Rabu, 26 Juli 2017

PUNCAK GUNUNG MERAPI part 2 via NEW SELO - CATATAN PERJALANAN SARMILI MOUNTAIN MADNESS

*welcome to the world, Keanu...



-majestic merapi-

HAPPY LIFE IS SIMPLE..eat, sleep and hike!!


ini ketiga kalinya saya naik ke Merapi..

7 tahun lalu untuk yang pertama kali, dan 4 bulan kemarin untuk yang kedua..dua kali itu pula berakhir di Pos II dan batas pendakian Pasar Bubrah. Badai di Pasar Bubrah dan mabuk pesawat, alasan kenapa saya gagal summit didua kesempatan itu. 

Ketiga kalinya ini, kami, TIM SARMILI berangkat berlima; Anggi, Ajeng, Mas Hari, saya dan temen kuliah dulu Claus. Akhjad terpaksa tidak bisa ikut karena ada Tirta, anaknya. 
Tiga minggu sebelumnya kami sudah deal rencana ke Merapi. Sewa dan belanja logistik sedikit terbantu karena mas Hari sudah beli Carrier, tenda dan Flysheet. Untuk Nesting, lampu tenda dan Sleeping bag kami masih harus sewa.

Sabtu, 22 Juli 2017 

Setelah dari pagi harinya saya belanja logistik, kami berangkat jam 16.30 dari Basecamp Sarmili. Kami berangkat via Magelang - Ketep - Selo untuk sekalian jemput Claus dan nganter uti nya Alisha. Sempet panik karena mendung yang kayaknya udah berat banget, tinggal jatuhnya. Stick to the plan..kepalang tanggung, kami nekat berangkat. Sampai di Magelang sekitar jam 17.30. Kami nganter Alisha dan sekalian jemput Claus. Jam 18.15 kami berangkat ke Selo via Blabak. Sialnya, tinggal sekitar 2 Km menjelang simpang Kalibaru Selo, jalan Ketep - Selo macet total karena ada pengecoran jalan. Hampir satu jam kami nunggu dibawah tebaran bintang. Dan akhirnya kami baru sampai di Basecamp Barameru sekitar jam 21.00 malem. Langit cerah dari empat penjuru dan Milkyway terlihat emejing. Ngurus pendaftaran, simaksi dan urus parkir di New Selo, kami baru bisa start jam 22.05 dari parkiran New Selo.


Parkiran New Selo - Pos II ( 2534 mdpl )

Berdoa dan yakin kuat. Saat itu meski sudah cukup malam, tapi masih ada beberapa kelompok yang baru start naik. Beberapa kali kami overtake rombongan pendaki, sampai perut saya panas dan akhirnya saya muntah. Mungkin di parkiran tadi terlalu banyak makan cilok pedes. 
Lumayan berat langkah kaki dan lumayan ngantuk, tapi setelah muntah, perut nyaman dan perlahan kaki mulai panas meski mata masih lengket. Kondisi trek kering, aman tapi berdebu dibeberapa titik. Kami nanjak stabil dengan saling berdekatan sampai sekitar 1,5 jam kemudian kami tiba di Gerbang Taman Nasional Gunung Merapi. Senter saya mati, meski dengan batere baru. Terpaksa untuk penerangan saya harus pake flash dari Hp. Tanpa istirahat kami lanjut keatas sampai sekitar 1 jam kedepan kami baru sampai di POS I WATU BELAH

Kami istirahat sekitar setengah jam, ngerokok, ngemil dan ngobrol kirun sambil menikmati view Milkyway. Meski cerah tapi sangat dingin cuaca malam itu. Daripada kami kedinginan, kami lanjut nanjak pelan sambil nunggu kaki panas lagi. Sekitar satu jam dihajar trek ke pos II Merapi, akhirnya kami sampai di sekitar Pos II , sekitar jam 02.00. Kami sepakat untuk cari lokasi untuk ngecamp. Di Pos II ini area kempingnya ada di bawah sebelah kanan treknya. Sepintas dari jalan memang hanya bisa menampung beberapa tenda. Tapi coba cari area diantara pohon-pohon Cantigi. Banyak area yang bisa untuk ngecamp. Seandainya terjadi badai akan lebih aman karena terlindung oleh pohon-pohon. Setelah dirasa aman dan cukup luas, kami buat dua tenda. Saya kebagian nyiapin logistik, sementara Anggi Ajeng Mas Har dan Claus merangkai tenda. Setengah jam kemudian, tenda siap, teh manis panas dan mie rebus pedas menyusul siap.
Satu tenda Anggi dan Ajeng, satu lainnya; saya, Mas Hari dan Claus. Sekitar jam 2.30 kami lanjut tidur. Puji Tuhan, nyaman tanpa kedinginan ataupun gerah dan tanpa ada yang ngorok, kami pules tidur sampai sekitar jam 5 pagi, Anggi dan Ajeng bangunin kami untuk Summit. Kami memang sepakat untuk tidak ngejar sunrise di Puncak. 

