Rabu, 29 Maret 2017

GUNUNG MERAPI via NEW SELO - CATATAN PERJALANAN SARMILI MOUNTAIN MADNESS

*dear Aro..maafin bapak ya broo, ninggalin kamu naik gunung lagi..
 gara-gara om Akhjad broo..☺


2931 Mdpl New Selo
25 – 26 Maret 2017

Hai Merbabu..mmuuuaahhh

Sabtu, 17 Maret 2017

Setelah sekitar dua bulan pendakian terakhir, dan kebetulan besok seminggu lagi, tanggal 28 Maret 2017 adalah hari kecepit Nasional, satu hal yang ada di kepala... NAIK GUNUNG!!! Belum ada bayangan kemana, yang jelas udah gatel aja pengen naik gunung..Kebetulan saat itu pas bapak-bapak kumpul di rumah saya, nggak tau apa yang jadi pertimbangan, tiba-tiba saya kepikiran ke Merapi. Tahun 2010 pernah saya naik kesana, tapi karena jetlag mudik dari Balikpapansaya gagal muncak. Singkat cerita, karena Anggi sering ngeles kalau diajak ke Merapi, maka saya hanya kontak mas Hari dan Akhjad. 
Oke, sampai hari jumat, saya dealkan briefing ke Akhjad dan Mas Hari teknis untuk besok. Setelah belanja logistik dan sewa alat-alat, Akhjad pulang ke Purworejo nganterin Mbak Yani, istrinya. 

Merapi.. seperti kita tau adalah salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia. Berada di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta, berdampingan dengan Gunung Merbabu. Ketinggian Gunung merapi setelah letusan tahun 2010 ( sesuai dengan literatur yang pernah saya baca ) sekitar 2931 mdpl. Ada beberapa jalur pendakian Gunung Merapi, dan yang paling mainstream dikunjungi adalah jalur via Basecamp Barameru, Desa Telogolele, Boyolali. Lokasi ini juga tidak begitu jauh dengan Basecamp Pendakian Gunung Merbabu via Selo. Tidak adanya sumber air jadi satu peringatan untuk kita agar menyiapkan bekal air yang cukup. Sebagai informasi, saat ini pendakian hanya boleh dilakukan sampai di Pasar Bubrah.



Sabtu, 25 Maret 2017

Pagi, saya dan mas Hari packing sekitar jam 9 pagi. Rencananya dari Purworejo, Akhjad akan langsung ke Sarmili untuk kemudian berangkat bareng. Jam 10 kami sudah selesai packing dan mandi, siap berangkat tinggal nunggu Akhjad. Setelah semua komplit dan Akhjad sudah merapat, jam 12.30 kami berangkat ke Selo. Cuaca saat itu 80% pasti akan hujan, tetapi yakiin aman. Kami berangkat lewat jalur Salatiga – Kopeng – Ketep Pass - Selo  ( 72 km ).

Benar saja, begitu kami sampai di gerbang Kota Salatiga, hujan deras pun turun. Kami terpaksa break. Sekitar satu jam hujan deras, kami berteduh di pinggir jalan sambil nahan lapar karena belum sarapan. Setelah agak reda kami paksakan untuk lanjut pelan-pelan. Hingga sekitar satu jam berikutnya sekitar jam 15.30 kami sampai di Basecamp Barameru, Desa Telogolele, Selo, Boyolali. Saat itu masih gerimis, dan kondisi Basecamp Barameru sangat penuh. Sambil nunggu tempat agak lega, saya ngurus Simaksi dan dilanjut makan.

Bertiga, kami habis 62 ribu untuk ijin dan tambah lagi 5 ribu untuk parkir 1 motor. it's oke sih, cuma petugas loket yang kurang simpatik aja yang bikin males..

