Kamis, 04 Mei 2017

PUNCAK GUNUNG MERBABU Via Basecamp SUWANTING - CATATAN PERJALANAN SARMILI MOUNTAIN MADNESS

View Puncak Suwanting

Long weekend,  22 April dan 29 April 2017. Masing-masing tiga hari libur, waktu yang pas untuk naik gunung. Begitulah kira-kira yang kami dan mountaineer lain pikirkan.  Sesuai rencana awal bulan, sebenarnya saya dan Akhjad sudah sepakat untuk naik ke Gunung Prau. Ucok pun sudah kami hubungi, Anggi deal. Hanya mungkin mas Hari positip absen karena sudah ada jadwal pulang kampung.
Hari berganti wajar, sampai tanggal 19 April, tiba-tiba Anggi ngajakin ke Sindoro. Semua siap berangkat, tinggal nunggu saya..kebetulan weekend 22 April besok tepat  wedding anniversary saya. Feeling dari awal gak enak, ternyata bener..saya ga bisa berangkat karena istri ga kasih approval. Takut sial, ya udah terpaksa saya tinggal di Sarmili sementara yang lain naik ke Sindoro. Minggu sore 23 April, ada kabar kecelakaan di Gunung Prau, 11 Pendaki kena petir di Prau, 3 orang tewas.  Ngalamat..Saat itu juga, Ekspedisi pendakian ke Gunung Prau CLOSED. Kampr*t… langsung lemes, apalagi Ucok sudah keburu ngajuin cuti untuk akhir bulan. Terpaksa kami cari tujuan lain, yang akhirnya kami sepakat untuk naik ke Merbabu. Dan karena sudah 5 kali saya naik ke Merbabu ( semua via Wekas ), saya usul untuk kali ini kita naik lewat jalur yang masih belum pernah kita lewati. Via Suwanting.

Sabtu 29 April 2017
Karena efek semalem ronda sampai jam 3 pagi, jam 9 saya baru bangun. Akhjad pun sudah bangun. Sambil nunggu Ucok dari Semarang merapat ke Sarmili, kami packing yang bisa kami siapkan.  Rencana, kami berangkat pagi, supaya kebagian sunset di punggungan bukit. Jam 11.00 kami berangkat, kami lewat Bawen – Salatiga – Kopeng – Ketep. Saya dibonceng Ucok dan Akhjad bawa motor sendiri. Sekitar jam 13.00 siang kami sudah sampai di Basecamp Suwanting. Basecamp ini terletak di Dusun Suwanting, Desa Banyuroto, Kecamatan Sawangan, Kab. Magelang. Lokasinya terletak tak jauh dari Ketep Pass. Kami sampai di basecamp disambut dengan hujan gerimis yang perlahan mulai deras. Dengan penuh leramahan warga dan petugas Pos Pendaftaran menyambut kami. Parkir motor terima jadi. Sekitar hampir dua jam kami menunggu hujan reda di basecamp. 

Basecamp - Pos 1 Lembah Lempong ( 40 menit )

Jam 4 sore hujan reda dan kami pun sudah siap memulai perjalanan. Berdoa dan langsung meluncur. Gerimis tipis masih setia mengiringi kami. Jas hujan dan ponco juga sudah kami pakai. Jalur dari basecamp ke Pos 1 berupa jalan cor plesteran membelah kampung dengan view perkebunan warga. Setelah 30 menit jalan, kami sampai di batas kebun dan hutan pinus. Disana sudah ada bangunan semi permanen tempat warga berjualan. Disitu juga adalah pos Ojeg dengan biaya 10K sampai ke basecamp. 
Cukup menguras tenaga kami trek ke Pos 1, kami istirahat sekitar 10 menit. Setelah satu batang rokok habis baru kami lanjut jalan masuk hutan pinus.

Pos 1 - Pos 2 Shelter Bendera ( 3 jam )

Karena habis hujan, udara jadi seger banget. Tapi karena beban berat di punggung, kami kompak mulai ngap dan ketinggalan nafas.
Beruntung banyak area untuk sekedar ngambil nafas.
Jalur masih sangat nyaman dengan bonus melimpah. Sebelum sampai Pos 2 kita harus melewati beberapa check point. 

Sekitar setengah jam kami jalan, kami sampai di Lembah Gosong. Kami istirahat di area dengan view cantik ke arah Merapi. Warna jingga di barat juga mulai 'menghangat'. Sindoro Sumbing nampak anggun saling berhadapan.


Happy 5th anniversary ny dearest wife ..

