Kamis, 26 Januari 2017

PUNCAK LERENG KELIR - 1250 mdpl

Sambungan TOP SELFIE...


Sabtu, 21 Januari 2017.. saya dan Akhjad yang memang day off kerja, akhirnya dapet tugas beli bronjong ke daerah Jambu. Saling tajam bertatapan, seolah pikiran kita sama..hahahaa!! Langsung searching spot yang kira-kira bisa kami kesana sambil cari bronjong. Dapatlah di Google; Puncak KelirKeep searching broo.. akhirnya dapet jalur sampe kesana.
Kami pertama cari bronjong. Done..gak susah kok nyari tempatnya. Yang bikin dongkol, bapaknya ndak bisa nganter itu bronjong ke Ungaran. Sambil masih bingung gimana caranya bawa bronjong ke Ungaran, kami berdua langsung cuusss ke Kelir. 

Tanya-tanya sama bapaknya, langsung meluncur ngikuti jalan Semarang - Jogja..deket dan gampang nyarinya kok, setengah jam kemudian kami sampai di Basecamp Kelir. Lokasi Basecamp ini sesuai petunjuk Google ada di Dusun Brongkol, Desa Gertas, Kecamatan Jambu. 

Setelah urusan ticketing selesai, kami langsung start naik. Bayangan saya ya…dari parkiran cuma jalan santai bentar trus sampai. Yang ada kami harus nanjak 2 kilo. Untung di bawah Akhjad sempat beli air. Lumayan juga tanpa carrier kami stabil nanjak sekitar satu jam. Ternyata sepanjang jalur ke puncak banyak warga yang jualan, bahkan ada yang jualan bakso di atas. Menurut warga jalur Kelir ini baru diresmikan awal bulan Januari 2017 ini. Benar saja, masih banyak warga yang sedang membangun warung. Jadi buat kalian yang gatel pengen ke puncak Kelir ndak usah kawatir kelaparan.


                                                   gambar yang ada di Google...

                                           yang kami dapat....kabut!! 1250 Mdpl

Sampai di Puncak Lereng Kelir kami disambut kabut. Sayang banget kami gak dapet view selain kabut. Area puncak ini bisa menampung kira-kira 10 tenda. Di belakang Area Puncak ini ada hutan pinus, tetapi oleh warga di kasih palang, tandanya No Trespass broo... Katanya hutan pinus ini milik Syeh Puji. Siapa Syeh Puji, bisa di cek Google ajah yak.. 
Di hutan pinus ini sebenernya tempat yang luas, pas buat ngecamp. Cukup terlindung dari angin dan sinar matahari.

Suakhjad

Dan karena tidak ada yang jaga, kami nekat nerobos palang dan exploring jauh ke ujungnya. Ternyata ada jalan setapak menyusuri punggungan puncak bukit, jalur tanah lumayan jauh dengan sebelah kiri jurang. Sayang banget karena kabut view nya sangat terbatas. Dari hutan pinus tepat di belakang area Puncak Kelir, kami melewati 4 area hutan pinus lagi sebelum kami sampai di puncak Tertinggi Bukit Kelir 1348 mdpl. Mulai dari sini banyak bonusan dan beberapa tanjakan.

                                       Hutan Pinus disalah satu area Puncak Kelir

Setengah jam kemudian kami sampai dipuncak, kira-kira jam 2 siang, kabut total menutup puncak tertinggi Bukit Kelir. Ternyata di puncak sedang dibangun tempat khusus untuk foto-foto. 


dibawah puncak...

                                                     Golden Sunset???

Sambil ngobrol dengan crew pembangunan yang sedang istirahat, ternyata memang hutan pinus Puncak Lereng Kelir tadi dikasih palang karena di Puncak tertinggi Kelir juga dibangun selfie spot dengan pengelola yang berbeda. 


Istirahat Di Puncak Kelir  1384 mdpl

Karena kabut seolah abadi, maka kami hanya foto-foto sekenanya aja. Dan setelah setengah jam di puncak, kami langsung turun ke Basecamp.  Sempet mampir beli mie rebus, hampir satu jam kami baru sampai di Basecamp. Tanpa istirahat, dengan kaos yang masih basah keringat, kami langsung pulang ke Sarmili.  Tidak lupa ambil bronjong, yang jadi alasan kami sampai di Puncak Kelir, dan sebagai warga yang baik, berdua kami tetep kerja bakti malam itu..

*bersambung...


TOP SELFIE HUTAN PINUS KRAGILAN

#gagalmuncak


Sabtu, 14 Januari 2017, sesuai rencana yang sempat beberapa kali tertunda.. kami berempat berangkat ke Merbabu via Jalur Wekas. Saya, Anggi, Akhjad dan mas Hari SARMILI BROTHERHOOD kembali mencari waktu disela-sela kesibukan kerja kami. Saat itu dari awal, alam seolah udah ngasih kode ke kita dengan ngasih hujan seharian. Tetapi kepalang tanggung, kami semua yakin kalau sampai di Basecamp kondisi cuaca akan berbalik cerah. Harapan tinggal harapan, sejak kami sampai di Basecamp sekitar jam 18.30  sampai sekitar jam 22.00 hujan belum juga reda, yang ada malah di kasih bonus angin kenceng. Akhirnya tanpa berunding lagi, kami sepakat cari posisi, bongkar sleeping bag dan misi kali ini berubah jadi pindah bobok di basecamp sampai pagi.