Saat itu Anggi nelfon, katanya mau nyusul..alamakkk, dipikir-pikir, mungkin baru jam 7 malem dia sampe sini. Lama kami tunggu kabar, ternyata dia galau juga, kami tinggal naik..hahaha!!! Yakkk, ngeper juga…

akhirnya kami lanjut untuk packing. Dan tepat jam 17.30 kami start.

start pendakian

Basecamp Barameru - Area Parkir New Selo ( 30 Menit )

Trek awal pendakian dari Basecamp Barameru ke Parkiran New Selo berupa jalan aspal kampung, sempit tapi cukup ramai. Dengan trek menanjak, cukuplah untuk pemanasan kami saat itu. Sejenak terlintas kenangan 2010, tetep masih sama..tanjakan ngeri-ngeri sedap sepanjang jalur..

Karena saat itu belum gelap, terlihat Gunung Merbabu begitu cantik nan angkuh tepat didepan kami dengan jalur pendakian yang lumayan jelas terlihat. Cukup keren view Merbabu dari sini. Dari sini juga kita bisa melihat bukit pertama Merapi yang nanti harus kami lewati.
Tepat jam 18.00 kami sampai di parkiran New Selo dengan deretan warung yang masih buka, dan beberapa mobil terparkir disana. Bukan mobil saya..

New Selo

Parkiran New Selo - Pos Gerbang Taman Nasional ( 2072 mdpl )

Tanpa istirahat, kami lanjut jalan. Mas Hari dan Akhjad langsung panas, leading di depan. Sementara saya masih harus menyesuaikan nafas yang mulai berat. Dari sini trek berupa tanjakan melewati ladang penduduk dengan beberapa bagian sudah di paving dilanjut trek tanah solid menanjak. Saya yang masih kepayahan hanya bisa jalan pelan mencoba mengimbangi mereka berdua. Beberapa rombongan kami lewati, dan setelah sekitar 1 jam tepat, terdengar sayup-sayup Adzan Isya', tepat saat itu juga kami sampai di Gerbang Taman Nasional Gunung Merapi. Sudah ada bangunan pos semi permanen, cukup luas untuk beristirahat. Sambil ngejar nafas, kami habiskan satu batang rokok. Cuaca saat itu, kilat mulai kelap-kelip. Ngalamat..


Pos Gerbang Taman Nasional - Pos I Watu Belah ( 2302 Mdpl )

Setelah Adzan selesai, kami berangkat menuju pos I, gelap dan tanjakan terjal mulai mewarnai cerita kami. Kaki dan nafas saya sudah bisa mengimbangi Akhjad dan mas Hari, sendirian saya leading didepan. Beberapa kali saya break untuk menunggu mereka, kebetulan kami bareng sama adek-adek gemes Mapala dari Semarang. Mumpung sudah panas, saya terus leading didepan. Lagi-lagi karena salah ambil jalur ke arah kanan, alhasil sempat nyasar ke jalur buntu. Setelah kembali ke jalan yang benar, ternyata rombongan sebelumnya yang tadinya jauh dibelakang sudah ada tepat dibelakang kami. Sekitar satu jam kami jalan, akhirnya kami istirahat di Puncak bukit yang cukup terlindung meskipun dengan hembusan angin yang cukup kencang karena kanan kirinya jurang. Kami break sambil gantian bawa carrier dan bakar rokok; dua barang yang sama-sama jadi candu untuk saya. Kami jalan lagi, hanya sekitar 10 menit kami sudah sampai di POS I Watu Belah. Penuh pendaki dan tenda. Karena sudah cukup break nya, kami langsung lanjut ke Pos 2.






Area Pos II



Pos I – Pos II ( 2534 Mdpl )

Jalur tanjakan terjal berbatu mulai menantang kami, tanjakan yang sungguh menguras mental dan tenaga. Saya kali ini kebagian bawa tas kecil dan daypack, ultralight hiking, sementara mas Hari dan Akhjad bawa carrier. Ringan langkah kaki dan nafas saya. Posisi masih leading didepan tapi dengan jarak yang rapat. Kebetulan senter mas Hari mati, jadi terpaksa pake flash hp. Sekitar satu jam menderita di jalur ini, hujan seolah nggak mau ketinggalan ngerjain kami. Awalnya kami kira hanya air yang kebawa kabut, tapi lama-lama makin deras. Tepat sebelum benar-benar deras kami sudah siap dengan jas hujan yang sudah terpakai. Kami jalan pelan-pelan berharap hujannya becandaan aja..