Vegetasi didominasi oleh pinus, dengan kondisi jalan mulai terjal dan sangat licin sisa hujan tadi sore. Tidak lama berselang kami sampai di Lembah Cemoro. Di area ini terdapat Pos Air yang oleh pengelola ditampung di tong plastik. Gelap dan pekat, matahari udah bobok siap-siap buat surprise besok pagi. Senter pun sudah siap. Kami lanjut jalan dengan sedikit payah mengatasi trek yang licin. Hampir 40 menit kami jalan hingga tanpa kami sadari, kami sampai di Lembah Ngrijan.

Gerimis mulai turun kembali, yakin tidak akan bertambah parah, kami lanjut jalan pelan-pelan mengarah ke Pos 2. Sekitar setengah jam berikutnya kami sampai di Lembah Mitoh. Gerimis sudah mulai reda, Masih dengan trek yang sama, licin. Kaki mulai terasa panas, dan hampir 40 menit kami jalan sambil melawan sakit dan capek. Kami akhirnya sampai di Pos 2 ( Shelter Bendera ).  LUmayan luas dengan area memanjang ke arah atas. Beberapa tenda berdiri disana. Bahkan ada kemarin, salah satu pendaki terkena hypothermia. Kami istirahat sambil buka logistik sekitar 15 menit.

Pos 2 Shelter Bendera _ Pos 3 Ndampo Awang ( 2 jam )

Langit cerah, bintang berhamburan tanpa polusi cahaya. Dengan mantap kami lanjut jalan ke Pos 3. Trek dari sini mulai gak asik. Nanjak stabil dengan bonus licin abis hujan, hingga Uchok kram. 

40 menit kemudian kami sampai di Lembah Manding. Vegetasi didominasi pohon manding hutan. Sebentar kemudian kami sampai di area Uluk Salam, konon katanya area ini adalah gerbang gaibnya Gunung Merbabu.

Sebelum sampai di Pos 3, kami harus menuju Pos Air dengan trek yang  semakin berat dan licin. Sesampainya di Pos Air, kita bisa mengisi stok air kita. Posisi sumber air ada di sebelah kiri jalur, agak masuk ke dalam.

Menjelang Puncak Triangulasi


Kami istirahat sebentar di Pos Air. Mulai dari sini trek bercabang dan agak membingungkan.  
Trek berupa jalur menanjak dengan vegetasi rumput sabana.
Tepat jam 22.15 kami sampai di Pos 3 Ndampo Awang.
Langsung nyari tempat untuk ngecamp, dan langsung bongkar logistik dan bagi tugas. Hingga 10 menit kemudian tenda sudah siap tinggal nunggu teh panas dan walaaaahh...Liatin milkyway kelap kelip diatas.
Mungkin salah satu langit malam terbaik dihidup saya.

Jam 23.15 senyap...

Minggu, 30 April 2017

Pos 3 Camp Area Ndampo Awang - Puncak Kenteng Songo

4.10 kami sudah start jalan summit attack. Kami cuma bawa 1 carrier dan beberapa logistik. Kami menuju Pos Sabana I dengan jalur masih nanjak membelah sabana. Tanpa istirahat, kami lanjut sampai sekitar jam 4.30 kami tiba di Pos Sabana II.

View Puncak Suwanting

Sekitar jam 4.50 kami sudah berada di punggungan Pos Sabana III mengarah ke Puncak Suwanting. Akhjad akhirnya harus mengalah pada kehendak alam. Karena jarak kami dengan pendaki dibelakang masih jauh, akhirnya Akhjad cari tempat  disekitar jalur pendakian, yang penting tidak mengganggu yang lain. Akhirnya kami sampai di Puncak Suwanting. Jenggurat jingga mentari sudah mulai terlihat. Kami pikir, kami tidak akan dapat Sunrise di puncak. Pemandangan trek menuju Puncak juga sudah mulai kelihatan. Karena masih lumayan gelap, maka kami putuskan untuk foto-foto nanti pas jalan turun saja. Kami lanjut jalan, tenaga sudah low power akan tetapi semangat sangat tinggi saat itu. Sehingga kami pun tancap langsung ke Puncak. Jalan menanjak sudah kami lewati, bonus pun tersaji…


 Sunrise..

Haii Merapii...
Sunrise sudah bisa kami nikmati meski belum di puncak tertinggi. View merapi terlihat jelas dengan selimut kabut dan lautan awan yang very fantastic, Mister loba-loba..
Jalan sudah rata, dengan view sempurna 360 derajat. Ya Tuhan, hidupku asikk….Sumpah, view terindah selama kami eksplore gunung.