Pagi itu, Minggu 15 Januari, gerimis masih turun. Untuk mengobati galau karena gagal summit,  setelah cuci muka dan sarapan,  kami langsung start ke pos Makam jalur Wekas. 



Semalem sebelum bobok, kami ngobrol sama pak’e basecamp dan katanya diatas, baru dibangun prasasti tulisan seperti yang lagi hit di objek lain. Karena penasaran itulah kami kepoin naik sampai lokasi. Sekitar setengah jam kami sampai dan ternyata ukuran dari tulisan ‘Merbabu’ itu cukup besar sekitar 3 meteran tinggi. Saat itu baru selesai terpasang huruf M dan E saja. Semoga next time  kami kesini sudah jadi, diberi kelancaran dalam pembangunannya.



TOP SELFIE HUTAN PINUS KRAGILAN

Secukupnya kami foto-foto, karena memang spot foto sangat terbatas. Kami langsung turun ke basecamp.  Sepakat…kami cari objek lain yang sekiranya dekat dan bisa kami mampir. Dari beberapa opsi dan setelah tanya-tanya, kami langsung meluncur ke Top Selfie Hutan Pinus Kragilan.






Lokasi yang mudah diakses dan cukup dekat dengan basecamp, sehingga hanya sekitar setengah jam kami sudah sampai di lokasi. Letaknya di jalan menanjak menuju Gardu Pandang Ketep Pass. Coba googling aja dah, lumayan kok lokasinya.  Adem udah pasti,
instagramable iya, murah juga dapet.


Tidak begitu lama kami menikmati adem khas hutan pinus kami udah langsung cabut pulang. Dijalan kami sempatkan foto-foto di jembatan pinus sebelum sampai di lokasi Top Selfie.




Dah puas..langsung pulang Ungaran. Sampai di Sarmili posisi pas habis hujan, dan kayaknya horror hujannya..karena kami lihat di kali depan komplek begitu berantakan. Serasa abis kena banjir bandang, ternyata bronjong (penahan tebing dari tatanan batu) yang dulu pernah kami pasang ikut terhambur.. bergeser beberapa meter. Sempet speechless juga, heran..padahan itu bronjong isinya batu gede-gede tapi iya, bisa hanyut. Dan sambil berlalu kami sepakat untuk weekend ini kami kerja bakti sama-sama baikin bronjong .... Bersambung


Kamis, 08 Desember 2016

Carrier Seven Summits 55+5 Lt Ibhakara ( Black Gold )



Spesifikasi :

-          - Bahan luxury Cordura Duratex Webbing 
-          - Dobel Frame Alumunium menyilang ( bisa dilepas )
-          - Tali pengatur adjustable
-          - Kapasitas 60 liter
-          - Busa super nyaman ( pundak, punggung, pinggang )
-          - Back system adjustable
-          - Desain simple dan elegan
-          - Tempat air kiri-kanan
-          - Water blader slot
-          -  Harga : 400K





-

Jumat, 25 November 2016

GUNUNG SUMBING via BASECAMP GARUNG - CATATAN PERJALANAN SARMILI MOUNTAIN MADNESS


3371 mdpl
For Efrem El Naraya Kitaro my boy..
*replaces the previous one, because it was accidentally erased..☺

Untuk ketiga kalinya dalam tahun 2015 itu kami mendaki Gunung, dan itu adalah pejalanan ke PUNCAK yang Kedua di tahun itu setelah sebelumnya Puncak Gunung Ungaran, kami gagal muncak di Merbabu.
Sepulang dari Merbabu, deal…kami muncak ke Sindoro..
Oke, sebenernya dari awal yang pengen kami tuju adalah gunung Sindoro. Bahkan sampai hari H otewe berangkat, kami semua masih berfikir kami akan naik ke Sindoro..akan tetapi setelah sampai di Basecamp Sindoro Kledung, ternyata saat itu ekspedisi pendakian ke Gunung Sindoro sementara ditutup karena kebakaran Hutan. Karena letaknya hanya ‘berhadapan’, dan daripada kami harus balik kanan pulang..maka kami sepakat untuk nanjak sekalian ke Sumbing.

Hari itu sabtu, 15 November 2015, kami berangkat ber enam, selain saya, Anggi, Akhjad, Kelik, ternyata Ajeng istri Anggi kena kami komporin dan akhirnya ikut bergabung. Selain itu teman dari Akhjad, Uchok juga mau bergabung. Jadilah kami berangkat ber enam dengan mobil Anggi.
Saat itu sudah masuk musim penghujan sehingga cuaca mendung dan bahkan gerimis.
Kami berangkat jam 13.30 dengan cuaca yang mendung syahduuu..sepanjang jalan dari Ungaran  ke Basecamp, mendung juga masih setia membungkus kekhawatiran kami tentang cuaca di atas nanti..
Sampai akhirnya kami sampai di basecamp Gunung Sindoro..yang kemudian kami harus kecewa karena ternyata saat itu di basecamp terpasang pengumuman bahwa karena kebakaran hutan, untuk sementara Ekspedisi Pendakian Gunung Sindoro ditutup sampai pengumuman berikutnya diterbitkan.
Kami akhirnya bermufakat jahat untuk mencoba ke basecamp Sumbing. Siapa tau Jalur Pendakian Sumbing masih Aman.
Benar saja, setelah kami sampai di basecamp, yang cukup luas, sekitar jam 5 sore, dan setelah kami berembug, kami putuskan untuk sekalian naik ke Sumbing. Kami kemudian check in dan istirahat sambil re packing.