Lanjut kami jalan, sesuai rencana kami akan mencoba ke Pasar Bubrah untuk ngecamp disana. Tapi 15 menit kami jalan, Akhjad sudah kepayahan dadanya sesak dan ditambah gerimis yang masih jatuh, kami putuskan untuk nyari lokasi ngecamp sambil jalan.
Setelah dapat lokasi, sempit dan agak miring, tapi yang penting muat untuk dome kami kapasitas 3 orang. Sambil keburu hujan datang lagi, ikat sana ikat sini.. dome is ready!!
Saat itu kami langsung bongkar logistik. 5 menit kemudian teh manis, kopi item dan energ*n siap. Kebetulan dari rumah, istri saya, Agatha, emaknya Aro..nyiapin nasi dan dijalan tadi sempet beli tahu krispy sama krupuk. Sambil ngopi, kami masak mie instan yang juga langsung siap dalam hitungan menit. Kenyang, badan udah di dalem sleeping bag, kebal-kebul isep rokok, diluar tenda hujan..surga duniaahh!!!
Tepat jam 23.00 kami sudah siap balapan tidur, Puji Tuhan.. meski hujan, malam ini Merapi asik.. kami tidur tanpa gerah sampai pagi..

Minggu 26 Maret 2017

Jam 5.30 kami sudah bangun..males karena terlalu pules, tapi akhirnya..mules!!
As always, mules mengalahkan males..!!terpaksa sambil basah-basahan embun dan hujan cari lokasi bombing..
Sementara mas Hari dan Akhjad nyaipin sarapan + anget-anget dan packing untuk summit. Jam 6 baru kami tekatin untuk naik. Tenda kami tinggal dengan hanya bekal air dan barang-barang yang sekiranya berharga. Positip..pagi ini nggak ada sunrise..kabut mesra dan gerimis tipis sepanjang jalur.
Sekitar 10 menit kami jalan, kami sampai di Pos 2. Kami langsung menuju ke Pasar Bubrah. Cerita sebenarnya baru dimulai..




Area Watu Gajah

Pos II – Pasar Bubrah ( 2896 Mdpl )

Dengan semangat ngatttt, kami lewati pos II yang bertaburan warna-warni tenda pendaki. Cukup banyak juga ternyata, pendaki Merapi hari itu. Mungkin karena sepikiran dengan kami – long weekend + cuti bersama. Jalur tanjakan batu semakin curam dan dibeberapa titik memaksa kami harus manjat, hidung ketemu dengkul.. menjadi jalan yang kami lewati. Sekitar 30 menit berselang kami sudah sampai di Watu Gajah, batu besar dengan jalur keatas tanpa vegetasi. Saya yakin pemandangan disini asoy, cuma karena kabut dan gerimis, pemandangan dan spot foto jadi terbatas. Kami lanjut jalan ke atas, berharap nanti pas turun sudah cerah. Sekitar 15 menit nanjak kami sampai di plang Pasar Bubrah tepat di sebelah monumen berbentuk kerucut gunung Merapi. Pemandangan semua putih keruh, Kabut!!
View ke puncak 0%, jarak pandang hanya 10 – 15 meter. Saya sampaikan ke Akhjad dan Mas Hari untuk menunggu perkembangan cuaca. Sangat berbahaya kalau kami tetep nekat naik ke puncak dengan visibility seperti itu. Resiko tersesat akan sangat besar.