Sabana Merbabu, View mengarah ke Puncak Menara dari Puncak Suwanting



 Puncak Suwanting


Sabana I, view ke arah Puncak Suwanting

Tanjakan terakhir pun terasa tak berarti saat kami melihat siluet pendaki yang lebih dulu sampai. Kami melewati persimpangan jalur dengan jalur via Selo dan Kopeng - Wekas. Pos 3 Camp Area Selo pun terlihat meriah dengan warna-warni tenda pendaki. Tepat jam 6.20 SUMMIT..kami sampai di Puncak Triangulasi 3142 mdpl . Puncak tertinggi Gunung Merbabu. Dengan Puncak Kenteng Songo hanya berjarak 5 menit. Dengan cuaca cerah, kabut tipis penuh uap air justru menambah sadis view dari Puncak dan ditambah matahari yang bersinar jingga terbias oleh kabut seolah mengirimkan ucapan selamat paling hangat untuk kami.

 Puncak Triangulasi 3142 Mdpl

 View dari Puncak Kenteng Songo

 Kenteng Songo Peak \m/

from Kenteng Songo Peak, Happy birthday my broo Kitaro \m/...
Karena cukup ramai puncak Triangulasi saat itu, kami lanjut ke Kenteng Songo untuk foto-roto di sana. Akhirnya... setelah 6 kali pendakian ( 5 kali via Wekas –  Puncak Syarief ), saya bisa sampai juga di Puncak Kenteng Songo.  Sangat cantik pemandangan di pagi itu, cuaca cerah, lautan awan. Mungkin view ini lah yang mampu menarik para pendaki dari luar Jawa Tengah untuk mencumbunya. Terbukti begitu banyak pendaki yang kami temui sepanjang pendakian rata-rata dari Bekasi – Jakarta – Bogor.

Perjalanan Turun Puncak – Basecamp
Pasti ada perpisahan di setiap pertemuan..
Puas foto-foto alay dan cuci paru-paru dengan fresh air puncak Merbabu, kami langsung turun ke Pos 3.. karena Hp Uchok sudah lowbat, tinggal Hp saya yang bisa buat foto. Benar saja, masih terlalu banyak spot foto yang cantik sepanjang jalur turun ke Pos 3. Pemandangan Gunung Merapi, Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, Gunung Ungaran, Gunung Telomoyo, Gunung Andong semua sempurna. Terlebih Pemandangan Sabana Merbabu yang menghijau..


  HOW SAD I FEEL AT LEAVING THAT CRESTS!!

Setengah jam kami sudah kembali menginjak Puncak Suwanting. Menikmati untuk sesaat, merasa terbebaskan dari perbudakan dunia nyata. 15 menit kami istirahat disana menikmati seksinya Sabana Merbabu. dan yaaa...I am in love with this mountain..


Puncak Menara Wekas, Puncak Syarif terlihat dari sini. Bahkan Jalur pendakian baru  Via Grenden juga jelas meliuk-liuk dihadapan. Sepanjang menuruni Sabana II dan Sabana I sampai ke Pos 3, mata kami dimanjakan dengan hijaunya Sabana Merbabu dan angkuhnya Merapi. Asli.. berat banget ninggalin area itu. ya, ada Awal pasti juga ada Akhir. Kami lanjut turun ke pos 3 tempat kemah kami.

 View Camp Area Pos III


Digital Nomads
Terlihat warna-warni meriah camp area Pos 3 Merbabu.  Jam 8.00 kami sudah sampai di sana dan langsung masak mie goreng dan Sarden. Terasa nikmat sambil memandang Merapi yang berselimut kabut.


Trek Turun Menuju Pos 2
Kenyang, packing done..Cuss turun ke Basecamp. Parahnya baru jam 13.00 kami sampai di Basecamp, Uchok yang sejak dari Pos 2 kram, akhirnya harus naik ojek dari pos 1. Terasa sangat panjang perjalanan turun kami karena medan yang licin. Dengkul juga sudah gemeteran nahan badan. Dan sesaat setelah kami sampai Basecamp, breesssss.. hujan ditumpahin lagi. Puji Tuhan, kami tanpa basah selamat sampai di Basecamp. Sampai sekitar jam 16.30 hujan baru reda.
Terang..kram Uchok pun sudah teratasi. Dan setelah kami bersih-bersih, langsung kami pulang ke Ungaran. Akhjad juga langsung pulang ke Purworejo. Saya boncengan dengan Uchok.


Dennis - Adit - Uchup

Kami sampai di Sarmili jam 19.00 tanpa kehujanan. Uchok langsung siap-siap lanjut ke Semarang sementara saya bongkar carrier untuk ngembaliin barang sewaan kami. Kami semua bersyukur dan sangat puas atas perjalanan kami. Di beri keselamatan, sementara kami dengar kabar berita bahwa di Kecamatan Grabag, yang masih termasuk dalam lereng Gunung Merbabu, weekend itu terjadi banjir bandang dengan korban jiwa 13 orang.


*for more Nice Picture, go follow Instagram @dhanursubuyar.