Pos II - Puncak Tusuk Gigi

Setelah packing,  beberapa barang kami kunci di tenda. Snack, nasi lele, dua Carrier, satu Daypack dan 2 botol air 1,5 liter kami bawa ke puncak. Keluar dari area camping  kami berbagi bersama matahari yang saat itu tepat di horizon. Setelah foto-foto, kami lanjut naik. Sekitar jam 6.00 kami sudah melewati batas vegetasi, Watu Gajah. Terlihat puncak Merapi yang gagah setia memprovokasi mental dan fisik kami. Termasuk perut saya, mules udah mulai terasa dititik terdalam perut saya. Sedikit teralihkan oleh pemandangan sempurna 360 derajat. Gagahnya punggungan bukit merapi dan cantiknya Merbabu terbentang sebagai tambahan bonus perjalanan semalam. It's all worth to fight for..

Menuju area Pasar Bubrah, Anggi dan Ajeng leading didepan, sekitar setengah jam kemudian kami sampai di Pasar Bubrah. Batas terakhir pendakian aman..break sekitar 10 menit, sambil kami mlongo dengan penampakan trek ke atas. Kelihatan sadis dan rawan badai. Sangat curam dan terjal tanpa ada perlindungan. Mantepin hati dan kaki..yakin bisa..lanjut otewe mengarah ke Puncak.



 Pasar Bubrah 


take off to the moon..


Sebagai catatan, Semua pendakian Merapi sebenarnya hanya diijinkan sampai di Pasar Bubrah. Untuk selebihnya, pendakian menjadi tanggung jawab pribadi pendaki masing-masing. Jadi, untuk pendaki yang memang tidak dalam keadaan baik, apalagi tidak yakin.. disarankan untuk balik kanan, mundur teratur. Sangat berbahaya, baik kondisi trek maupun kemiringan treknya. 
Selepas Pasar Bubrah, trek sepenuhnya krikil kecil dan pasir. Sangat melelahkan, bahkan tiap maju dua langkah kita dapat bonus melorot satu langkah plus pasir krikil masuk ke sepatu..Sumpah..
Sangat dianjurkan untuk pemakaian Gaiter biar sepatu ndak kemasukan pasir.

Ada 3 jalur trek yang sama-sama menanjak dan curam, yang nantinya ketemu di satu jalur. Menuntut kita untuk sangat berhati-hati. Saya memilih lewat jalur paling kiri. Setengah pendakian ke puncak, saya sampai di simpangan turun ke kiri mengarah ke punggungan batu. Anggi dan Ajeng tetap lewat jalur tengah, sementara Claus lewat jalur yang paling kanan. Asli tersiksa betul di trek pasir. Karena beban carrier yang tidak terlalu berat, saya dan mas Hari ambil jalur ke kiri lewat tebing batu. Lumayan enak tanpa harus melorot. 




50 Meter dibawah Puncak



Batu terakhir sebelum area Puncak Tusuk Gigi


Mulai dari sini sampai ke puncak, batuan vulkanik jadi trek yang harus dilewati. Ajeng dan Anggi jauh leading di depan. Hingga sekitar 45 menit berikutnya, saya menyusul Anggi dan Ajeng tiba di simpang puncak Merapi. Saya ambil jalur ke kanan mengarah ke Puncak Tusuk Gigi. Sempet ngeper begitu ngelihat jurang kawah merapi yang massif.  Yakin saya mampu, akhirnya saya masih harus manjat batu terakhir ke area Puncak Tusuk Gigi. Sekitar jam 7.45 pagi saya sampai di area aman di Puncak Tusuk Gigi.

Merapi memang asli gagah, sangat bangga kaki saya boleh menginjak satu sisi puncaknya. Pesen saya, untuk sangat berhati-hati di area puncak ini, karena kita berhadapan dengan kawah yang sangat dalam dan dilain sisi jurang punggungan puncak yang terjal. Selain itu area yang sempit dan kondisi batuan yang labil di beberapa titik. 

Sambil nunggu Mas Hari dan Claus sampai di Puncak. Saya bongkar logistik untuk masak air. Dari bawah sengaja kami bawa bekal nasi lele sambel tomat. 20 menit kemudian Mas Hari dan Claus sampai di Puncak, teh panas siap kami pun langsung sarapan. Sambel dari uti nya Alisha, menjadi penyempurna berkah pagi itu.  Nikmat mana lagi yang kau dustakan broo???



Simpangan Puncak



SARMILI di Puncak Merapi



jauhhhh, masih gantengan ane....


Selesai sarapan di Puncak Gunung Merapi, lanjut foto-foto. Kebetulan ada om bule dari Rusia. Sekalian kita ajak foto sama-sama. Meski tepat dibibir kawah, kebetulan arah angin mengarah ke kawah, menjauhkan uap gas belerang dan kemungkinan gas beracun dari kami. Satu lagi kesempurnaan pagi di Puncak Merapi.

Turun Puncak - New Selo

Puas foto-foto di puncak, kami turun sambil selfie dan wefie. Sangat bersyukur diijinkan Tuhan mencumbu Merapi yang Agung. Sepanjang jalur turun ke Pasar Bubrah, masih banyak kami bertemu pendaki yang mengarah ke Puncak. Hingga kami sampai pada jalur pasir dan kerikil. Disini kami gantian merasa sangat bersyukur, karena seolah-olah jalan dua langkah ke bawah dikasih satu bonus langkah ikut pasir yang melorot. 