Basecamp - Pos I Malim ( KM3 ) - 2 jam
Di Basecamp Stickpala kami mendapat selembaran peta jalur pendakian..dan setelah berdoa, packing siap, kami berangkat dari basecamp ke pos I.
Untuk akses ke Pos I masih relatif mudah diakses karena masih berupa jalan aspal perkampungan sampai batas rumah teratas dan disambung jalan batu sampai Pos I. Kalau orang bilang trek pendakian Sumbing adalah trek pendakian terberat di Jateng, memang benar adanya..dari awal pendakian kami sudah disambut dengan tanjakan yang bikin meleleh dengkul, seolah-olah tidak berujung, bonus nol..!!
Karenanya pendaki yang ingin menghemat tenaga dan waktu bisa menggunakan jasa ojek pangkalan ke POS I dengan biaya kurang lebih 25 ribu rupiah. Tergantung skill nego kita..
Kami, karena masih merasa muda dan ganteng, maka kami putuskan untuk jalan sampai puncak..Kami putuskan untuk lewat jalur lama yang menurut orang-orang lebih ringan. Pelan-pelan kami berenam berjalan, dan sekitar 2 jam kami baru sampai di POS I MALIM, lumayan lama memang. Di Pos I ini berupa Pos dengan area yang agak luas, area ini sekaligus menjadi batas vegetasi hutan dan kebun warga. Tidak ada warga yang jualan, hanya bapak-bapak warga menjadikan Pos I sebagai Pos Ojek.

Pos I Malim - Pos II GENUS ( KM4 ) - 2 jam
Sekitar 15 menit kami istirahat, kemudian kami lanjut jalan ke Pos II, jalan dari Pos I ke Pos II berupa jalan tanah dengan vegetasi yang mulai rapat dan tanjakan-tanjakan horor. Bagian terberat dari trek Sumbing via Garung Jalur Lama ada di trek ini,  Pos I ke Pos II. Benar saja, tanjakan yang kami temui semakin lama semakin sadis, dan bahkan tidak ada ampun dari Sumbing karena di beberapa tempat seperti tepat sebelum POS II kami sampai di ENGKOL ENGKOLAN Sumbing, tanjakan 60 derajat, tiga jalur dengan ujung saling bertemu. Sangat terjal dan licin apabila terkena hujan, bahkan di beberapa spot kami harus manjat. Di area ini akan sangat berbahaya bagi pendaki karena riskan terpeleset. 

Sekitar hampir dua jam kami berjalan, sampailah kami di POS 2 GENUS.
Saya, yang dua kali pendakian terakhir merasakan benar bagaimana beratnya jadi Sweeper di belakang pendaki terlemah, dari bawah mencoba di posisi leader, paling depan. Dan hasilnya memang benar-benar secara psikologis tidak seberat yang dibelakang. Saya tidak merasakan beban melihat temen-temen yang sudah leading didepan, seperti di Merbabu dan Ungaran sebelumnya, dan walaupun di Sumbing, trek pendakian memang SADIS akan tetapi saya tidak merasa seberat didua kali pendakian sebelumnya.  

Pos II GENUS

Di area POS II ini tidak terlalu rata dan tidak terlalu luas, hanya bisa menampung sekitar dua – tiga tenda saja..
Karena dengkul gemetar lemes dihajar trek Engkol-Engkolan, sekitar 30 menit kami istirahat sambil bongkar logistik dan rokok satu dua batang.

Pos II GENUS - POS III SEDELUPAK ROTO ( KM5 ) - 1 jam
Setelah semua siap jalan lagi, kami langsung menuju POS 3..dengan trek yang tak separah sebelumnya, sekitar satu jam kami sudah sampai di POS III SEDLUPAK ROTO, yang memang agak luas dan lumayan rata, akan tetapi karena tidak terlindung pohon maka area ini akan sangat riskan bila badai terjadi.
Yakiiin aman dah..kami mendirikan 2 tenda di Pos III ini, satu kecil untuk Anggi – Ajeng, sementara  Kelik, Akhjad, Uchok, dan Saya dalam satu tenda besar..setelah tenda siap kami masak air untuk kopi dan mie instan..semua selesai, kami lanjut tidur sampai pagi..karena memang dari awal pendakian kami sudah terlalu lebay...hahahaa

Dan pagi pun seakan malas menjelang, sekitar jam setengah tujuh pagi dengan matahari malu bersinar karena kabut, terpaksalah saya mengalah karena mules yang amat sangat..
Sambil masak kami packing. Dan setelah makan, packing siap, kami berangkat summit attack..( note : semua alat dan logistik kami packing, terpaksa muncak dengan beban maksimal karena tidak ada yang menjaga tenda saat kami muncak, apalagi denger-denger di Sumbing sering kejadian barang-barang yang ditinggal summit dicuri orang..)