Rabu, 29 Maret 2017

GUNUNG MERAPI via NEW SELO - CATATAN PERJALANAN SARMILI MOUNTAIN MADNESS

*dear Aro..maafin bapak ya broo, ninggalin kamu naik gunung lagi..
 gara-gara om Akhjad broo..☺


2931 Mdpl New Selo
25 – 26 Maret 2017

Hai Merbabu..mmuuuaahhh

Sabtu, 17 Maret 2017

Setelah sekitar dua bulan pendakian terakhir, dan kebetulan besok seminggu lagi, tanggal 28 Maret 2017 adalah hari kecepit Nasional, satu hal yang ada di kepala... NAIK GUNUNG!!! Belum ada bayangan kemana, yang jelas udah gatel aja pengen naik gunung..Kebetulan saat itu pas bapak-bapak kumpul di rumah saya, nggak tau apa yang jadi pertimbangan, tiba-tiba saya kepikiran ke Merapi. Tahun 2010 pernah saya naik kesana, tapi karena jetlag mudik dari Balikpapansaya gagal muncak. Singkat cerita, karena Anggi sering ngeles kalau diajak ke Merapi, maka saya hanya kontak mas Hari dan Akhjad. 
Oke, sampai hari jumat, saya dealkan briefing ke Akhjad dan Mas Hari teknis untuk besok. Setelah belanja logistik dan sewa alat-alat, Akhjad pulang ke Purworejo nganterin Mbak Yani, istrinya. 

Merapi.. seperti kita tau adalah salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia. Berada di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta, berdampingan dengan Gunung Merbabu. Ketinggian Gunung merapi setelah letusan tahun 2010 ( sesuai dengan literatur yang pernah saya baca ) sekitar 2931 mdpl. Ada beberapa jalur pendakian Gunung Merapi, dan yang paling mainstream dikunjungi adalah jalur via Basecamp Barameru, Desa Telogolele, Boyolali. Lokasi ini juga tidak begitu jauh dengan Basecamp Pendakian Gunung Merbabu via Selo. Tidak adanya sumber air jadi satu peringatan untuk kita agar menyiapkan bekal air yang cukup. Sebagai informasi, saat ini pendakian hanya boleh dilakukan sampai di Pasar Bubrah.



Sabtu, 25 Maret 2017

Pagi, saya dan mas Hari packing sekitar jam 9 pagi. Rencananya dari Purworejo, Akhjad akan langsung ke Sarmili untuk kemudian berangkat bareng. Jam 10 kami sudah selesai packing dan mandi, siap berangkat tinggal nunggu Akhjad. Setelah semua komplit dan Akhjad sudah merapat, jam 12.30 kami berangkat ke Selo. Cuaca saat itu 80% pasti akan hujan, tetapi yakiin aman. Kami berangkat lewat jalur Salatiga – Kopeng – Ketep Pass - Selo  ( 72 km ).

Benar saja, begitu kami sampai di gerbang Kota Salatiga, hujan deras pun turun. Kami terpaksa break. Sekitar satu jam hujan deras, kami berteduh di pinggir jalan sambil nahan lapar karena belum sarapan. Setelah agak reda kami paksakan untuk lanjut pelan-pelan. Hingga sekitar satu jam berikutnya sekitar jam 15.30 kami sampai di Basecamp Barameru, Desa Telogolele, Selo, Boyolali. Saat itu masih gerimis, dan kondisi Basecamp Barameru sangat penuh. Sambil nunggu tempat agak lega, saya ngurus Simaksi dan dilanjut makan.

Bertiga, kami habis 62 ribu untuk ijin dan tambah lagi 5 ribu untuk parkir 1 motor. it's oke sih, cuma petugas loket yang kurang simpatik aja yang bikin males..

Saat itu Anggi nelfon, katanya mau nyusul..alamakkk, dipikir-pikir, mungkin baru jam 7 malem dia sampe sini. Lama kami tunggu kabar, ternyata dia galau juga, kami tinggal naik..hahaha!!! Yakkk, ngeper juga…

akhirnya kami lanjut untuk packing. Dan tepat jam 17.30 kami start.

start pendakian

Basecamp Barameru - Area Parkir New Selo ( 30 Menit )

Trek awal pendakian dari Basecamp Barameru ke Parkiran New Selo berupa jalan aspal kampung, sempit tapi cukup ramai. Dengan trek menanjak, cukuplah untuk pemanasan kami saat itu. Sejenak terlintas kenangan 2010, tetep masih sama..tanjakan ngeri-ngeri sedap sepanjang jalur..

Karena saat itu belum gelap, terlihat Gunung Merbabu begitu cantik nan angkuh tepat didepan kami dengan jalur pendakian yang lumayan jelas terlihat. Cukup keren view Merbabu dari sini. Dari sini juga kita bisa melihat bukit pertama Merapi yang nanti harus kami lewati.
Tepat jam 18.00 kami sampai di parkiran New Selo dengan deretan warung yang masih buka, dan beberapa mobil terparkir disana. Bukan mobil saya..