Watu Gajah - Pasar Bubrah


BADAI di PASAR BUBRAH

Korban Badai

Di Pasar Bubrah, kami hanya sempatkan foto-foto lautan batu dan kabut sekenanya saja, sampai tiba-tiba...badai datang!!! Tanpa ita-itu, bresss..hujan angin datang, langsung deras tanpa basa-basi. Semakin lama angin semakin kenceng, hujan makin deras. Beruntung, saat itu kami berada di dekat sebuah batu yang cukup besar. Banyak sampah organik disana ( If you know what i mean.. !! ).
Ora urus..Segera kami pakai jas hujan dan berlindung di balik batu. Beberapa tenda roboh, beberapa yang lain kebanjiran karena ternyata tepat berdiri di jalur air dan banyak pendaki lain yang terjebak badai..bahkan banyak dari mereka yang masih berada di punggungan arah ke Puncak. Kepalang basah mungkin..Satu demi satu rombongan basah kuyup nekat turun membelah badai.
Sekitar satu jam kami dipaksa berlindung karena hujan badai yang cukup deras, bahkan jari-jari kaki serasa ditusuk jarum dan wajah terasa kaku menahan dingin.
Setelah hujan reda, meski dengan angin yang masih lumayan kenceng, kami putuskan untuk kembali turun ke tenda. Untungnya sambil jalan, badai pun mereda. Dengan sisa gerimis, kami kembali ke Plang Pasar Bubrah untuk berfoto.
Tidak lama foto-foto, kami putuskan untuk langsung turun ke bawah..beberapa kelompok juga sudah terlihat mulai bergerak turun. Sangat tidak memungkinkan melanjutkan ke Puncak. 

The Mountain is always conquer us..Merapi did it!! Merapi belum ngasih kali ini..cieee Merapii gitu yaa!!!


Pasar Bubrah Merapi 2896 mdpl

Karena kabut juga mulai mereda, cantik angkuhnya Merbabu mulai terlihat dibeberapa titik di sekitar Watu Gajah. Sisi punggungan Merapi dan beberapa puncak bukit dikawasan Merapi dengan bebatuan yang kokoh pun terlihat emejing. Meski Merapi tidak mengijinkan kami berdiri di puncaknya, cukup ramah kok Merapi, semua selamat dari badai dan masih mau ngasih bonus pemandangan dan background foto yang cukup yahutt..

Sekitar jam 9 pagi kami sampai di lokasi tenda kami..aman 86!! Setelah sarapan dan packing logistik + tenda. Jam 10 kami mulai jalan turun ke Basecamp. Sekitar jam 12.40 kami sampai di Basecamp Barameru.

Setelah ambil KTP, beli emblem dan stiker serta makan siang (pake nasi), kami hanya singgah sebentar untuk re packing carrier kami. Jam 14.00 kami berangkat pulang via Boyolali – Salatiga – Ungaran. FYI, jarak rute via Ketep dan Via Boyolali hampir sama, sekitar 70 an Km.
Tanpa hujan dan halangan berarti, akhirnya kami sampai Basecamp Sarmili, Gebugan sekitar jam 16.00 dengan selamat. Anggi menyambut kami dengan senyum kecut..(*)



Bonus track: Badai Pasar Bubrah








Bersambung… 

Senin, 06 Februari 2017

#veryverylatepost - SEGAJAH ISLAND

*nemu foto di laptop

NO PICTURE = HOAX...
Kebetulan malem minggu, buka laptop, nemu foto-foto yang sayang kalo cuma dinikmati sendiri. Selain masih baper juga suasananya, soalnya hp saya ikut rontok gara-gara diving, kecebur di laut. Mungkin juga 10 atau 15 tahun lagi, anak saya butuh referensi kalau mau jalan-jalan..Dan meskipun udah 'basi', sambil ngisi waktu kosong di kerjaan, iseng aja nulis..



PULAU SEGAJAH

Hampir 3 tahun lalu, semasa aktif jadi mining controller  di salah satu perusahaan batubara di Bengalon, Kalimantan Timur, kehidupan sehari-hari kami, para nomads, terlalu membosankan. Selain karena lokasi tambang yang cukup jauh dari kota, keterbatasan hiburan dan terlebih 12 jam kerja sehari, masak, cuci dan segala  macam sendiri. Sistem kerja kami 3 hari shift pagi, 3 malam  dan off day 3 hari. Setiap libur, kami habiskan dengan mancing di rawa dan istirahat. Dibeberapa kesempatan,  kami jalan-jalan ke kota, ikut nginep rumah temen yang kebetulan pulang. Bontang, Samarinda dan Balikpapan..menjadi kota yang paling 'deket' dari area kami.