POS III SEDELUPAK ROTO - PESTAN - PASAR WATU ( 2 Jam )
Sekitar jam 8 pagi kami mulai nanjak ke PESTAN (Peken Setan).. sekitar setengah jam kami sampai di Pestan, area Pestan ini sekaligus sebagai batas vegetasi hutan ke bawah dengan daerah non vegetasi ke atas arah puncak. Disini juga jadi titik bertemunya Jalur Lama dan Jalur Baru via Garung. Jalan ke atas dari sini berupa tanjakan syhadu dengan bongkahan batuan di area mendekati Pasar Watu. Tanpa pohon pelindung. Pemandangan di sekitar sini sudah mulai cantik..Cantiknya Gunung Sindoro jadi bonus dari alam Sumbing.

View Sindoro dari Pasar Watu


Dan mulai area ini kami mulai terpisah..Saya, Anggi, Ajeng di depan dan Akhjad, Ucok, Kelik jauh tertinggal di belakang..dan walaupun kami dibekali dengan Peta akan tetapi karena terlalu ‘cerdas’ pembacaan dan navigasi darat maka kami nyasar, dari yang seharusnya belok kiri ke bawah yang ada kami lurus bahkan sambil atraksi manjat tebing..hadehhhhh, It is not the altitude but Attitude gaess..
Wokeee..setelah sekitar 15 menit kami berjalan dengan jalan yang semakin lama semakin ilang ketutup ilalang, mulai jelas kecurigaan kami dan akhirnya kami balik kanan turun tebing ke bawah dan ketemu lagi jalur resminya.


Pasar Watu

PASAR WATU - WATU KOTAK ( KM 6 ) - TANAH PUTIH
Seingat saya cuma disitu area bonusan Sumbing karena tidak sampai 10 menit jalan trek sudah mulai nanjak lebih sadis lagi..Legend banget..!!
Sampai ketemu Pos WATU KOTAK, jalur mulai Pasar Watu sampai Watu Kotak berupa trek penuh batuan terjal dan ilalang di beberapa spot. Sekitar jam 10 siang kami sudah sampai di Watu Kotak, hanya sebentar istirahat kami lanjut lagi ke atas, dan perasaan kami Akhjad, Kelik dan Uchok semakin jauh dibelakang.

Dari Watu Kotak ke Puncak jalur masih didominasi dengan trek penuh Batu terjal dan masih tanpa bonus, sekitar satu jam jalan kami sampai di Pos TANAH PUTIH. Ngaapp..kami istirahat bentar dan lanjut ke Pos Simpangan Puncak dengan kira kira 40 menit jalan nanjak.
Kami istirahat di Persimpangan Puncak sekitar setengah jam sambil nunggu Akhjad Cs di belakang, akan tetapi karena lama mereka tidak muncul, maka kami putuskan untuk lanjut ke Puncak dan nunggu disana.
Sekitar 15 menit jalan nanjak lagi untuk bukit terakhir, tetep masih ndak ada bonus dari Sumbing..saat itu kami sudah bener-bener payah, energi kami sudah habis, hanya tinggal semangat saja yang bisa mengantar kami ke Puncak. Sekitar jam 11.50 siang kami sampai dipuncak dengan Ajeng yang pertama sampai, saya menyusul dan baru Anggi. Ndak tau semua tadi yang badan sampai mati rasa kecapean, tiba-tiba seger sehat lagi..Kawah Sumbing terbentang didepan kami. Langsung.. foto-foto apa  aja yang bisa difoto, sambil nunggu teman-teman di belakang..Agak sayang sih ndak bisa lihat cantiknya Sindoro dari puncak Sumbing, keburu kabut naik.

P U N C A K   B U N T U 

Catatan aja buat temen-temen yang pengen summit ke Sumbing, sebaiknya diusahakan untuk bisa sampai di Puncak sebelum jam 10 pagi..karena setelah jam 10 kabut lebih sering akan jadi penguasa Puncak..yang ada kita hanya bisa foto dengan view kawah Sumbing.

Puncak Buntu

Sekitar 20 menit kemudian kelik sampai di Puncak, disusul Uchok dan Akhjad yang tampak sangat kepayahan…
Ternyata mereka salah jalur, mereka ambil kanan di simpang puncak sehingga untuk sampai diposisi kami, Puncak Buntu, mereka masih harus muter nyari jalan lagi..ahihihi
Akhirnya kami berenam foto bersama di puncak sebagai kenangan..dengan background batu gunung ajahhh….karena masih kabuttttt….dan okee..masih ada 7 km full turunan yang artinya dengkul yang emang sudah gemetaran harus dipaksa kerja keras lagiii....

Masih di Puncak

Jam 2 siang kami sama-sama turun ke simpang puncak untuk kemudian masak dan istirahat..
Singkat cerita turun ke bawah, Ajeng, Anggi dan saya masih satu grup didepan..dan Akhjad, Ucok, Kelik grup kedua di belakang..dengan sisa air yang dibagi untuk dua grup dan carrier yang paling berat ada di team kami..disepanjang jalur turun tidak ada masalah dengan kaki kami, hanya beberapa kali kami terbanting terpeleset..