New Selo

Parkiran New Selo - Pos Gerbang Taman Nasional ( 2072 mdpl )

Tanpa istirahat, kami lanjut jalan. Mas Hari dan Akhjad langsung panas, leading di depan. Sementara saya masih harus menyesuaikan nafas yang mulai berat. Dari sini trek berupa tanjakan melewati ladang penduduk dengan beberapa bagian sudah di paving dilanjut trek tanah solid menanjak. Saya yang masih kepayahan hanya bisa jalan pelan mencoba mengimbangi mereka berdua. Beberapa rombongan kami lewati, dan setelah sekitar 1 jam tepat, terdengar sayup-sayup Adzan Isya', tepat saat itu juga kami sampai di Gerbang Taman Nasional Gunung Merapi. Sudah ada bangunan pos semi permanen, cukup luas untuk beristirahat. Sambil ngejar nafas, kami habiskan satu batang rokok. Cuaca saat itu, kilat mulai kelap-kelip. Ngalamat..


Pos Gerbang Taman Nasional - Pos I Watu Belah ( 2302 Mdpl )

Setelah Adzan selesai, kami berangkat menuju pos I, gelap dan tanjakan terjal mulai mewarnai cerita kami. Kaki dan nafas saya sudah bisa mengimbangi Akhjad dan mas Hari, sendirian saya leading didepan. Beberapa kali saya break untuk menunggu mereka, kebetulan kami bareng sama adek-adek gemes Mapala dari Semarang. Mumpung sudah panas, saya terus leading didepan. Lagi-lagi karena salah ambil jalur ke arah kanan, alhasil sempat nyasar ke jalur buntu. Setelah kembali ke jalan yang benar, ternyata rombongan sebelumnya yang tadinya jauh dibelakang sudah ada tepat dibelakang kami. Sekitar satu jam kami jalan, akhirnya kami istirahat di Puncak bukit yang cukup terlindung meskipun dengan hembusan angin yang cukup kencang karena kanan kirinya jurang. Kami break sambil gantian bawa carrier dan bakar rokok; dua barang yang sama-sama jadi candu untuk saya. Kami jalan lagi, hanya sekitar 10 menit kami sudah sampai di POS I Watu Belah. Penuh pendaki dan tenda. Karena sudah cukup break nya, kami langsung lanjut ke Pos 2.






Area Pos II



Pos I – Pos II ( 2534 Mdpl )

Jalur tanjakan terjal berbatu mulai menantang kami, tanjakan yang sungguh menguras mental dan tenaga. Saya kali ini kebagian bawa tas kecil dan daypack, ultralight hiking, sementara mas Hari dan Akhjad bawa carrier. Ringan langkah kaki dan nafas saya. Posisi masih leading didepan tapi dengan jarak yang rapat. Kebetulan senter mas Hari mati, jadi terpaksa pake flash hp. Sekitar satu jam menderita di jalur ini, hujan seolah nggak mau ketinggalan ngerjain kami. Awalnya kami kira hanya air yang kebawa kabut, tapi lama-lama makin deras. Tepat sebelum benar-benar deras kami sudah siap dengan jas hujan yang sudah terpakai. Kami jalan pelan-pelan berharap hujannya becandaan aja..

Lanjut kami jalan, sesuai rencana kami akan mencoba ke Pasar Bubrah untuk ngecamp disana. Tapi 15 menit kami jalan, Akhjad sudah kepayahan dadanya sesak dan ditambah gerimis yang masih jatuh, kami putuskan untuk nyari lokasi ngecamp sambil jalan.
Setelah dapat lokasi, sempit dan agak miring, tapi yang penting muat untuk dome kami kapasitas 3 orang. Sambil keburu hujan datang lagi, ikat sana ikat sini.. dome is ready!!
Saat itu kami langsung bongkar logistik. 5 menit kemudian teh manis, kopi item dan energ*n siap. Kebetulan dari rumah, istri saya, Agatha, emaknya Aro..nyiapin nasi dan dijalan tadi sempet beli tahu krispy sama krupuk. Sambil ngopi, kami masak mie instan yang juga langsung siap dalam hitungan menit. Kenyang, badan udah di dalem sleeping bag, kebal-kebul isep rokok, diluar tenda hujan..surga duniaahh!!!
Tepat jam 23.00 kami sudah siap balapan tidur, Puji Tuhan.. meski hujan, malam ini Merapi asik.. kami tidur tanpa gerah sampai pagi..