Boat Captain ☺

Tanggal 2 Maret 2014 ( kebetulan ada di properti foto ), saya kebetulan ikut Wayan yang pulang ke Samarinda. Dan sebelumnya kami sepakat untuk mampir di Bontang tempat temen kami Kipli, dulu dia rekan satu crew  kami tapi sudah resign. Kurang lebih 2 jam kami dengan motor meluncur dari Bengalon ke Bontang. Sebagian besar jalan aspal rusak parah karena mungkin tonase berlebih dan kondisi tanah yang labil. Masuk kota Bontang, ternyata cukup bersih di sepanjang jalan-jalan kotanya. Kebetulan rumah Kipli ini ada dikawasan BK Bontang Kuala. Yang kondang dengan kehidupan pesisirnya.. Rencana kami saat itu, kami akan ngetrip ke Pulau Segajah. Dan sebelum kami berangkat, kami telfon Kipli untuk bisa menyiapkan boat dan keperluan lain untuk ke Segajah. Kipli punya boat yang biasa disewakan.


 Menjelang tenggelam 





Perjalanan ke Pulau Segajah kira-kira 30 menit via boat dari BK. Saat kami sampai sekitar jam 13.00 WITA, masih lumayan luas pulau pasir yang nyembul, meski tidak sampai satu lapangan bola. Proses menuju tenggelam pun sepertinya sudah otewe. Selagi masih bisa, kami puas-puasin main pasir putih di air yang sangat jernih dan hangat.
Saking beningnya air, ikan dan bintang laut pun terlihat. Bahkan Handphone saya juga nggak mau ketinggalan ikutan diving. Karam kaptenn...!!
Karena air sudah mulai naik, cukup banyak sampah kayu lapuk dan rumput laut yang naik ke pulau. Ini nih, karena kelamaan tadi pas berangkat latihan jadi Kapten boat. Dan benar saja, tidak lama kemudian Pulau Segajah udah ilang ketelen air asin..

Sedikit tentang Pulau segajah, pulau ini letaknya sekitar setengah jam naik boat dari BK, lokasinya deket-deket dengan Pulau Beras Basah. Disini orang-orang ( HP juga bisa ) biasa diving & snorkling  karena air disini sangat bening dan ditambah pasir putih bersih yang lembut. Kata orang bentuk dari pulau ini memang mirip gajah, sangat kecil untuk ukuran pulau. Dan saat air laut pasang maka pulau ini akan tenggelam. Karenanya kita hanya bisa menikmati pulau ini saat siang.

that's it..




Selasa, 31 Januari 2017

SEMIRANG WATERFALL 'The Backyard trip" 2016

#THEMBURIOMAHTRACKING




Tanggal 13 November 2016, Saya dan soulmate saya Suakhjad mencoba menyusuri area Taman Nasional di deket Komplek Sarmili. Malam sebelumnya kami dan bapak-bapak Sarmili kebetulan rapat rutin di rumah saya. Dan sementara Pak Yanto dan Anggi menyampaikan usulan ke forum, saya dan Akhjad asik ngobrol sendiri tentang Air Terjun Semirang. Sebetulnya sudah lama kami berencana ke sana. Tetapi karena waktu yang terbatas kami belum sempat dan belum pernah kesana.
Setelah rapat selesai saya ngobrol dengan pak Yanto yang katanya pernah kesana. Jalan dan detail sampai ke lokasi sepintas kami sudah ada gambaran. Bisa googling untuk nyari shortcut jalan kesana.