Trek Pasir dan Kerikil


Jam 9.10 kami sudah sampai di Plang peringatan batas pendakian area Pasar Bubrah. 
Kami istirahat sambil foto-foto lagi dengan background Majestic Merapi. Sekitar setengah jam berikutnya kami baru sampai di Plang Pasar Bubrah. Foto-foto alay lagi( dari 3 Hp kita, baru saya tau ada 450an foto yang kita ambil saat itu ), berbanding terbalik dengan 4 bulan lalu, terakhir kami kesini. Saat itu kami dihajar badai sejak sampai di Pasar Bubrah. View ke atas 0% saat itu. 

Sekitar 10 menit kemudian kabut mulai naik menutup sisi kiri Puncak Merapi arah turun ke Watu Gajah. Merbabu menghilang terhalang kabut. Ya udah sih, karena sudah puas foto-foto ini dan spot foto juga terbatas, kami langsung lanjut. Sekitar jam 10.00 kami sudah sampai di Pos II, area Camping kami.
Saya langsung masak untuk bikin teh dan kopi. Yang lain bongkar tenda dan packing untuk turun. Kebetulan Claus, sore harus sudah kembali ke Jogja. Setelah packing siap, kami masih lanjut untuk beberapa saat,  nikmatin teh anget sambil bakar rokok. 


Setengah sebelas, kami turun mengarah ke Pos I. Karena tidak begitu berat pendakian kali ini, santai kami berjalan hingga satu jam berikutnya kami sampai di Pos I. Karena Pos I penuh dengan pendaki, kami istirahat sekitar 10 menit di bawah Pos I. Anggi, Claus dan Ajeng didepan, saya dan Mas Hari berdua di belakang. Satu jam berikutnya kami sampai di Gerbang Taman Nasional. Istirahat lagi sekitar 10 menit. Dan akhirnya kami sampai di New Selo sekitar jam 13.00. Masih dengan cuaca yang cerah, secerah hati kami..


Langsung cuci kaki dan bersih-bersih. Sempet makan siang sebentar, jam 13.30 setelah ambil KTP di Basecamp Barameru, kami langsung pulang ke Magelang. Kondisi jalan juga masih macet dititik yang sama dengan semalam. Jam 15.00 kami sampai di Magelang untuk nganter Claus dan jemput Alisha. 

Fix, jam 15.30 kami pulang ke Ungaran. Dan Puji Tuhan kami sampai di Ungaran sekitar jam 17.30. Kalau kemarin pulang dari Merapi Anggi yang menyambut kami dengan senyum kecut, kali ini Akjhad yang menyambut kami dengan berkaca-kaca..





Kamis, 04 Mei 2017

PUNCAK GUNUNG MERBABU Via Basecamp SUWANTING - CATATAN PERJALANAN SARMILI MOUNTAIN MADNESS

View Puncak Suwanting

Long weekend,  22 April dan 29 April 2017. Masing-masing tiga hari libur, waktu yang pas untuk naik gunung. Begitulah kira-kira yang kami dan mountaineer lain pikirkan.  Sesuai rencana awal bulan, sebenarnya saya dan Akhjad sudah sepakat untuk naik ke Gunung Prau. Ucok pun sudah kami hubungi, Anggi deal. Hanya mungkin mas Hari positip absen karena sudah ada jadwal pulang kampung.
Hari berganti wajar, sampai tanggal 19 April, tiba-tiba Anggi ngajakin ke Sindoro. Semua siap berangkat, tinggal nunggu saya..kebetulan weekend 22 April besok tepat  wedding anniversary saya. Feeling dari awal gak enak, ternyata bener..saya ga bisa berangkat karena istri ga kasih approval. Takut sial, ya udah terpaksa saya tinggal di Sarmili sementara yang lain naik ke Sindoro. Minggu sore 23 April, ada kabar kecelakaan di Gunung Prau, 11 Pendaki kena petir di Prau, 3 orang tewas.  Ngalamat..Saat itu juga, Ekspedisi pendakian ke Gunung Prau CLOSED. Kampr*t… langsung lemes, apalagi Ucok sudah keburu ngajuin cuti untuk akhir bulan. Terpaksa kami cari tujuan lain, yang akhirnya kami sepakat untuk naik ke Merbabu. Dan karena sudah 5 kali saya naik ke Merbabu ( semua via Wekas ), saya usul untuk kali ini kita naik lewat jalur yang masih belum pernah kita lewati. Via Suwanting.

Sabtu 29 April 2017
Karena efek semalem ronda sampai jam 3 pagi, jam 9 saya baru bangun. Akhjad pun sudah bangun. Sambil nunggu Ucok dari Semarang merapat ke Sarmili, kami packing yang bisa kami siapkan.  Rencana, kami berangkat pagi, supaya kebagian sunset di punggungan bukit. Jam 11.00 kami berangkat, kami lewat Bawen – Salatiga – Kopeng – Ketep. Saya dibonceng Ucok dan Akhjad bawa motor sendiri. Sekitar jam 13.00 siang kami sudah sampai di Basecamp Suwanting. Basecamp ini terletak di Dusun Suwanting, Desa Banyuroto, Kecamatan Sawangan, Kab. Magelang. Lokasinya terletak tak jauh dari Ketep Pass. Kami sampai di basecamp disambut dengan hujan gerimis yang perlahan mulai deras. Dengan penuh leramahan warga dan petugas Pos Pendaftaran menyambut kami. Parkir motor terima jadi. Sekitar hampir dua jam kami menunggu hujan reda di basecamp. 