Minggu 26 Maret 2017

Jam 5.30 kami sudah bangun..males karena terlalu pules, tapi akhirnya..mules!!
As always, mules mengalahkan males..!!terpaksa sambil basah-basahan embun dan hujan cari lokasi bombing..
Sementara mas Hari dan Akhjad nyaipin sarapan + anget-anget dan packing untuk summit. Jam 6 baru kami tekatin untuk naik. Tenda kami tinggal dengan hanya bekal air dan barang-barang yang sekiranya berharga. Positip..pagi ini nggak ada sunrise..kabut mesra dan gerimis tipis sepanjang jalur.
Sekitar 10 menit kami jalan, kami sampai di Pos 2. Kami langsung menuju ke Pasar Bubrah. Cerita sebenarnya baru dimulai..




Area Watu Gajah

Pos II – Pasar Bubrah ( 2896 Mdpl )

Dengan semangat ngatttt, kami lewati pos II yang bertaburan warna-warni tenda pendaki. Cukup banyak juga ternyata, pendaki Merapi hari itu. Mungkin karena sepikiran dengan kami – long weekend + cuti bersama. Jalur tanjakan batu semakin curam dan dibeberapa titik memaksa kami harus manjat, hidung ketemu dengkul.. menjadi jalan yang kami lewati. Sekitar 30 menit berselang kami sudah sampai di Watu Gajah, batu besar dengan jalur keatas tanpa vegetasi. Saya yakin pemandangan disini asoy, cuma karena kabut dan gerimis, pemandangan dan spot foto jadi terbatas. Kami lanjut jalan ke atas, berharap nanti pas turun sudah cerah. Sekitar 15 menit nanjak kami sampai di plang Pasar Bubrah tepat di sebelah monumen berbentuk kerucut gunung Merapi. Pemandangan semua putih keruh, Kabut!!
View ke puncak 0%, jarak pandang hanya 10 – 15 meter. Saya sampaikan ke Akhjad dan Mas Hari untuk menunggu perkembangan cuaca. Sangat berbahaya kalau kami tetep nekat naik ke puncak dengan visibility seperti itu. Resiko tersesat akan sangat besar.













Watu Gajah - Pasar Bubrah


BADAI di PASAR BUBRAH

Korban Badai

Di Pasar Bubrah, kami hanya sempatkan foto-foto lautan batu dan kabut sekenanya saja, sampai tiba-tiba...badai datang!!! Tanpa ita-itu, bresss..hujan angin datang, langsung deras tanpa basa-basi. Semakin lama angin semakin kenceng, hujan makin deras. Beruntung, saat itu kami berada di dekat sebuah batu yang cukup besar. Banyak sampah organik disana ( If you know what i mean.. !! ).
Ora urus..Segera kami pakai jas hujan dan berlindung di balik batu. Beberapa tenda roboh, beberapa yang lain kebanjiran karena ternyata tepat berdiri di jalur air dan banyak pendaki lain yang terjebak badai..bahkan banyak dari mereka yang masih berada di punggungan arah ke Puncak. Kepalang basah mungkin..Satu demi satu rombongan basah kuyup nekat turun membelah badai.
Sekitar satu jam kami dipaksa berlindung karena hujan badai yang cukup deras, bahkan jari-jari kaki serasa ditusuk jarum dan wajah terasa kaku menahan dingin.
Setelah hujan reda, meski dengan angin yang masih lumayan kenceng, kami putuskan untuk kembali turun ke tenda. Untungnya sambil jalan, badai pun mereda. Dengan sisa gerimis, kami kembali ke Plang Pasar Bubrah untuk berfoto.
Tidak lama foto-foto, kami putuskan untuk langsung turun ke bawah..beberapa kelompok juga sudah terlihat mulai bergerak turun. Sangat tidak memungkinkan melanjutkan ke Puncak. 

The Mountain is always conquer us..Merapi did it!! Merapi belum ngasih kali ini..cieee Merapii gitu yaa!!!


Pasar Bubrah Merapi 2896 mdpl

Karena kabut juga mulai mereda, cantik angkuhnya Merbabu mulai terlihat dibeberapa titik di sekitar Watu Gajah. Sisi punggungan Merapi dan beberapa puncak bukit dikawasan Merapi dengan bebatuan yang kokoh pun terlihat emejing. Meski Merapi tidak mengijinkan kami berdiri di puncaknya, cukup ramah kok Merapi, semua selamat dari badai dan masih mau ngasih bonus pemandangan dan background foto yang cukup yahutt..

Sekitar jam 9 pagi kami sampai di lokasi tenda kami..aman 86!! Setelah sarapan dan packing logistik + tenda. Jam 10 kami mulai jalan turun ke Basecamp. Sekitar jam 12.40 kami sampai di Basecamp Barameru.