Simpangan Puncak

Jam 6 sore dan adzan mulai terdengar di bawah, gelap mulai memekat..saat itu tim kami masih di antara Pos 3 dan Pos 2,  belum lewat Engkol-Engkolan, senter kami juga sudah  mulai soak, kami tanpa tau arah hanya mengikuti jalur turun entah itu benar atau nyasar. Kami juga sudah meninggalkan Akjad, Uchok dan Kelik terlalu jauh..kami hanya khawatir mereka tidak memiliki senter yang cukup untuk penerangan mereka.
Puji Tuhan, sekitar jam 7 malam, kami sampai di POS I.. disana banyak tukang ojek yang ngetem..kami bertiga sepakat untuk naik ojek sajaah ke basecamp karena waktu sudah malam, gelap dan kami benar-benar kepayahan pemirsaaa..payahhh!!!
Kami sepakat dengan 25 ribu per orang, dan kami titipkan pesan ke bapak-bapak ojek agar kalau temen kami 3 orang, Akhjad dan yang lain sampai POS I dilanjut naik ojeg ke basecamp.
Jam 8 malam, kami siap kembali ke Ungaran, setelah bersih-bersih, makan dan packing untuk pulang, cussss...kami berangkat, dan karena kami masih kelaparan, kami mampir di lesehan Lamongan ayam Goreng tepat di depan kantor Kelurahan Kledung..

Sepanjang jalan sampai Ungaran via Temanggung & Sumowono, cuaca sangat berkabut dan di beberapa tempat bahkan hujan, dengan sisa tenaga dan bahkan belum tidur, Anggi membawa kami sampai di Ungaran sekitar jam 23.00 malam.
Ada cerita lain dari pendakian ini, bahwa selama satu bulan saya betengkar dengan istri. yang pada akhirnya saya tau karena salah saya juga, selama di Sumbing saya tidak sekalipun memberi kabar.
So..di-note ya vrohh..komunikasi tetep harus, jangan bikin orang yang nunggu kita khawatir. That's all it is..

..masih bersambung sih...


Jumat, 21 Oktober 2016

GUNUNG LAWU via CEMORO SEWU - CATATAN PERJALANAN SARMILI MOUNTAIN MADNESS

3265 Mdpl ( Cemoro Sewu )
mencoba menulis sajahh, daripada lupaa...
For Aro, my boy..


Tiga bulan setelah pendakian Gunung Slamet..setelah melewati liburan lebaran dan weekend datar seperti biasa..kami Sarmili berproses menuju sebuah destinasi baru pendakian, dimana belum ada satupun dari kami yang pernah mendaki kesana.
Dari awal memang Agustus merupakan sebuah bulan yang harus kami lewati dengan sebuah pendakian..seperti mindset orang pada umumnya, di Bulan Agustus bertepatan dengan perayaan Kemerdekaan RI..maka akan banyak ditemui kegiatan kegiatan pendakian yang bertemakan kemerdekaan..yang pada umumnya berpuncak pada upacara bendera dipuncak gunung tepat pada hari kemerdekaan, bla bla bla.. Akan tetapi kami tidak terlalu ingin mendaki tepat pada momen kemerdekaan, karena kami tau pasti akan penuh sesak dengan para pendaki lain.

Sejak liburan lebaran, saya dan Anggi sebenarnya merencanakan untuk dapat mendaki pada awal bulan Agustus, sebelum tanggal 17. Akan tetapi karena teman-teman punya keperluan masing-masing terlebih Akhjad yang katanya susah nyari waktu kalau tanggal muda, Kelik yang sibuk dengan jualannya, dan teman Akhjad; Kelles dan Uchok yang susah ngatur jadwal cuti mereka di awal bulan, mau tidak mau kami harus berkompromi. Akhirnya kami sampai pada perayaan kemerdekaan Indonesia ke 70 tanggal 17 Agustus 2016, dengan keputusan yang belum bulat mengenai jadi atau tidaknya trip kita kali ini.
Satu hal yang pasti, tujuan kami adalah Gunung Lawu..

Selama persiapan kami, karena saya memang belum tau keadaan dan rute yang akan dilalui, maka saya banyak banyak browsing untuk nyari tau apa saja pantangan dan trik pendakian terbaik ke Gunung Lawu. Jujur saja saya sempat ngeper, karena menurut beberapa tulisan yang saya baca, mereka menceritakan bahwa Gunung Lawu bukan Gunung sembarangan. Ada kesakralan terkait petilasan-petilasan di gunung Lawu itu sendiri.
Tidak terasa, hari itu tanggal 21 Agustus kami sempatkan nongkrong untuk membahas jadi tidaknya kami berangkat ke Lawu. Dan Akhirnya setelah dikabarkan ke Kelles, Uchok dan Kelik, mereka setuju kita jadi berangkat ke Lawu minggu depan tanggal 27 - 28 Agustus 2016.
Sampai hari kamis semua berjalan lancar untuk persiapan kami, baik sewa menyewa alat ataupun keperluan lain. Kami sudah janjian sebelumnya bahwa maksimal Kamis kami harus briefing dan Jumatnya kita packing. Dari situ semua keperluan sudah bisa dihandle dan dikumpulkan..hanya saja ternyata Kelik yang tadinya mau ikut, akhirnya batal dengan alasan istrinya ulang taun..