Basecamp - Pos 1 Lembah Lempong ( 40 menit )

Jam 4 sore hujan reda dan kami pun sudah siap memulai perjalanan. Berdoa dan langsung meluncur. Gerimis tipis masih setia mengiringi kami. Jas hujan dan ponco juga sudah kami pakai. Jalur dari basecamp ke Pos 1 berupa jalan cor plesteran membelah kampung dengan view perkebunan warga. Setelah 30 menit jalan, kami sampai di batas kebun dan hutan pinus. Disana sudah ada bangunan semi permanen tempat warga berjualan. Disitu juga adalah pos Ojeg dengan biaya 10K sampai ke basecamp. 
Cukup menguras tenaga kami trek ke Pos 1, kami istirahat sekitar 10 menit. Setelah satu batang rokok habis baru kami lanjut jalan masuk hutan pinus.

Pos 1 - Pos 2 Shelter Bendera ( 3 jam )

Karena habis hujan, udara jadi seger banget. Tapi karena beban berat di punggung, kami kompak mulai ngap dan ketinggalan nafas.
Beruntung banyak area untuk sekedar ngambil nafas.
Jalur masih sangat nyaman dengan bonus melimpah. Sebelum sampai Pos 2 kita harus melewati beberapa check point. 

Sekitar setengah jam kami jalan, kami sampai di Lembah Gosong. Kami istirahat di area dengan view cantik ke arah Merapi. Warna jingga di barat juga mulai 'menghangat'. Sindoro Sumbing nampak anggun saling berhadapan.


Happy 5th anniversary ny dearest wife ..

Vegetasi didominasi oleh pinus, dengan kondisi jalan mulai terjal dan sangat licin sisa hujan tadi sore. Tidak lama berselang kami sampai di Lembah Cemoro. Di area ini terdapat Pos Air yang oleh pengelola ditampung di tong plastik. Gelap dan pekat, matahari udah bobok siap-siap buat surprise besok pagi. Senter pun sudah siap. Kami lanjut jalan dengan sedikit payah mengatasi trek yang licin. Hampir 40 menit kami jalan hingga tanpa kami sadari, kami sampai di Lembah Ngrijan.

Gerimis mulai turun kembali, yakin tidak akan bertambah parah, kami lanjut jalan pelan-pelan mengarah ke Pos 2. Sekitar setengah jam berikutnya kami sampai di Lembah Mitoh. Gerimis sudah mulai reda, Masih dengan trek yang sama, licin. Kaki mulai terasa panas, dan hampir 40 menit kami jalan sambil melawan sakit dan capek. Kami akhirnya sampai di Pos 2 ( Shelter Bendera ).  LUmayan luas dengan area memanjang ke arah atas. Beberapa tenda berdiri disana. Bahkan ada kemarin, salah satu pendaki terkena hypothermia. Kami istirahat sambil buka logistik sekitar 15 menit.

Pos 2 Shelter Bendera _ Pos 3 Ndampo Awang ( 2 jam )

Langit cerah, bintang berhamburan tanpa polusi cahaya. Dengan mantap kami lanjut jalan ke Pos 3. Trek dari sini mulai gak asik. Nanjak stabil dengan bonus licin abis hujan, hingga Uchok kram. 

40 menit kemudian kami sampai di Lembah Manding. Vegetasi didominasi pohon manding hutan. Sebentar kemudian kami sampai di area Uluk Salam, konon katanya area ini adalah gerbang gaibnya Gunung Merbabu.

Sebelum sampai di Pos 3, kami harus menuju Pos Air dengan trek yang  semakin berat dan licin. Sesampainya di Pos Air, kita bisa mengisi stok air kita. Posisi sumber air ada di sebelah kiri jalur, agak masuk ke dalam.

Menjelang Puncak Triangulasi


Kami istirahat sebentar di Pos Air. Mulai dari sini trek bercabang dan agak membingungkan.  
Trek berupa jalur menanjak dengan vegetasi rumput sabana.
Tepat jam 22.15 kami sampai di Pos 3 Ndampo Awang.
Langsung nyari tempat untuk ngecamp, dan langsung bongkar logistik dan bagi tugas. Hingga 10 menit kemudian tenda sudah siap tinggal nunggu teh panas dan walaaaahh...Liatin milkyway kelap kelip diatas.
Mungkin salah satu langit malam terbaik dihidup saya.

Jam 23.15 senyap...

Minggu, 30 April 2017

Pos 3 Camp Area Ndampo Awang - Puncak Kenteng Songo

4.10 kami sudah start jalan summit attack. Kami cuma bawa 1 carrier dan beberapa logistik. Kami menuju Pos Sabana I dengan jalur masih nanjak membelah sabana. Tanpa istirahat, kami lanjut sampai sekitar jam 4.30 kami tiba di Pos Sabana II.