Setelah ambil KTP, beli emblem dan stiker serta makan siang (pake nasi), kami hanya singgah sebentar untuk re packing carrier kami. Jam 14.00 kami berangkat pulang via Boyolali – Salatiga – Ungaran. FYI, jarak rute via Ketep dan Via Boyolali hampir sama, sekitar 70 an Km.
Tanpa hujan dan halangan berarti, akhirnya kami sampai Basecamp Sarmili, Gebugan sekitar jam 16.00 dengan selamat. Anggi menyambut kami dengan senyum kecut..(*)



Bonus track: Badai Pasar Bubrah








Bersambung… 

Senin, 06 Februari 2017

#veryverylatepost - SEGAJAH ISLAND

*nemu foto di laptop

NO PICTURE = HOAX...
Kebetulan malem minggu, buka laptop, nemu foto-foto yang sayang kalo cuma dinikmati sendiri. Selain masih baper juga suasananya, soalnya hp saya ikut rontok gara-gara diving, kecebur di laut. Mungkin juga 10 atau 15 tahun lagi, anak saya butuh referensi kalau mau jalan-jalan..Dan meskipun udah 'basi', sambil ngisi waktu kosong di kerjaan, iseng aja nulis..



PULAU SEGAJAH

Hampir 3 tahun lalu, semasa aktif jadi mining controller  di salah satu perusahaan batubara di Bengalon, Kalimantan Timur, kehidupan sehari-hari kami, para nomads, terlalu membosankan. Selain karena lokasi tambang yang cukup jauh dari kota, keterbatasan hiburan dan terlebih 12 jam kerja sehari, masak, cuci dan segala  macam sendiri. Sistem kerja kami 3 hari shift pagi, 3 malam  dan off day 3 hari. Setiap libur, kami habiskan dengan mancing di rawa dan istirahat. Dibeberapa kesempatan,  kami jalan-jalan ke kota, ikut nginep rumah temen yang kebetulan pulang. Bontang, Samarinda dan Balikpapan..menjadi kota yang paling 'deket' dari area kami.

Boat Captain ☺

Tanggal 2 Maret 2014 ( kebetulan ada di properti foto ), saya kebetulan ikut Wayan yang pulang ke Samarinda. Dan sebelumnya kami sepakat untuk mampir di Bontang tempat temen kami Kipli, dulu dia rekan satu crew  kami tapi sudah resign. Kurang lebih 2 jam kami dengan motor meluncur dari Bengalon ke Bontang. Sebagian besar jalan aspal rusak parah karena mungkin tonase berlebih dan kondisi tanah yang labil. Masuk kota Bontang, ternyata cukup bersih di sepanjang jalan-jalan kotanya. Kebetulan rumah Kipli ini ada dikawasan BK Bontang Kuala. Yang kondang dengan kehidupan pesisirnya.. Rencana kami saat itu, kami akan ngetrip ke Pulau Segajah. Dan sebelum kami berangkat, kami telfon Kipli untuk bisa menyiapkan boat dan keperluan lain untuk ke Segajah. Kipli punya boat yang biasa disewakan.


 Menjelang tenggelam 





Perjalanan ke Pulau Segajah kira-kira 30 menit via boat dari BK. Saat kami sampai sekitar jam 13.00 WITA, masih lumayan luas pulau pasir yang nyembul, meski tidak sampai satu lapangan bola. Proses menuju tenggelam pun sepertinya sudah otewe. Selagi masih bisa, kami puas-puasin main pasir putih di air yang sangat jernih dan hangat.
Saking beningnya air, ikan dan bintang laut pun terlihat. Bahkan Handphone saya juga nggak mau ketinggalan ikutan diving. Karam kaptenn...!!
Karena air sudah mulai naik, cukup banyak sampah kayu lapuk dan rumput laut yang naik ke pulau. Ini nih, karena kelamaan tadi pas berangkat latihan jadi Kapten boat. Dan benar saja, tidak lama kemudian Pulau Segajah udah ilang ketelen air asin..

Sedikit tentang Pulau segajah, pulau ini letaknya sekitar setengah jam naik boat dari BK, lokasinya deket-deket dengan Pulau Beras Basah. Disini orang-orang ( HP juga bisa ) biasa diving & snorkling  karena air disini sangat bening dan ditambah pasir putih bersih yang lembut. Kata orang bentuk dari pulau ini memang mirip gajah, sangat kecil untuk ukuran pulau. Dan saat air laut pasang maka pulau ini akan tenggelam. Karenanya kita hanya bisa menikmati pulau ini saat siang.

that's it..