Pagi 14 November, Jam 5.30 kami sudah siap, dan langsung kami meluncur ke Desa Gogik, sekitar 15 menit dari Komplek Sarmili, kira-kira setengah jam dari Kota Ungaran. Komplek wisata Semirang Waterfall ini dikelola oleh Perum Perhutani, dengan luas kira-kira 10 hektar. Disana, karena loket belum buka maka kami langsung masuk ke area Camping Ground. Kebetulan ada kegiatan Persami salah satu SMA dari Semarang.
Kami langsung tancap ke Lokasi Air Terjun. Sekitar satu jam perjalanan dengan melewati jalan tanah, hutan pinus dan hutan hujan. Teduh dan adem sudah pasti.

Trek ke Semirang

Di beberapa lokasi jalan tanjakan sudah dibangun tangga batu. Sehingga cukup aman, meskipun mengajak anak kecil. Dibeberapa titik juga terdapat bangunan pos kecil, cukup untuk break. Jalannya lumayan lah. Tapi karena kebetulan kami naik bareng adek-adek pramuka yang bikin gemes, jadi tidak terasa kami sudah sampai di Lokasi Air Terjun.








Tinggi air terjun Semirang sekitar 45 meter dan lokasinya tidak begitu luas. Tapi tidak usah khawatir kelaparan. Karena disana ada penduduk lokal yang berjualan di warung semi permanen. Dari air mineral, mie rebus/goreng sampe gorengan ada kok.

Sayang lokasinya masih tidak terawat, banyak tumpukan pohon yang ditebang dan dibiarkan kering gitu aja, masih terkesan seadanya.

Sekitar setengah jam foto-foto sambil nunggu acara Pramuka selesai. Karena harus gantian lokasinya. Kami langsung turun ke basecamp. Sampai di Basecamp kira-kira jam 9.00, petugas loket sudah datang. Tapi karena kami masih termasuk Local Villain  ☺☺ maka gratis....hihi
Ndak nding..karena kebetulan kami kenal sama yang jaga, udah gitu aja..


Kamis, 26 Januari 2017

ELING BENING AMBARAWA

#familyday
*sambungan dari PUNCAK LERENG KELIR..



Malam itu kami kerja bakti bersama bapak-bapak SARMILI masang bronjong yang kami beli siang tadi sampai sekitar jam 12 malam, kebetulan malam itu terang meski tidak cerah..

Minggu pagi, 22 Januari 2017.. Saya, istri dan anak saya bangun pagi untuk ke Gereja dan memang rencana hari itu cukup banyak; jenguk temen yang sakit dan ngurus acara keluarga. Kebetulan kami jenguk temen kami yang opname di RS Ambarawa. Tanpa direncana sebelumnya, kami melalui jalan searah ke Objek Wisata Eling Bening. Dan istri saya, yang memang sudah terlalu sering saya tinggal hiking, ngajakin mampir. Tiket masuk yang lumayan dan terik matahari semula menjadi pertimbangan. Tapi akhirnya, ya udahlah kami mampir, sekalian nyenengin anak istri.




Di gunung kita tampan, di kota kita menawan..


                            me and my broo...

Benar saja, karena lokasinya diatas bukit, tepatnya di samping komplek bong Makam dan komplek Sekolah Katolik Virgo Fidelis  dan hampir jam 12 siang, saat itu panas banget. Terlebih tempat parkir yang lumayan, memaksa kami berjalan ke lokasi.

Efrem El Naraya Kitaro

Tapi memang harus diakui view yang cukup asoyy, meski saat itu mendung menutup sebagian pemandangan, menjadi pantas untuk harga yang dibayarkan. Karena memang tanpa rencana mampir, kami tidak bawa payung, tongsis dan snack.

Partner of Crime

my family..

Sekitar satu jam kami foto-foto dan keliling area Eling Bening, dan karena mendung semakin gelap maka kami lanjut ngurus acara keluarga. Beberapa saat kami keluar dari area parkir, bressss…hujan jatuh. Bahkan sampai sore kami pulang kerumah masih diiringi hujan.

*bersambung..



PUNCAK LERENG KELIR - 1250 mdpl

Sambungan TOP SELFIE...