View Puncak Suwanting

Sekitar jam 4.50 kami sudah berada di punggungan Pos Sabana III mengarah ke Puncak Suwanting. Akhjad akhirnya harus mengalah pada kehendak alam. Karena jarak kami dengan pendaki dibelakang masih jauh, akhirnya Akhjad cari tempat  disekitar jalur pendakian, yang penting tidak mengganggu yang lain. Akhirnya kami sampai di Puncak Suwanting. Jenggurat jingga mentari sudah mulai terlihat. Kami pikir, kami tidak akan dapat Sunrise di puncak. Pemandangan trek menuju Puncak juga sudah mulai kelihatan. Karena masih lumayan gelap, maka kami putuskan untuk foto-foto nanti pas jalan turun saja. Kami lanjut jalan, tenaga sudah low power akan tetapi semangat sangat tinggi saat itu. Sehingga kami pun tancap langsung ke Puncak. Jalan menanjak sudah kami lewati, bonus pun tersaji…


 Sunrise..

Haii Merapii...
Sunrise sudah bisa kami nikmati meski belum di puncak tertinggi. View merapi terlihat jelas dengan selimut kabut dan lautan awan yang very fantastic, Mister loba-loba..
Jalan sudah rata, dengan view sempurna 360 derajat. Ya Tuhan, hidupku asikk….Sumpah, view terindah selama kami eksplore gunung.


Sabana Merbabu, View mengarah ke Puncak Menara dari Puncak Suwanting



 Puncak Suwanting


Sabana I, view ke arah Puncak Suwanting

Tanjakan terakhir pun terasa tak berarti saat kami melihat siluet pendaki yang lebih dulu sampai. Kami melewati persimpangan jalur dengan jalur via Selo dan Kopeng - Wekas. Pos 3 Camp Area Selo pun terlihat meriah dengan warna-warni tenda pendaki. Tepat jam 6.20 SUMMIT..kami sampai di Puncak Triangulasi 3142 mdpl . Puncak tertinggi Gunung Merbabu. Dengan Puncak Kenteng Songo hanya berjarak 5 menit. Dengan cuaca cerah, kabut tipis penuh uap air justru menambah sadis view dari Puncak dan ditambah matahari yang bersinar jingga terbias oleh kabut seolah mengirimkan ucapan selamat paling hangat untuk kami.

 Puncak Triangulasi 3142 Mdpl

 View dari Puncak Kenteng Songo

 Kenteng Songo Peak \m/

from Kenteng Songo Peak, Happy birthday my broo Kitaro \m/...
Karena cukup ramai puncak Triangulasi saat itu, kami lanjut ke Kenteng Songo untuk foto-roto di sana. Akhirnya... setelah 6 kali pendakian ( 5 kali via Wekas –  Puncak Syarief ), saya bisa sampai juga di Puncak Kenteng Songo.  Sangat cantik pemandangan di pagi itu, cuaca cerah, lautan awan. Mungkin view ini lah yang mampu menarik para pendaki dari luar Jawa Tengah untuk mencumbunya. Terbukti begitu banyak pendaki yang kami temui sepanjang pendakian rata-rata dari Bekasi – Jakarta – Bogor.

Perjalanan Turun Puncak – Basecamp
Pasti ada perpisahan di setiap pertemuan..
Puas foto-foto alay dan cuci paru-paru dengan fresh air puncak Merbabu, kami langsung turun ke Pos 3.. karena Hp Uchok sudah lowbat, tinggal Hp saya yang bisa buat foto. Benar saja, masih terlalu banyak spot foto yang cantik sepanjang jalur turun ke Pos 3. Pemandangan Gunung Merapi, Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, Gunung Ungaran, Gunung Telomoyo, Gunung Andong semua sempurna. Terlebih Pemandangan Sabana Merbabu yang menghijau..


  HOW SAD I FEEL AT LEAVING THAT CRESTS!!

Setengah jam kami sudah kembali menginjak Puncak Suwanting. Menikmati untuk sesaat, merasa terbebaskan dari perbudakan dunia nyata. 15 menit kami istirahat disana menikmati seksinya Sabana Merbabu. dan yaaa...I am in love with this mountain..


Puncak Menara Wekas, Puncak Syarif terlihat dari sini. Bahkan Jalur pendakian baru  Via Grenden juga jelas meliuk-liuk dihadapan. Sepanjang menuruni Sabana II dan Sabana I sampai ke Pos 3, mata kami dimanjakan dengan hijaunya Sabana Merbabu dan angkuhnya Merapi. Asli.. berat banget ninggalin area itu. ya, ada Awal pasti juga ada Akhir. Kami lanjut turun ke pos 3 tempat kemah kami.

 View Camp Area Pos III


Digital Nomads
Terlihat warna-warni meriah camp area Pos 3 Merbabu.  Jam 8.00 kami sudah sampai di sana dan langsung masak mie goreng dan Sarden. Terasa nikmat sambil memandang Merapi yang berselimut kabut.


Trek Turun Menuju Pos 2
Kenyang, packing done..Cuss turun ke Basecamp. Parahnya baru jam 13.00 kami sampai di Basecamp, Uchok yang sejak dari Pos 2 kram, akhirnya harus naik ojek dari pos 1. Terasa sangat panjang perjalanan turun kami karena medan yang licin. Dengkul juga sudah gemeteran nahan badan. Dan sesaat setelah kami sampai Basecamp, breesssss.. hujan ditumpahin lagi. Puji Tuhan, kami tanpa basah selamat sampai di Basecamp. Sampai sekitar jam 16.30 hujan baru reda.
Terang..kram Uchok pun sudah teratasi. Dan setelah kami bersih-bersih, langsung kami pulang ke Ungaran. Akhjad juga langsung pulang ke Purworejo. Saya boncengan dengan Uchok.