Selasa, 31 Januari 2017

SEMIRANG WATERFALL 'The Backyard trip" 2016

#THEMBURIOMAHTRACKING




Tanggal 13 November 2016, Saya dan soulmate saya Suakhjad mencoba menyusuri area Taman Nasional di deket Komplek Sarmili. Malam sebelumnya kami dan bapak-bapak Sarmili kebetulan rapat rutin di rumah saya. Dan sementara Pak Yanto dan Anggi menyampaikan usulan ke forum, saya dan Akhjad asik ngobrol sendiri tentang Air Terjun Semirang. Sebetulnya sudah lama kami berencana ke sana. Tetapi karena waktu yang terbatas kami belum sempat dan belum pernah kesana.
Setelah rapat selesai saya ngobrol dengan pak Yanto yang katanya pernah kesana. Jalan dan detail sampai ke lokasi sepintas kami sudah ada gambaran. Bisa googling untuk nyari shortcut jalan kesana.

Pagi 14 November, Jam 5.30 kami sudah siap, dan langsung kami meluncur ke Desa Gogik, sekitar 15 menit dari Komplek Sarmili, kira-kira setengah jam dari Kota Ungaran. Komplek wisata Semirang Waterfall ini dikelola oleh Perum Perhutani, dengan luas kira-kira 10 hektar. Disana, karena loket belum buka maka kami langsung masuk ke area Camping Ground. Kebetulan ada kegiatan Persami salah satu SMA dari Semarang.
Kami langsung tancap ke Lokasi Air Terjun. Sekitar satu jam perjalanan dengan melewati jalan tanah, hutan pinus dan hutan hujan. Teduh dan adem sudah pasti.

Trek ke Semirang

Di beberapa lokasi jalan tanjakan sudah dibangun tangga batu. Sehingga cukup aman, meskipun mengajak anak kecil. Dibeberapa titik juga terdapat bangunan pos kecil, cukup untuk break. Jalannya lumayan lah. Tapi karena kebetulan kami naik bareng adek-adek pramuka yang bikin gemes, jadi tidak terasa kami sudah sampai di Lokasi Air Terjun.








Tinggi air terjun Semirang sekitar 45 meter dan lokasinya tidak begitu luas. Tapi tidak usah khawatir kelaparan. Karena disana ada penduduk lokal yang berjualan di warung semi permanen. Dari air mineral, mie rebus/goreng sampe gorengan ada kok.

Sayang lokasinya masih tidak terawat, banyak tumpukan pohon yang ditebang dan dibiarkan kering gitu aja, masih terkesan seadanya.

Sekitar setengah jam foto-foto sambil nunggu acara Pramuka selesai. Karena harus gantian lokasinya. Kami langsung turun ke basecamp. Sampai di Basecamp kira-kira jam 9.00, petugas loket sudah datang. Tapi karena kami masih termasuk Local Villain  ☺☺ maka gratis....hihi
Ndak nding..karena kebetulan kami kenal sama yang jaga, udah gitu aja..


Kamis, 26 Januari 2017

ELING BENING AMBARAWA

#familyday
*sambungan dari PUNCAK LERENG KELIR..



Malam itu kami kerja bakti bersama bapak-bapak SARMILI masang bronjong yang kami beli siang tadi sampai sekitar jam 12 malam, kebetulan malam itu terang meski tidak cerah..

Minggu pagi, 22 Januari 2017.. Saya, istri dan anak saya bangun pagi untuk ke Gereja dan memang rencana hari itu cukup banyak; jenguk temen yang sakit dan ngurus acara keluarga. Kebetulan kami jenguk temen kami yang opname di RS Ambarawa. Tanpa direncana sebelumnya, kami melalui jalan searah ke Objek Wisata Eling Bening. Dan istri saya, yang memang sudah terlalu sering saya tinggal hiking, ngajakin mampir. Tiket masuk yang lumayan dan terik matahari semula menjadi pertimbangan. Tapi akhirnya, ya udahlah kami mampir, sekalian nyenengin anak istri.




Di gunung kita tampan, di kota kita menawan..


                            me and my broo...

Benar saja, karena lokasinya diatas bukit, tepatnya di samping komplek bong Makam dan komplek Sekolah Katolik Virgo Fidelis  dan hampir jam 12 siang, saat itu panas banget. Terlebih tempat parkir yang lumayan, memaksa kami berjalan ke lokasi.

Efrem El Naraya Kitaro

Tapi memang harus diakui view yang cukup asoyy, meski saat itu mendung menutup sebagian pemandangan, menjadi pantas untuk harga yang dibayarkan. Karena memang tanpa rencana mampir, kami tidak bawa payung, tongsis dan snack.

Partner of Crime

my family..

Sekitar satu jam kami foto-foto dan keliling area Eling Bening, dan karena mendung semakin gelap maka kami lanjut ngurus acara keluarga. Beberapa saat kami keluar dari area parkir, bressss…hujan jatuh. Bahkan sampai sore kami pulang kerumah masih diiringi hujan.

*bersambung..