "Sarmili" Gebugan, Ungaran, ada beberapa bapak bapak yang juga memiliki gejala penyakit Mountain Madness, keranjingan Gunung..Maka jadilah kami rutin setiap ada kesempatan atau setiap  paling tidak 3 – 4 bulan sekali nanjak bareng-bareng. Dan karena begitu besar keinginan untuk naik gunung akhirnya saya nyicil beli sendiri Mountaineering Gear;  Tenda Doom, Matras, Sleeping Bag, Tali temali dan terakhir kemarin Carrier.
Saya tidak beli sepatu karena masih ada Allstar Converse Biru saya dari tahun 2010, yang selalu menjadi teman saya saat traveling dan hiking. Satu properti utama saya..Sarung!! Sarung yg lebih dari sekedar sarung, karena sejak kuliah tahun 2001 saya selalu menuliskan tanggal dan tempat yang saya datangi, setiap kali mendaki gunung. Dan bahkan tanggal dimana saya turing ke Bali, turing Vespa ke Lombok serta saat-saat saya di Borneo. Semua tertulis di Sarung prasasti itu.


GUNUNG UNGARAN  via BC MAWAR 2050 Mdpl

Pada kesempatan pertama, entah siapa yang mulai, dan setelah maju mundur dan beberapa kali di bahas via kumpulan tongkrong malem minggu di pos ronda, diputuskan untuk mencoba pendakian ke Gunung Ungaran, selain karena untuk pemanasan dan 'aklimatisasi' berkenalan kembali dengan capek dan dingin gunung setelah hampir 10 tahun tidak naik gunung. Dengan ketinggian 2050 mdpl dan posisi gunung tepat di ’belakang rumah’ maka tanggal 9 Agustus 2015 kami ber empat mulai pendakian dengan berangkat dari koordinat 7.172216, 110.398155 Basecamp Sarmili, Perumahan Villa Jenggeret Sarmili sekitar pukul 19.00 WIB. Kami ber empat waktu itu, saya, Anggi, Akhjad, dan Kelik. Tanpa persiapan yang cukup, kami SARMILI MOUNTAIN MADNESS ☺ berangkat dengan dua motor. Sekitar setengah jam berselang kami sampai di Basecamp MAWAR Jimbaran, yang memang tidak terlalu jauh dari perumahan. Kami langsung check in pendataan pendaki. Dengan sebelumnya salah satu motor yang kami  pakai tidak kuat nanjak jadi motor yang lain digunakan untuk jemput Akhjad yang terpaksa ditinggal dibawah.
Tidak banyak yang saya ingat tentang pendakian Gunung Ungaran saat itu, yang jelas saat itu cuaca cerah dan berdebu, sangat berdebu..!! Dari jumlah motor di parkiran, terlihat penuhnya camp area Mawar dan jalur pendakian. Begitu selesai check in  kami  berangkat sekitar jam 22.00 Malam, dan sampai di pos Kebun Teh Promasan sekitar jam 02.00 WIB. Jalur dari Basecamp sampai Pos Promasan masih berupa hutan pinus dengan trek yang tidak terlalu terjal dan full bonusan. Saat itu kami benar-benar menikmati perjalanan. Tepat di persimpangan Promasan, kita ambil jalur ke kiri naik ke atas, ada juga yang jalur ke kanan turun kebawah sering dipakai karyawan kebun teh untuk membawa hasil panen ke kota. Jalur ini tembus ke Desa Gebugan, lokasi perumahan kami. Sampai di Pos Kebun Teh kami istirahat, dan hanya sempat makan mie instan mentah. Assiiinnn tapi ngangenin...Sepanjang jalur di area Kebun Teh ini jalan sudah agak luas dengan tatanan batu. Setelah sekitar setengah jam istirahat, kami berangkat kembali untuk ‘Summit Attack’, dengan trek yang mulai nanjak menuju bukit terakhir. Cukup ramai saat itu, terlihat dari sorot lampu senter yang saling bersilang di bukit terakhir. Setelah sekitar satu jam jalan santai, karena jalan sudah mulai sempit, nanjak lumayan terjal dan berdebu, kami sampai di Puncak sekitar jam 4.30 pagi, terlalu pagi memang untuk menunggu sunrise..maka kami mencari lokasi untuk berkemah dibawah area Puncak dan kami mendirikan tenda, masak dan ngopi sambil cerita tentang kekonyolan kami saat pendakian semalam.

                          kebun teh promasan

Dan akhirnya matahari pun terbit, benar saja saat itu puncak Gunung Ungaran penuh dengan pendaki..karena mungkin seminggu lagi adalah Peringatan Hari Kemerdekaan. Kami sebenarnya ingin lanjut ke puncak lainnya. Sebagai catatan, di Gunung Ungaran ada tiga Puncak, Puncak Utamanya adalah Puncak Ungaran, dan Puncak yang lain sering orang menyebut Puncak Gendol dan Puncak Botak. Tetapi karena sudah sampai di Puncak teritinggi Ungaran, temen-temen yang lain enggan ke dua puncak yang lain.
Puas foto-foto di puncak sambil mengenang jaman SMA saat saya pernah naik sampai ke puncak Ungaran, sekitar jam 8.30 WIB, setelah selesai packing, kami langsung turun ke pos Kebun Teh, sepanjang jalur turun kami terpaksa berhadapan dengan debu, terlebih saat ada rombongan dedek pendaki gemes yang dengan pedenya turun sambil lari yang membuat debu semakin parah terhambur. Di Pos Kebun Teh kami menghabiskan waktu sekitar satu jam untuk menikmati suasana kebun teh Promasan, disana kami menghabiskan waktu untuk foto-foto.


                    bapak-bapak sarmili di puncak ungaran



Puncak Ungaran 2050 Mdpl

                      50 meter di bawah puncak

Setelah puas foto-foto, kami langsung turun ke pos Mawar, dan disana karena kelaparan, kami akhirnya pesen nasi alakadarnya dan teh panas. Sambil makan kami dihibur sama adek-adek mahasiswa yang lagi diplonco seniornya..oh iya, basecamp Mawar ini cukup asik untuk kemping keluarga dan bahkan ada fasilitas Paragliding. Selain itu area Mawar cukup dekat dengan objek wisata Umbul Sidomukti, coba googling aja. Setelah kami makan dan cuci muka, kami langsung check out ke Pos Pendakian. Karena jarak yang tidak begitu jauh dari basecamp Mawar ke rumah kami maka kami putuskan untuk sekalian pulang agar bisa istirahat dirumah..


Tepat pukul 16.00 WIB kami sampai di Basecamp Sarmili, Perumahan Villa Jenggeret Sarmili, lengkap tanpa cidera.


Untuk beberapa bulan kedepan, saat-saat pendakian gunung Ungaran itu menjadi bahan cerita yang tak habis di bongkar setiap kali kumpul ngopi, dan dari situ kami tau bahwa dengan pengalaman kebersamaan di Ungaran akan kemudian menjadi titik awal pendakian-pendakian kami berikutnya.