Dennis - Adit - Uchup

Kami sampai di Sarmili jam 19.00 tanpa kehujanan. Uchok langsung siap-siap lanjut ke Semarang sementara saya bongkar carrier untuk ngembaliin barang sewaan kami. Kami semua bersyukur dan sangat puas atas perjalanan kami. Di beri keselamatan, sementara kami dengar kabar berita bahwa di Kecamatan Grabag, yang masih termasuk dalam lereng Gunung Merbabu, weekend itu terjadi banjir bandang dengan korban jiwa 13 orang.


*for more Nice Picture, go follow Instagram @dhanursubuyar.


Rabu, 29 Maret 2017

GUNUNG MERAPI via NEW SELO - CATATAN PERJALANAN SARMILI MOUNTAIN MADNESS

*dear Aro..maafin bapak ya broo, ninggalin kamu naik gunung lagi..
 gara-gara om Akhjad broo..☺


2931 Mdpl New Selo
25 – 26 Maret 2017

Hai Merbabu..mmuuuaahhh

Sabtu, 17 Maret 2017

Setelah sekitar dua bulan pendakian terakhir, dan kebetulan besok seminggu lagi, tanggal 28 Maret 2017 adalah hari kecepit Nasional, satu hal yang ada di kepala... NAIK GUNUNG!!! Belum ada bayangan kemana, yang jelas udah gatel aja pengen naik gunung..Kebetulan saat itu pas bapak-bapak kumpul di rumah saya, nggak tau apa yang jadi pertimbangan, tiba-tiba saya kepikiran ke Merapi. Tahun 2010 pernah saya naik kesana, tapi karena jetlag mudik dari Balikpapansaya gagal muncak. Singkat cerita, karena Anggi sering ngeles kalau diajak ke Merapi, maka saya hanya kontak mas Hari dan Akhjad. 
Oke, sampai hari jumat, saya dealkan briefing ke Akhjad dan Mas Hari teknis untuk besok. Setelah belanja logistik dan sewa alat-alat, Akhjad pulang ke Purworejo nganterin Mbak Yani, istrinya. 

Merapi.. seperti kita tau adalah salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia. Berada di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta, berdampingan dengan Gunung Merbabu. Ketinggian Gunung merapi setelah letusan tahun 2010 ( sesuai dengan literatur yang pernah saya baca ) sekitar 2931 mdpl. Ada beberapa jalur pendakian Gunung Merapi, dan yang paling mainstream dikunjungi adalah jalur via Basecamp Barameru, Desa Telogolele, Boyolali. Lokasi ini juga tidak begitu jauh dengan Basecamp Pendakian Gunung Merbabu via Selo. Tidak adanya sumber air jadi satu peringatan untuk kita agar menyiapkan bekal air yang cukup. Sebagai informasi, saat ini pendakian hanya boleh dilakukan sampai di Pasar Bubrah.



Sabtu, 25 Maret 2017

Pagi, saya dan mas Hari packing sekitar jam 9 pagi. Rencananya dari Purworejo, Akhjad akan langsung ke Sarmili untuk kemudian berangkat bareng. Jam 10 kami sudah selesai packing dan mandi, siap berangkat tinggal nunggu Akhjad. Setelah semua komplit dan Akhjad sudah merapat, jam 12.30 kami berangkat ke Selo. Cuaca saat itu 80% pasti akan hujan, tetapi yakiin aman. Kami berangkat lewat jalur Salatiga – Kopeng – Ketep Pass - Selo  ( 72 km ).

Benar saja, begitu kami sampai di gerbang Kota Salatiga, hujan deras pun turun. Kami terpaksa break. Sekitar satu jam hujan deras, kami berteduh di pinggir jalan sambil nahan lapar karena belum sarapan. Setelah agak reda kami paksakan untuk lanjut pelan-pelan. Hingga sekitar satu jam berikutnya sekitar jam 15.30 kami sampai di Basecamp Barameru, Desa Telogolele, Selo, Boyolali. Saat itu masih gerimis, dan kondisi Basecamp Barameru sangat penuh. Sambil nunggu tempat agak lega, saya ngurus Simaksi dan dilanjut makan.

Bertiga, kami habis 62 ribu untuk ijin dan tambah lagi 5 ribu untuk parkir 1 motor. it's oke sih, cuma petugas loket yang kurang simpatik aja yang bikin males..

Saat itu Anggi nelfon, katanya mau nyusul..alamakkk, dipikir-pikir, mungkin baru jam 7 malem dia sampe sini. Lama kami tunggu kabar, ternyata dia galau juga, kami tinggal naik..hahaha!!! Yakkk, ngeper juga…

akhirnya kami lanjut untuk packing. Dan tepat jam 17.30 kami start.

start pendakian

Basecamp Barameru - Area Parkir New Selo ( 30 Menit )

Trek awal pendakian dari Basecamp Barameru ke Parkiran New Selo berupa jalan aspal kampung, sempit tapi cukup ramai. Dengan trek menanjak, cukuplah untuk pemanasan kami saat itu. Sejenak terlintas kenangan 2010, tetep masih sama..tanjakan ngeri-ngeri sedap sepanjang jalur..