Sabtu, 21 Januari 2017.. saya dan Akhjad yang memang day off kerja, akhirnya dapet tugas beli bronjong ke daerah Jambu. Saling tajam bertatapan, seolah pikiran kita sama..hahahaa!! Langsung searching spot yang kira-kira bisa kami kesana sambil cari bronjong. Dapatlah di Google; Puncak KelirKeep searching broo.. akhirnya dapet jalur sampe kesana.
Kami pertama cari bronjong. Done..gak susah kok nyari tempatnya. Yang bikin dongkol, bapaknya ndak bisa nganter itu bronjong ke Ungaran. Sambil masih bingung gimana caranya bawa bronjong ke Ungaran, kami berdua langsung cuusss ke Kelir. 

Tanya-tanya sama bapaknya, langsung meluncur ngikuti jalan Semarang - Jogja..deket dan gampang nyarinya kok, setengah jam kemudian kami sampai di Basecamp Kelir. Lokasi Basecamp ini sesuai petunjuk Google ada di Dusun Brongkol, Desa Gertas, Kecamatan Jambu. 

Setelah urusan ticketing selesai, kami langsung start naik. Bayangan saya ya…dari parkiran cuma jalan santai bentar trus sampai. Yang ada kami harus nanjak 2 kilo. Untung di bawah Akhjad sempat beli air. Lumayan juga tanpa carrier kami stabil nanjak sekitar satu jam. Ternyata sepanjang jalur ke puncak banyak warga yang jualan, bahkan ada yang jualan bakso di atas. Menurut warga jalur Kelir ini baru diresmikan awal bulan Januari 2017 ini. Benar saja, masih banyak warga yang sedang membangun warung. Jadi buat kalian yang gatel pengen ke puncak Kelir ndak usah kawatir kelaparan.


                                                   gambar yang ada di Google...

                                           yang kami dapat....kabut!! 1250 Mdpl

Sampai di Puncak Lereng Kelir kami disambut kabut. Sayang banget kami gak dapet view selain kabut. Area puncak ini bisa menampung kira-kira 10 tenda. Di belakang Area Puncak ini ada hutan pinus, tetapi oleh warga di kasih palang, tandanya No Trespass broo... Katanya hutan pinus ini milik Syeh Puji. Siapa Syeh Puji, bisa di cek Google ajah yak.. 
Di hutan pinus ini sebenernya tempat yang luas, pas buat ngecamp. Cukup terlindung dari angin dan sinar matahari.

Suakhjad

Dan karena tidak ada yang jaga, kami nekat nerobos palang dan exploring jauh ke ujungnya. Ternyata ada jalan setapak menyusuri punggungan puncak bukit, jalur tanah lumayan jauh dengan sebelah kiri jurang. Sayang banget karena kabut view nya sangat terbatas. Dari hutan pinus tepat di belakang area Puncak Kelir, kami melewati 4 area hutan pinus lagi sebelum kami sampai di puncak Tertinggi Bukit Kelir 1348 mdpl. Mulai dari sini banyak bonusan dan beberapa tanjakan.

                                       Hutan Pinus disalah satu area Puncak Kelir

Setengah jam kemudian kami sampai dipuncak, kira-kira jam 2 siang, kabut total menutup puncak tertinggi Bukit Kelir. Ternyata di puncak sedang dibangun tempat khusus untuk foto-foto. 


dibawah puncak...

                                                     Golden Sunset???

Sambil ngobrol dengan crew pembangunan yang sedang istirahat, ternyata memang hutan pinus Puncak Lereng Kelir tadi dikasih palang karena di Puncak tertinggi Kelir juga dibangun selfie spot dengan pengelola yang berbeda. 


Istirahat Di Puncak Kelir  1384 mdpl

Karena kabut seolah abadi, maka kami hanya foto-foto sekenanya aja. Dan setelah setengah jam di puncak, kami langsung turun ke Basecamp.  Sempet mampir beli mie rebus, hampir satu jam kami baru sampai di Basecamp. Tanpa istirahat, dengan kaos yang masih basah keringat, kami langsung pulang ke Sarmili.  Tidak lupa ambil bronjong, yang jadi alasan kami sampai di Puncak Kelir, dan sebagai warga yang baik, berdua kami tetep kerja bakti malam itu..