The story must goes on, dan akhirnya kami mantap untuk tetap berangkat meski dengan jumlah personil 5 orang minus Kelik. Jumat dan Sabtu kami packing di tempat Anggi, tanpa saya sadari ternyata semalam Anggi sudah ngompori mas Hari untuk ikut. Mas Hari adalah tetangga kami di Sarmili, umurnya sekitar 38an dan dia belum pernah naik gunung. Akan tetapi karena bodynya Porter ala Rambo maka kami yakin Mas Hari bisa jadi berkah untuk kami, terutama untuk bawa carrier yang paling berat..hahahaha..
Kebetulan Mas Hari ini baru aja kena apes, dompet seisinya ilang jatuh ndak tau dimana ditambah dia kena tilang gara-gara ndak bawa SIM yang juga ikut ilang. Jadi lah Mas Hari kesetanan paling semangat ikut untuk sekedar buang sial dan refreshing mungkin. pffttt....

Oke, packing done..preparation complete..Saatnya berangkat. Kita sudah berencana akan berangkat sabtu pagi sekitar jam 11, karena paginya Anggi harus ikut test psikologi kerjaan barunya.
Jam 11 semua personel sudah siap di Sarmili Basecamp, Anggi, Mas Hari, Akhjad, Kelles, Uchok dan Saya.
Check and recheck akhirnya kami berangkat start jam 12 .11. Semua berjalan lancar tanpa macet, Bawen, Salatiga, Boyolali, Solo, Surakarta, Karanganyar dan Magetan semua lancar. Untung saja Anggi tau betul daerah yang kami lalui. Selepas Salatiga, kami mampir diwarung padang untuk makan siang, saat itu sekitar jam setengah 3 sore. Setelah makan kami lanjutkan perjalanan, melewati jalur ke arah Tawangmangu yang cukup cantik. Banyak spot untuk berfoto di sepanjang jalur ke Tawangmangu. Mendekati Tawangmangu kami sempatkan beli jeruk untuk sekedar penyegar tenggorokan kami. Sekalian kami komplitin barang-barang bekal kami. Karena sudah cukup sore sekitar jam 4 sore kami langsung lanjut perjalanan ke Basecamp Pendakian. Di titik ini kami masih bingunglewat Cemoro Kandang atau Cemoro Sewu. Dan setelah kami berunding akhirnya kami putuskan untuk lewat Jalur Cemoro Sewu Magetan. Karena pertimbangan waktu, meskipun dikenal dengan trek yang lebih curam akan tetapi waktu pendakian yang relatif lebih cepat menjadi dasar pertimbangan kami.

Gapura Basecamp Cemoro Sewu

Basecamp - POS I Wes-Wesan 2163 Mdpl ( 1 jam )
Jam setengah 5 sore kami sampai di Basecamp Cemoro Sewu, bagi tugas, kami pun segera check in ke Basecamp dan check perlengkapan kami. Saya sempatkan membeli beberapa emblem dan stiker pendakian Lawu untuk kenangan.
Sekitar jam 5 tepat, setelah persiapan dan registrasi, kami foto bersama didepan Gapura Cemoro Sewu, dan kami langsung start pendakian ke pos I.


Sepanjang jalur menuju pos I, saya, dengan beban yang lumayan berat, mulai kepayahan karena mungkin kaki saya kaget, anak-anak langsung ngegas tanpa ngasih pemanasan ke otot. Disamping itu beberapa spot jalan di jalur ke Pos I lumayan nanjak, tapi sambil jalan, kaki saya mulai panas, dan saya pun bisa mengimbangi tempo pendakian anak-anak. Karena tenaga masih cukup kuat dan kebetulan masih kebagian sinar matahari, sepanjang jalur ke Pos I kami habiskan waktu dengan foto-foto bersama, karena kebetulan Akhjad dan Mas Hari bawa kamera digital.  Sekitar satu  jam jalan santai kami sampai di Sendang Panguripan, dengan sisa sinar matahari yang sudah mulai redup. Di Sendang Panguripan ini ada warung makan dan kamipun jajan gorengan dan madu untuk pengganjal perut dijalan. Karena sudah menjelang gelap kami sekalian persiapan senter dan headlamp.
Sekitar setengah jam kemudian kami sampai di Pos I Wes Wesan 2163 mdpl

POS I Wes-Wesan - POS II Watu Gedeg ( 2 jam )
Karena di Sendang Panguripan kami sudah cukup istirahat, kami langsung otewe ke Pos II, karena katanya jalan dari Pos I ke Pos II adalah trek terpanjang di jalur Cemoro Sewu. Dan benar saja dalam keadaan gelap, hampir 2 jam kemudian kami baru sampai di Pos II. Di titik ini, kondisi Kelles dan Mas Hari masih sangat fit, mereka berdua leading sekitar 5 menit didepan sementara saya, Anggi, Uchok dan Akhjad tertinggal di belakang. Parahnya, sekitar sepertiga jalan ke Pos II hujan turun menghajar kami. Di Basecamp sempat optimis karena keadaan cuaca, meski berkabut tipis, info dari salah satu warga bahwa sudah seminggu tidak pernah hujan sempat bikin kami semangat. Kebetulan waktu itu sudah hampir jam 8 malem, dengan segera kami buka jas hujan dan ponco kami.