Karena saat itu belum gelap, terlihat Gunung Merbabu begitu cantik nan angkuh tepat didepan kami dengan jalur pendakian yang lumayan jelas terlihat. Cukup keren view Merbabu dari sini. Dari sini juga kita bisa melihat bukit pertama Merapi yang nanti harus kami lewati.
Tepat jam 18.00 kami sampai di parkiran New Selo dengan deretan warung yang masih buka, dan beberapa mobil terparkir disana. Bukan mobil saya..

New Selo

Parkiran New Selo - Pos Gerbang Taman Nasional ( 2072 mdpl )

Tanpa istirahat, kami lanjut jalan. Mas Hari dan Akhjad langsung panas, leading di depan. Sementara saya masih harus menyesuaikan nafas yang mulai berat. Dari sini trek berupa tanjakan melewati ladang penduduk dengan beberapa bagian sudah di paving dilanjut trek tanah solid menanjak. Saya yang masih kepayahan hanya bisa jalan pelan mencoba mengimbangi mereka berdua. Beberapa rombongan kami lewati, dan setelah sekitar 1 jam tepat, terdengar sayup-sayup Adzan Isya', tepat saat itu juga kami sampai di Gerbang Taman Nasional Gunung Merapi. Sudah ada bangunan pos semi permanen, cukup luas untuk beristirahat. Sambil ngejar nafas, kami habiskan satu batang rokok. Cuaca saat itu, kilat mulai kelap-kelip. Ngalamat..


Pos Gerbang Taman Nasional - Pos I Watu Belah ( 2302 Mdpl )

Setelah Adzan selesai, kami berangkat menuju pos I, gelap dan tanjakan terjal mulai mewarnai cerita kami. Kaki dan nafas saya sudah bisa mengimbangi Akhjad dan mas Hari, sendirian saya leading didepan. Beberapa kali saya break untuk menunggu mereka, kebetulan kami bareng sama adek-adek gemes Mapala dari Semarang. Mumpung sudah panas, saya terus leading didepan. Lagi-lagi karena salah ambil jalur ke arah kanan, alhasil sempat nyasar ke jalur buntu. Setelah kembali ke jalan yang benar, ternyata rombongan sebelumnya yang tadinya jauh dibelakang sudah ada tepat dibelakang kami. Sekitar satu jam kami jalan, akhirnya kami istirahat di Puncak bukit yang cukup terlindung meskipun dengan hembusan angin yang cukup kencang karena kanan kirinya jurang. Kami break sambil gantian bawa carrier dan bakar rokok; dua barang yang sama-sama jadi candu untuk saya. Kami jalan lagi, hanya sekitar 10 menit kami sudah sampai di POS I Watu Belah. Penuh pendaki dan tenda. Karena sudah cukup break nya, kami langsung lanjut ke Pos 2.






Area Pos II



Pos I – Pos II ( 2534 Mdpl )

Jalur tanjakan terjal berbatu mulai menantang kami, tanjakan yang sungguh menguras mental dan tenaga. Saya kali ini kebagian bawa tas kecil dan daypack, ultralight hiking, sementara mas Hari dan Akhjad bawa carrier. Ringan langkah kaki dan nafas saya. Posisi masih leading didepan tapi dengan jarak yang rapat. Kebetulan senter mas Hari mati, jadi terpaksa pake flash hp. Sekitar satu jam menderita di jalur ini, hujan seolah nggak mau ketinggalan ngerjain kami. Awalnya kami kira hanya air yang kebawa kabut, tapi lama-lama makin deras. Tepat sebelum benar-benar deras kami sudah siap dengan jas hujan yang sudah terpakai. Kami jalan pelan-pelan berharap hujannya becandaan aja..

Lanjut kami jalan, sesuai rencana kami akan mencoba ke Pasar Bubrah untuk ngecamp disana. Tapi 15 menit kami jalan, Akhjad sudah kepayahan dadanya sesak dan ditambah gerimis yang masih jatuh, kami putuskan untuk nyari lokasi ngecamp sambil jalan.
Setelah dapat lokasi, sempit dan agak miring, tapi yang penting muat untuk dome kami kapasitas 3 orang. Sambil keburu hujan datang lagi, ikat sana ikat sini.. dome is ready!!
Saat itu kami langsung bongkar logistik. 5 menit kemudian teh manis, kopi item dan energ*n siap. Kebetulan dari rumah, istri saya, Agatha, emaknya Aro..nyiapin nasi dan dijalan tadi sempet beli tahu krispy sama krupuk. Sambil ngopi, kami masak mie instan yang juga langsung siap dalam hitungan menit. Kenyang, badan udah di dalem sleeping bag, kebal-kebul isep rokok, diluar tenda hujan..surga duniaahh!!!
Tepat jam 23.00 kami sudah siap balapan tidur, Puji Tuhan.. meski hujan, malam ini Merapi asik.. kami tidur tanpa gerah sampai pagi..