*bersambung...


TOP SELFIE HUTAN PINUS KRAGILAN

#gagalmuncak


Sabtu, 14 Januari 2017, sesuai rencana yang sempat beberapa kali tertunda.. kami berempat berangkat ke Merbabu via Jalur Wekas. Saya, Anggi, Akhjad dan mas Hari SARMILI BROTHERHOOD kembali mencari waktu disela-sela kesibukan kerja kami. Saat itu dari awal, alam seolah udah ngasih kode ke kita dengan ngasih hujan seharian. Tetapi kepalang tanggung, kami semua yakin kalau sampai di Basecamp kondisi cuaca akan berbalik cerah. Harapan tinggal harapan, sejak kami sampai di Basecamp sekitar jam 18.30  sampai sekitar jam 22.00 hujan belum juga reda, yang ada malah di kasih bonus angin kenceng. Akhirnya tanpa berunding lagi, kami sepakat cari posisi, bongkar sleeping bag dan misi kali ini berubah jadi pindah bobok di basecamp sampai pagi.

Pagi itu, Minggu 15 Januari, gerimis masih turun. Untuk mengobati galau karena gagal summit,  setelah cuci muka dan sarapan,  kami langsung start ke pos Makam jalur Wekas. 



Semalem sebelum bobok, kami ngobrol sama pak’e basecamp dan katanya diatas, baru dibangun prasasti tulisan seperti yang lagi hit di objek lain. Karena penasaran itulah kami kepoin naik sampai lokasi. Sekitar setengah jam kami sampai dan ternyata ukuran dari tulisan ‘Merbabu’ itu cukup besar sekitar 3 meteran tinggi. Saat itu baru selesai terpasang huruf M dan E saja. Semoga next time  kami kesini sudah jadi, diberi kelancaran dalam pembangunannya.



TOP SELFIE HUTAN PINUS KRAGILAN

Secukupnya kami foto-foto, karena memang spot foto sangat terbatas. Kami langsung turun ke basecamp.  Sepakat…kami cari objek lain yang sekiranya dekat dan bisa kami mampir. Dari beberapa opsi dan setelah tanya-tanya, kami langsung meluncur ke Top Selfie Hutan Pinus Kragilan.






Lokasi yang mudah diakses dan cukup dekat dengan basecamp, sehingga hanya sekitar setengah jam kami sudah sampai di lokasi. Letaknya di jalan menanjak menuju Gardu Pandang Ketep Pass. Coba googling aja dah, lumayan kok lokasinya.  Adem udah pasti,
instagramable iya, murah juga dapet.


Tidak begitu lama kami menikmati adem khas hutan pinus kami udah langsung cabut pulang. Dijalan kami sempatkan foto-foto di jembatan pinus sebelum sampai di lokasi Top Selfie.




Dah puas..langsung pulang Ungaran. Sampai di Sarmili posisi pas habis hujan, dan kayaknya horror hujannya..karena kami lihat di kali depan komplek begitu berantakan. Serasa abis kena banjir bandang, ternyata bronjong (penahan tebing dari tatanan batu) yang dulu pernah kami pasang ikut terhambur.. bergeser beberapa meter. Sempet speechless juga, heran..padahan itu bronjong isinya batu gede-gede tapi iya, bisa hanyut. Dan sambil berlalu kami sepakat untuk weekend ini kami kerja bakti sama-sama baikin bronjong .... Bersambung


Kamis, 08 Desember 2016

Carrier Seven Summits 55+5 Lt Ibhakara ( Black Gold )



Spesifikasi :

-          - Bahan luxury Cordura Duratex Webbing 
-          - Dobel Frame Alumunium menyilang ( bisa dilepas )
-          - Tali pengatur adjustable
-          - Kapasitas 60 liter
-          - Busa super nyaman ( pundak, punggung, pinggang )
-          - Back system adjustable
-          - Desain simple dan elegan
-          - Tempat air kiri-kanan
-          - Water blader slot
-          -  Harga : 400K





-