Break di Pos II

Sambil menahan dingin kehujanan, kami terus melanjutkan perjalanan ke pos II. Sekitar jam setengah 9 malam kami sampai di Pos II Watu Gedeg. Di Pos II ini terdapat warung makan dan bangunan pos beratap seng. Dan meski di dalam pos II pada mulanya penuh, tapi masih cukup paling tidak untuk Kelles istirahat. Saat itu hujan sudah mulai reda dan kami ber-enam pun sudah dapat posisi di Pos II, karena pendaki yang tadi break di Pos II mereka lanjut jalan lagi. Beruntung bagi kami karena tidak lama berikutnya hujan deras turun lagi menghajar kami. Saat itu kami sudah bisa menggelar matras dan sleeping bag kami cukup untuk kami ber-enam tidur.
Di pos II ini kami akhirnya harus mengalah degan alam, sampai pagi kami dikasih kesempatan istirahat bahkan tidur cukup pulas untuk ukuran orang yang basah kuyup kehujanan. Bersama kami ada beberapa orang Bule dalam 2 team yang berbeda, yang ikut istirahat di Pos II. Saat hujan turun untuk kedua kalinya, kami sepakat kalau sampai jam 1 dini hari hujan tidak juga reda, maka kami cancel trip to Summit. Dan kami sudah berencana untuk esok pagi langsung turun ke Telaga Sarangan untuk sekedar naik prau disana. Bahkan sejak dari rumah, (*note : DO NOT TRY THIS ... ) Akhjad Cs sudah membawa 1,5 liter tuak yang rencana nya baru akan dibongkar di puncak. Tetapi karena sampai sekitar jam 2 dini hari masih saja turun hujan, maka mereka sepakat untuk menuang 'air setan kedamaian' lebih dini di Pos II. Sampai habis kami bagi rata dengan beberapa teman yang baru kami kenal. Bahkan mas Hari yang dalam posisi tidur pules kami paksa bangun. Akhjad dan Uchok bahkan terlihat sampai benar-benar "mabuk". Dengan hati berat, saya terpaksa merelakan kesempatan ke puncak Lawu. Dengan berat hati pula saya tertidur sampai rasa mules itu mengalahkan rasa males saya. Langsung saya jawab tantangan alam di perut saya. Kebetulan pagi itu cerah dan panas, beberapa rekan pendaki sebelah sudah mulai packing untuk lanjut ke puncak. Entah siapa yang mulai tiba-tiba Anggi menawarkan kembali ke kami semua; Puncak atau BasecampLANJUT PUNCAK..kami semua kompak menjawab. Setelah beberapa pertimbangan akhirnya kami putuskan lanjut ke Puncak tiktok dengan tas bekal secukupnya dan Carrier yang lain kami titip ke warung di Pos II.


POS II Watu Gedeg - POS III Watu Gede ( 1 jam )
Setengah 8 pagi kami lanjutkan ke Puncak dengan satu Carrier dan satu Daypack.
Neng kene rusake..Salah kami sendiri, semalam kami habiskan 1,5 liter tuak, dan akhirnya itu berimbas ke tubuh kami. Mas Hari kepayahan meski tanpa beban, Anggi kepayahan dengan Carrier, Akhjad ribut dengan urusan mulesnya.. Tinggal saya, Kelles dan Uchok leading sekitar 10 menit didepan. Semakin ke atas mas Hari, Kelles, Akhjad semakin payah dibelakang. 

Edelweis : difoto boleh, dipetik jangan..

Sekitar jam setengah 9 saya, Anggi dan Uchok lebih dulu sampai di Pos III WATU GEDE, Pos ini berupa pos dengan atap seng, tanpa ada warung makan. Karena lokasi yang agak sempit kami hanya sekedar break minum langsung lanjut ke Pos berikutnya.

POS III Watu Gede - POS IV Watu Kapur ( 1 Jam )
Sekitar satu jam kami berjalan dengan trek yang lebih sadis dari  pos III kami sampai di Pos IV WATU KAPUR.


Area selepas Pos V

POS IV Watu Kapur - Sendang Drajad - Puncak ( 1,5 Jam )
Di Pos IV hanya lahan yang tidak seberapa luas tapi dengan pemandangan yahuud.. Setengah jam berikut kami bertiga duluan melewati jalan datar, Sumur Jolotundo berada di samping kiri jalan arah ke puncak. Dan kami sampai di Pos V JOLOTUNDO sekitar jam 10 an


                            Area selepas Pos V

Bonus pemandangan asooy super cuantik terhampar di Pos V dan setelahnya..Sabana dan jalan datar berbatu rapi siap kami cangkul.. Kami bertiga lari sampai ke SENDANG DRAJAD.  Disana kami bertiga sempat istirahat agak lama, sambil ngopi dan pesen mie rebus kami istirahat sambil nunggu Mas Hari, Kelles dan Akhjad. 
Sekitar 15 menit setelahnya mereka baru sampai, dengan wajah pucat Mas Hari masih menahan payah karena mungkin efek dari tuak yang semalam kami minum. Akhirnya setelah ngisi air di Sendang Drajad, kami siap untuk lanjut ke puncak, sambil mas Hari kami paksa untuk bisa muntah untuk menghilangkan efek tuak. Ternyata setelah muntah wajah mas Hari agak cerah, dan kami janjikan untuk cari ant*ngin segera setelah turun nanti. Saya dan Uchok leading duluan sekitar 5 menit didepan, dengan tenaga yang belum begitu terkuras kami attacking the summit  berdua.
Setengah jam kami menyusuri tanjakan cinta gunung Lawu, akhirnya kami sampai di area kecil sebelum puncak, Kidang Lawu begitu tertulis di papan kecil. Saya minta tolong Uchok untuk ambil gambar disitu karena tugu Puncak sudah kelihatan. 