Minggu 26 Maret 2017

Jam 5.30 kami sudah bangun..males karena terlalu pules, tapi akhirnya..mules!!
As always, mules mengalahkan males..!!terpaksa sambil basah-basahan embun dan hujan cari lokasi bombing..
Sementara mas Hari dan Akhjad nyaipin sarapan + anget-anget dan packing untuk summit. Jam 6 baru kami tekatin untuk naik. Tenda kami tinggal dengan hanya bekal air dan barang-barang yang sekiranya berharga. Positip..pagi ini nggak ada sunrise..kabut mesra dan gerimis tipis sepanjang jalur.
Sekitar 10 menit kami jalan, kami sampai di Pos 2. Kami langsung menuju ke Pasar Bubrah. Cerita sebenarnya baru dimulai..




Area Watu Gajah

Pos II – Pasar Bubrah ( 2896 Mdpl )

Dengan semangat ngatttt, kami lewati pos II yang bertaburan warna-warni tenda pendaki. Cukup banyak juga ternyata, pendaki Merapi hari itu. Mungkin karena sepikiran dengan kami – long weekend + cuti bersama. Jalur tanjakan batu semakin curam dan dibeberapa titik memaksa kami harus manjat, hidung ketemu dengkul.. menjadi jalan yang kami lewati. Sekitar 30 menit berselang kami sudah sampai di Watu Gajah, batu besar dengan jalur keatas tanpa vegetasi. Saya yakin pemandangan disini asoy, cuma karena kabut dan gerimis, pemandangan dan spot foto jadi terbatas. Kami lanjut jalan ke atas, berharap nanti pas turun sudah cerah. Sekitar 15 menit nanjak kami sampai di plang Pasar Bubrah tepat di sebelah monumen berbentuk kerucut gunung Merapi. Pemandangan semua putih keruh, Kabut!!
View ke puncak 0%, jarak pandang hanya 10 – 15 meter. Saya sampaikan ke Akhjad dan Mas Hari untuk menunggu perkembangan cuaca. Sangat berbahaya kalau kami tetep nekat naik ke puncak dengan visibility seperti itu. Resiko tersesat akan sangat besar.













Watu Gajah - Pasar Bubrah


BADAI di PASAR BUBRAH

Korban Badai

Di Pasar Bubrah, kami hanya sempatkan foto-foto lautan batu dan kabut sekenanya saja, sampai tiba-tiba...badai datang!!! Tanpa ita-itu, bresss..hujan angin datang, langsung deras tanpa basa-basi. Semakin lama angin semakin kenceng, hujan makin deras. Beruntung, saat itu kami berada di dekat sebuah batu yang cukup besar. Banyak sampah organik disana ( If you know what i mean.. !! ).
Ora urus..Segera kami pakai jas hujan dan berlindung di balik batu. Beberapa tenda roboh, beberapa yang lain kebanjiran karena ternyata tepat berdiri di jalur air dan banyak pendaki lain yang terjebak badai..bahkan banyak dari mereka yang masih berada di punggungan arah ke Puncak. Kepalang basah mungkin..Satu demi satu rombongan basah kuyup nekat turun membelah badai.
Sekitar satu jam kami dipaksa berlindung karena hujan badai yang cukup deras, bahkan jari-jari kaki serasa ditusuk jarum dan wajah terasa kaku menahan dingin.
Setelah hujan reda, meski dengan angin yang masih lumayan kenceng, kami putuskan untuk kembali turun ke tenda. Untungnya sambil jalan, badai pun mereda. Dengan sisa gerimis, kami kembali ke Plang Pasar Bubrah untuk berfoto.
Tidak lama foto-foto, kami putuskan untuk langsung turun ke bawah..beberapa kelompok juga sudah terlihat mulai bergerak turun. Sangat tidak memungkinkan melanjutkan ke Puncak. 

The Mountain is always conquer us..Merapi did it!! Merapi belum ngasih kali ini..cieee Merapii gitu yaa!!!


Pasar Bubrah Merapi 2896 mdpl

Karena kabut juga mulai mereda, cantik angkuhnya Merbabu mulai terlihat dibeberapa titik di sekitar Watu Gajah. Sisi punggungan Merapi dan beberapa puncak bukit dikawasan Merapi dengan bebatuan yang kokoh pun terlihat emejing. Meski Merapi tidak mengijinkan kami berdiri di puncaknya, cukup ramah kok Merapi, semua selamat dari badai dan masih mau ngasih bonus pemandangan dan background foto yang cukup yahutt..

Sekitar jam 9 pagi kami sampai di lokasi tenda kami..aman 86!! Setelah sarapan dan packing logistik + tenda. Jam 10 kami mulai jalan turun ke Basecamp. Sekitar jam 12.40 kami sampai di Basecamp Barameru.

Setelah ambil KTP, beli emblem dan stiker serta makan siang (pake nasi), kami hanya singgah sebentar untuk re packing carrier kami. Jam 14.00 kami berangkat pulang via Boyolali – Salatiga – Ungaran. FYI, jarak rute via Ketep dan Via Boyolali hampir sama, sekitar 70 an Km.
Tanpa hujan dan halangan berarti, akhirnya kami sampai Basecamp Sarmili, Gebugan sekitar jam 16.00 dengan selamat. Anggi menyambut kami dengan senyum kecut..(*)



Bonus track: Badai Pasar Bubrah








Bersambung…