Puncak Lawu Hargo Dumilah 3265 Mdpl

Dan benar saja tidak sampai 5 menit kami sudah menjejak Puncak Hargo Dumilah tepat jam 10.45 pagi. 10 menit berselang Anggi, Ahjad, Mas Hari dan Kelles menyusul sampai di puncak. 

Sarmili di Puncak Tertinggi..

Kami puas saling foto bahkan foto berdua sama adek bule gemes.. ( yang pada akhirnya nanti istri saya nangis liat foto itu..but now we're just fine!!hahaha ).



Pejalanan Turun Puncak - Basecamp ( 4 jam )
Hampir setengah jam kami habiskan waktu di Puncak Hargo Dumilah sambil foto, karena saat itu mendung dan mulai gerimis, akhirnya rencana semula mampir ke Warung Mbok Yem terpaksa kami cancel. Kami turun lewat jalur naik..dan karena memburu waktu, takut kehujanan maka segera kami menuju ke Pos V. Diiringi gerimis yang mulai deras sekitar setengah jam kami sampai pos V langsung masuk  warung yang memiliki ruang yang luas. Disitu kami sarapan dan minum teh anget..
Syahduuu broo..karena begitu kami masuk istirahat, bresssssshhhh..hujan langsung aja turun kaya di tumpah. Keberuntungan lain buat kami saat itu. Tetapi entah kenapa rasa lapar yang ada ilang, karena begitu kemasukan nasi 3 sampai 4 suap langsung kenyang. Temen-temen lain juga tidak ada yang sanggup menghabiskan satu porsi kecil nasi telur. Tidak lupa kami beli ant*ngin 2 sachet untuk mas Hari yang masih agak pucat. Setelah hujan reda, sekitar 15 menit kami tunggu dan pastikan keadaan cuaca sudah stabil terang. Akhirnya kami putuskan lanjut ke bawah, dengan cuaca yang tidak terlalu terik dan tanpa beban berlebih kami gas pol ke pos IV dan langsung ke pos III..Sekitar jam 3 siang kami sudah tiba di pos II, saya, Anggi dan Mas Hari sampai duluan. Sepanjang jalan turun mas Hari terlihat sangat bersemangat karena mungkin rasa mual dan pusing sudah sembuh berkat ant*ngin 2 botol. Bahkan saking semangatnya  Mas Hari kesandung akar, sampai kakinya sobek lumayan dalem dan harus kami carikan perban dan bet*dine dari sesama pendaki.  Sekitar 15 menit kemudian Akhjad, Uchok dan Kelles menyusul sampai di Pos II.

Setelah bayar biaya titip tas, kami akhirnya bagi tugas lagi bawa tas. Dengan saya, Anggi dan Mas Hari masih leading didepan kami bergegas menuju basecamp. Dan sekitar setengah jam kemudian kami sampai di Basecamp sekitar jam 4 sore. Kami langsung masukkan tas ke mobil dan nyari makan dan teh anget. Cukup lama kami menunggu Akhjad, Uchok dan Kelles bahkan sampai hujan turun cukup deras. Kami sempat khawatir dengan mereka bertiga masih di jalur pendakian dengan keadaan hujan. Sampai sekitar jam 5 sore Uchok sampai duluan dan disusul 5 menit dibelakangnya Akhjad dan Kelles. Ternyata di sekitar pos I Kelles terkilir dan mau tidak mau harus break. Puji Tuhan,  kami semua sampai Basecamp selamat, Kelles pun sudah baikan.
Setelah semua carrier masuk mobil, dipaksain Akhjad, Uchok dan Kelles tidak sempat istirahat hanya langsung beli teh anget dan cilok kami langsung bergegas pulang. Dengan keadaan hujan sepanjang jalan sampai rumah dan dengan segala dinamika dijalan tanpa sempat untuk istirahat makan malam, kami sampai di Basecamp Sarmili sekitar jam 10 malam. Setelah bongkar kilat logistik kami, saya langsung pulang ke Mijen dan saya tinggal Kelles, Uchok dan Akhjad untuk packing barang-barang mereka sendiri, karena rencananya malam itu juga mereka, Uchok dan Kelles akan langsung otewe Semarang.

Untuk Anggi, mas Hari dan Akhjad mereka rencana akhir September muncak ke Gunung Ungaran. Akhjad dengan mbak Yani, Mas Hari dengan Mbak Rita..anak-anak ora urus kata mereka..
Well, GUDLAG.., saya monitor dari Basecamp Sarmili saja…

V A M O S    S A R M I L I …… \m/.